Part 56

179 9 15
                                        

Senja mulai turun, namun Satya masih terduduk lemas di ruang tamu. Wajahnya pucat, matanya sembab. Ia tak tahu harus berbuat apa untuk menyelamatkan Reyna.

"Tuan, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Mbok Sumi lembut.

Satya diam, matanya kosong. Ia tahu, satu langkah ceroboh bisa membuat Reyna dalam bahaya.

"Saya harus mencari Reyna, Mbok. Saya tak bisa membiarkannya sendirian," lirihnya.

Mbok Sumi mengangguk pelan. "Baik, Tuan. Mbok juga akan membantu mencari Nyonya."
Satya menatapnya dengan mata yang basah. "Kita akan menemukan Reyna, Mbok. Aku tak akan biarkan siapa pun menyakitinya."

Tak lama kemudian, pintu terbuka. Bu Rosa berdiri dengan tatapan tajam, wajahnya merah karena amarah dan tangis.

"Bagaimana bisa menantu kesayangan Mama diculik, hah?!" teriaknya.

"Maafkan Satya, Mah. Aku tidak tahu Reyna bisa diculik. Tadi pagi aku ke kantor mengambil berkas. Saat pulang, Reyna sudah tak ada di rumah," jelas Satya terbata.

"Menjaga istri saja kamu tak becus!" hardik Pak Arga yang baru tiba.

"Papah juga di sini?" tanya Satya kaget.

"Satya, Papah heran. Menjaga istri saja tidak bisa," ucap Pak Arga penuh emosi.

"Aku juga tak ingin Reyna seperti ini, Pah! Aku marah dan takut!" jawab Satya menahan tangis.

Sementara itu, Reyna masih terikat dan matanya tertutup kain hitam.
"Tolong... lepaskan aku, aku haus," ucapnya lirih.

Langkah kaki terdengar mendekat. "Nih, minum," ucap suara wanita. Reyna ragu, tapi akhirnya meneguknya.

"Minum saja, air itu tak beracun," ujar wanita itu datar.

Ia duduk di samping Reyna, membawa roti dan buah. "Nih, makan roti ini."

"Untuk apa?" tanya Reyna heran.

"Supaya lo gak mati kelaparan! Udah dikasih baik-baik, malah banyak tanya!" ketusnya.

"Aneh aja, nyulik gue tapi masih dikasih makan," ucap Reyna sinis.

"Karena gue cuma mau Satya! Dengan lo hilang, gak ada lagi penghalang buat gue!" kata wanita itu dengan senyum menyeramkan.

"Yakin banget bisa rebut suami orang?" ejek Reyna.

"Apa pun akan gue lakukan. Kalau gue gak bisa dapetin dia, lo juga gak bakal bisa!" balas wanita itu.

"Maksud lo?"

"Mungkin aja gue bakal lenyapkan Satya," katanya tanpa rasa bersalah.

"Dasar gila!" bentak Reyna.

"Ya, gue gila! Karena Satya lebih memilih lo daripada gue!" teriaknya.

"Tunggu... jangan-jangan lo itu-"
Ucapan Reyna terpotong saat seorang lelaki masuk.

"Bos, suaminya melapor ke polisi. Mereka melacak keberadaan kita," ucap Jack cemas.

"Sialan! Satya selalu saja mengandalkan orang-orang suruhan papanya!" geram wanita itu.

"Riana! Jadi lo pelakunya?!" ucap Reyna terkejut.

Riana tersenyum sinis. "Akhirnya lo ingat juga."

"Dasar jalang!" cibir Reyna.

"Lo yang jalang, Rey!" bentak Riana sambil menjambak rambut Reyna.

"Gue lagi hamil, Riana! Jangan gila!"

"Tadinya gue kasihan, tapi sekarang lo udah tau siapa gue. Jadi gak ada ampun!" teriak Riana.

"Jack! Suruh anak buah lo cambuk dia! Jangan kasih makan sampai gue balik!"

Jack mengangguk. "Baik, Bos." Ia menatap bawahannya.

"Dani, jaga dia. Kalau melawan, cambuk aja."

Dani tampak ragu. "Apa perlu sampai segitunya?"

"Lakuin aja," ucap Jack dingin.

Tiba-tiba seorang wanita muncul di balik pintu. "Aku boleh ikut?"

"Oh, Zee... ternyata kamu di sini," kata Jack gugup.

"Aku ikut cambuk mencambuk juga boleh gak? Lebih seru kalo bareng-bareng," katanya dengan senyum menyeramkan.

Reyna gemetar. 'Ya allah... siapa mereka? Mas, aku takut. Kamu dimana?

Di sisi lain, Satya dan Pak Arga baru keluar dari kantor polisi. Mereka bersiap melacak gedung dan apartemen di sekitar kota.
"Kenapa bengong, Satya?" tanya Pak Arga.

"Aku takut, Pah... takut Reyna kenapa-kenapa."

"Tenanglah, Nak. Papah yakin Reyna dan calon bayimu akan baik-baik saja."

Di perjalanan, Satya menggenggam foto Reyna erat-erat. Semua tempat sudah mereka periksa, tapi hasilnya nihil. Ia nyaris putus asa.

Dua hari berlalu. Reyna belum juga ditemukan. Satya tampak lemas dan tak mau makan.

"Satya, ayo makan dulu, Nak," bujuk Bu Rosa.

"Gak, Mah. Aku yakin Reyna juga gak makan di sana."

Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal:

+62__
Reyna ada bersamaku. Jangan libatkan polisi, atau dia mati.

Satya
Apa maumu? Di mana istriku?! Kirim lokasimu!

+62__
Jangan marah-marah dong, Kalau kamu datang dengan polisi, Reyna mati ditanganku

Satya
Kurang ajar! Jangan sentuh istriku!
Satya mengepalkan tangannya

Beberapa detik kemudian, lokasi dikirim.
Tanpa pikir panjang, Satya bangkit dan mengganti pakaian.
"Kamu mau ke mana, Nak?" tanya Bu Rosa panik.

"Penculik itu kasih alamatnya, Mah!"

"Baik, Mama dan Papa ikut. Kita siapkan polisi."

"Jangan, Mah! Dia mengancam bunuh Reyna kalau aku bawa polisi."

Pak Arga berdiri. "Kamu pergi duluan. Kami akan menyusul diam-diam, biar dia tak curiga."

Satya mengangguk. "Baik, aku setuju. Semoga Reyna tak terluka."

Ia segera masuk ke mobil dan melaju dengan kecepatan tinggi, berharap bisa menemukan cinta sekaligus nyawanya kembali.

My teacher my husband-Telah TerbitCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang