Part 8

602 78 90
                                        

Setelah mengompres kening Reyna, Satya keluar kamar dan menelepon ayahnya. Ia merasa Reyna merindukan orang tuanya karena belum pernah lama berpisah.

“Halo, Pah,” sapa Satya.

“Iya, Nak, ada apa?” jawab Pak Ronal.

“Reyna demam. Sepertinya dia kangen Mama. Bisa ke sini malam ini?”

“Iya, kami ke sana,” jawab ayahnya singkat.

Satya kembali ke kamar. Reyna meringkuk di balik selimut tebal sambil memegangi perut. Satya heran. “Sayang, ada yang sakit selain kepala?”

Reyna lirih menjawab, “Aku sedang datang bulan, Om.”

Satya terkejut. “Apa sesakit itu?”

“Tidak apa-apa, nanti juga reda.” Namun wajah Reyna pucat, air matanya mengalir. Satya mengusap pipinya, lalu mengecup keningnya. “Kalau sakit sekali, kita ke dokter.”

“Tidak usah, aku cuma butuh istirahat. Besok aku izin sekolah ya, Om.”

“Baik, kamu istirahat dulu. Besok saya cari siapa yang mengunci pintu kamar mandi,” geram Satya.

---

Malamnya, Pak Ronal dan Bu Sania datang membawa makanan kesukaan Reyna. Dua minggu berpisah membuat mereka rindu. Reyna bahagia melihat orang tuanya peduli, dan mulai sadar Satya yang dulu keras kini begitu tulus menjaganya.

Satya mendekat. “Rey, Abang mau keluar sebentar. Mau nitip sesuatu?”

Reyna tersenyum. “Tidak, makanan Mama dan Papa masih banyak.”

Satya lega melihat senyum istrinya. Ia pergi membeli kebutuhan Reyna ke minimarket. Saat kembali, ia berseru, “Dek, Abang pulang.”

“Iya, Bang.” Reyna menyambutnya.

“Loh, Mama Papa mana?”

“Sudah pulang. Abang lama sih,” jawab Reyna sambil mengunyah kue.

Satya mengeluarkan belanjaannya. “Ini jamu pereda nyeri haid. Kamu minum ya. Dan ini pembalut untukmu.”

Reyna tertegun. “Baru kali ini ada cowok beliin gue pembalut,” batinnya. Ia hanya bisa tersenyum saat Satya mengguncang pundaknya. “Dek, kok bengong?”

“Tidak apa-apa. Makasih ya, Bang.” Reyna lalu meminum jamu dan kembali bersantai. Satya di kamar hanya bisa tersenyum, menyadari perasaannya mulai tumbuh. Ia takut Reyna terluka dan kesal jika ada yang menjahilinya.

---

Keesokan pagi, Satya mencoba membangunkan Reyna. “Dek, ayo bangun. Sudah pagi.”

“Huaaaam, enam menit lagi ya, Bang,” ucapnya sambil memeluk guling.

Satya menghela napas lalu ke ruang makan. “Dek, Abang ke sekolah. Sudah masak nasi goreng seafood, jangan lupa dimakan,” teriaknya.

Tiba-tiba Reyna berlari. “Bangsat, tunggu!”

Satya melotot, kaget istrinya memanggilnya begitu. “Apa yang kamu bilang barusan?”

“Hehe, maaf Bang. Maksudku Abang Satya, aku singkat jadi bangsat.” Reyna nyengir.

Satya menggeleng. “Untung sayang, kalau tidak sudah kumakan,” ujarnya kesal.

Reyna memeluknya. “Makasih ya, Bang, seharian penuh perhatian sama aku.”

“Itu sudah kewajiban Abang,” ucap Satya sambil mengusap kepalanya lembut.

Satya pun berangkat kerja. Dalam hati, ia bertekad pulang nanti dengan membawa kejutan untuk Reyna, sekaligus mengungkapkan perasaan yang makin kuat padanya.

My teacher my husband-Telah TerbitCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang