Sore itu suasana terasa tenang. Reyna duduk di teras rumah, menatap jalan yang mulai gelap. Hatinya terasa sedih dan sepi setelah ditinggal sahabatnya. Dari kejauhan terdengar suara klakson, dan tak lama kemudian Satya masuk ke pekarangan rumah.
“Sayang, aku pulang,” ucap Satya sambil tersenyum.
Reyna berjalan menghampiri. “Abang lama sekali, ngobrolin apa sih?” tanyanya manja.
Satya memeluk Reyna. “Ada urusan sama Papa. Kamu kenapa? Baik-baik saja, Sayang?”
Reyna mengangguk. “Iya, cuma sedih aja karena ditinggal sahabatku.”
Satya memeluknya lebih erat. “Aku di sini buat kamu. Aku nggak akan ninggalin kamu.”
Pelukan itu membuat Reyna merasa aman. Mereka lalu masuk kamar, beristirahat sambil bercerita tentang aktivitas seharian. Reyna duduk di pangkuan Satya, kedua tangannya melingkar di leher suaminya.
“Kenapa, hmm? Ada masalah?” tanya Satya sambil membelai rambut Reyna.
“Aku sebel, Abang lama banget, mana nggak bawain jajan,” rengek Reyna.
“Jadi kamu marah nih ceritanya?” goda Satya sambil mencolek dagunya.
“Ya iyalah! Keyla sama Alisa aja kalau datang bawain makanan,” ujarnya sambil menaruh kepala di dada Satya.
“Ya udah, nanti aku belikan, Sayang,” jawab Satya lembut.
Reyna menatap wajah Satya dengan mata sendu. Sejak usia kandungannya lima bulan, ia sering merasa sedih tanpa alasan. Tapi Satya selalu tahu cara menenangkannya.
“Maaf ya, aku belum bisa jadi istri yang baik,” lirih Reyna.
“Kenapa bilang gitu? Kamu istri terbaik. Kamu berarti banget buat aku,” kata Satya menatap lembut.
“Abang cuma bilang gitu biar aku nggak sedih, ya?”
“Enggak. Aku beneran cinta sama kamu, setulus hatiku.” Satya mengecup keningnya.
Reyna tersenyum, merasa tenang. Ia merebahkan diri di kasur, disusul Satya yang berbaring di sampingnya.
“Tidur, Sayang. Aku nggak mau kamu kecapekan,” ucap Satya.
“Belum ngantuk, Abang,” jawab Reyna manja.
“Kalau gitu aku makan dulu, laper,” kata Satya bangkit.
“Aku ikut!” seru Reyna sambil berdiri.
“Pelan-pelan dong, kasurnya sampai ikut goyang,” canda Satya.
“Ih, Abang nih,” protes Reyna sambil manyun.
“Bercanda, Sayang. Mau aku gendong?”
“Gak usah, aku bisa sendiri,” jawab Reyna cepat.
“Ya kan kamu bocil.”
“Iya, bocil yang nikah sama om-om,” balas Reyna pura-pura kesal.
“Hehe, bercanda. Jangan marah terus, nanti cepet tua.”
“Oh, sekarang nyumpahin?”
“Bukan gitu, Sayang,” ucap Satya sambil tertawa kecil. Mereka berjalan menuju ruang makan.
Reyna dan Satya makan malam bersama Bu Rosa.
“Satya, tadi kamu ngobrol apa sama papamu?” tanya Bu Rosa.
“Soal pekerjaan, Mah. Insyaallah bulan depan aku gabung di Argadana Group,” jawab Satya.
“Serius? Kamu nggak keberatan ninggalin profesi guru?”
“Enggak, Mah. Aku mau yang terbaik buat Reyna dan anak kami. Aku nggak mau mereka kekurangan.”
“Syukurlah kalau begitu,” kata Bu Rosa tersenyum.
Reyna hanya menyimak sambil makan lahap. Melihat itu, Bu Rosa ikut tersenyum.
“Pelan-pelan, nanti tersedak,” ucapnya lembut.
“Hehe, iya Mah, enak banget soalnya,” jawab Reyna malu.
Mereka tertawa bersama. Setelah selesai makan, Satya menuju ruang TV.
“Duluan ya, Sayang, aku mau nonton film,” kata Satya.
“Ih curang, remote TV cuma aku yang boleh pegang,” protes Reyna.
“Sudah, jangan berebut. Nanti Mama aja yang pegang,” sahut Bu Rosa sambil tertawa.
Reyna langsung duduk lagi, meneruskan makan malamnya. Setelah selesai, ia menyusul Satya dan duduk di sampingnya.
“Abang, besok di rumah terus nggak?” tanya Reyna.
“Ada dong. Tapi jam dua siang aku mau ajak kamu ke kantor Papa, biar kenalin kamu sebagai istriku,” kata Satya.
“Emm... nggak berlebihan?” tanya Reyna ragu.
“Nggak lah. Emang kamu mau aku digodain cewek-cewek di sana?” goda Satya.
Reyna berpikir sejenak, lalu mengangguk. “Oke, aku ikut. Tapi habis itu aku mau ke rumah Kak Vivi, ya.”
“Oke, siap Sayang,” balas Satya tersenyum.
Mereka menonton film sampai larut malam. Tak terasa sudah hampir jam satu. Satya baru sadar Reyna tertidur pulas di pundaknya.
“Ya ampun, udah tidur ternyata,” gumam Satya sambil tersenyum. Ia lalu membopong Reyna ke kamar dan membaringkannya di kasur. Setelah memastikan istrinya nyaman, Satya pun ikut berbaring di sisinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
My teacher my husband-Telah Terbit
Roman pour AdolescentsKisah cinta Reyna Ananta Wijaya dan Satya Nadella yang terjebak dalam perjodohan yang dipaksakan oleh masing-masing orang tua mereka, dua jiwa yang terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. "Aku tidak bisa menolak perjodohan ini, ayahku sudah memutuska...
