Reyna Ananta Wijaya, gadis berusia tujuh belas tahun dengan paras cantik dan karisma yang kuat, dikenal sebagai siswi paling nakal di sekolahnya. Di balik wajah manis dan senyumnya yang menawan, tersimpan sifat pemberontak yang sulit dikendalikan. Ia sering mencari perhatian dengan membully anak baru, memancing keributan kecil hanya untuk mengisi kejenuhannya. Bagi sebagian orang, Reyna adalah gadis yang sulit diatur. Tapi bagi yang mengenalnya lebih dalam, kenakalannya hanyalah tameng dari hati yang belum sepenuhnya mengerti arah hidupnya.
Reyna adalah anak kedua dari pasangan Ronal Nanta Wijaya dan Sania Khalisa, keluarga terpandang di kotanya. Kakaknya,Vivi Anastasia Wijaya, adalah kebalikan dari Reyna—anggun, tenang, dan sudah bertunangan dengan pria mapan pilihannya sendiri. Reyna sering merasa dibandingkan dengan Vivi. Segala sesuatu tentang kakaknya selalu tampak sempurna, membuatnya merasa tertekan.
Suatu sore, Tuan Ronal duduk di ruang tamu bersama seorang pria paruh baya bernama Argadana Putra Nadella, sahabat lamanya semasa kuliah. Mereka membicarakan banyak hal, dari bisnis hingga keluarga, sampai akhirnya pembicaraan berujung pada perjodohan anak-anak mereka.
“Aku punya anak laki-laki, Satya Nadella,” kata Argadana sambil tersenyum. “Sekarang dia sudah jadi guru, sabar orangnya, mapan juga. Aku cuma pengin dia dapet istri yang bisa ngertiin dan nemenin hidupnya.”
Ronal tersenyum lebar. “Kebetulan aku juga lagi memikirkan masa depan Reyna. Anak itu keras kepala, tapi kalau dapet pasangan yang bisa nuntun, mungkin bisa berubah.”
Dari pertemuan itu, lahirlah ide yang mengubah hidup Reyna. Ronal pun mantap ingin menikahkan putrinya dengan Satya setelah Vivi menikah nanti.
Malamnya, saat keluarga mereka berkumpul di ruang makan, Ronal menyampaikan keputusannya.
“Papah dan mamah sudah sepakat,” ujarnya dengan nada tegas. “Setelah kakakmu menikah, kamu akan dinikahkan dengan Satya Nadella.”
Reyna yang sedang menyuap nasi langsung menghentikan gerakannya. “Apa?! Aku belum lulus SMA, pah! Aku nggak mau nikah buru-buru,” protesnya dengan wajah merah padam.
Sania mencoba menenangkan suasana. “Apa salahnya, sayang? Satya itu orang baik. Justru biar kamu punya masa depan yang lebih jelas.”
Reyna berdiri kesal, menatap mereka bergantian. “Ih, nyebelin banget sih. Semua diatur! Aku bukan boneka, mah!” serunya, lalu meninggalkan meja makan dengan langkah cepat.
Malam itu, ia duduk di kamarnya sendirian, menatap langit-langit sambil memikirkan nasibnya. Ia tak habis pikir mengapa orang tuanya begitu mudah memutuskan hidupnya tanpa bertanya dulu.
Keesokan harinya, Vivi mengantar adiknya ke sekolah. Suasana di dalam mobil terasa sunyi. Reyna hanya memandang keluar jendela, melamun sambil menahan rasa jengkel.
“Ngapain bengong gitu? Ntar kesurupan setan loh. Gue buang ke sungai baru tahu rasa,” goda Vivi dengan tawa kecil.
“Apaan sih, Kak. Nggak jelas banget,” Reyna memutar bola mata malas.
“Lu tuh kenapa sih akhir-akhir ini murung?” tanya Vivi.
“Lu enak, bahagia. Lah gue? Gue menderita dipaksa nikah sama orang yang nggak gue suka,” jawab Reyna meninggi. Vivi hanya menghela napas, tidak ingin memperpanjang perdebatan.
Begitu sampai di sekolah, Reyna langsung kembali pada sifat aslinya—tengil dan penuh percaya diri. “Holaaa penghuni kelas yang nggak ada otak!” teriaknya begitu masuk kelas.
Teman-temannya tertawa, menganggapnya bercanda seperti biasa. Tapi suasana berubah saat Keyla, salah satu temannya, datang membawa kabar buruk. Ia menunjukkan layar ponselnya.
“Rey… ini Bastian, kan? Kok dia jalan bareng cewek lain?”
Reyna menatap foto itu lekat-lekat. Benar, pacarnya, Bastian, tengah menggandeng tangan perempuan lain. Seketika darahnya mendidih. “Cowok brengsek!” desisnya, menggenggam ponselnya erat.
Bel masuk berbunyi. Guru wali kelas, Bu Cantika, datang sambil membawa pengumuman. “Anak-anak, sebentar lagi sekolah kita akan mengadakan acara besar. Dua bulan lagi, Pak Satya akan menikah dengan Reyna Ananta Wijaya.”
Suasana kelas langsung hening. Semua mata tertuju pada Reyna yang membeku di tempat duduknya. Beberapa teman menahan tawa, sebagian lagi berbisik-bisik.
Reyna memaksakan senyum. “Hehe… iya, maaf ya guys. Jangan lupa datang, ya,” ucapnya kaku.
Sepulang sekolah, langit mendung berubah menjadi hujan deras. Reyna berdiri di depan gerbang sekolah, menunggu jemputan Vivi yang tak kunjung datang. Air hujan mulai membasahi bahunya ketika sebuah mobil hitam berhenti di depannya.
Jendela mobil terbuka, menampakkan wajah tenang Satya Nadella. “Rey, ikut saya saja. Nanti kehujanan kalau kamu terus di sini,” ucapnya lembut.
Reyna mendengus. “Nggak usah, Pak. Aku tungguin Kak Vivi aja.”
Satya tidak membantah, hanya duduk diam disamping Reyna sambil menunggu. Waktu berlalu hampir satu jam, tapi Vivi tidak juga datang. Reyna mulai menggigil kedinginan.
Akhirnya, ia menyerah. “Yaudah deh, Pak. Tapi jangan ngebut ya,” katanya pelan sambil masuk ke mobil.
Satya menatapnya sekilas, lalu tersenyum tipis. “Tenang saja. Saya bukan tipe orang yang suka terburu-buru.”
Mobil melaju perlahan menembus hujan, sementara di kursi penumpang, Reyna menatap jendela yang dipenuhi tetesan air. Dalam hatinya, ada perasaan aneh—campuran antara benci karena dipaksa dan kagum terhadap sosok Satya yang begitu sabar menemaninya tanpa banyak bicara. Untuk pertama kalinya, Reyna mulai ragu… mungkin, pria itu tidak seburuk yang ia pikirkan.
---
KAMU SEDANG MEMBACA
My teacher my husband-Telah Terbit
Genç KurguKisah cinta Reyna Ananta Wijaya dan Satya Nadella yang terjebak dalam perjodohan yang dipaksakan oleh masing-masing orang tua mereka, dua jiwa yang terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. "Aku tidak bisa menolak perjodohan ini, ayahku sudah memutuska...
