Part 46

236 17 56
                                        

Reyna dan Satya sudah kembali ke rumah. Malam itu mereka makan malam bersama, suasana terasa hangat penuh canda dan tawa. Reyna tampak bahagia—bisa melihat baby L sekaligus mengetahui dirinya tengah mengandung.

“Bang, nanti badanku bakal membesar nggak ya?” tanya Reyna polos.

Satya terkekeh. “Yang membesar itu perutnya, bukan badannya sayang.”

“Iya, tapi kalau aku gemuk dan nggak secantik sekarang, Abang masih cinta nggak?” tanyanya.

“Tentu saja. Kamu tetap istriku yang paling kucintai,” ucap Satya lembut lalu mengecup bibirnya.

“Ihhh Abang, kenapa cium di situ sih,” protes Reyna.

“Maaf, bibir kamu menggoda sih,” goda Satya.

“Dasar om-om mesum.”

Satya hanya tertawa. “Udah deh, kamu mau makan apa?”

“Enggak, lagi nggak pengin.”

“Syukurlah, biasanya ibu hamil suka ngidam aneh-aneh.”

“Kalau aku minta sesuatu, Abang bakal nurutin?” tanya Reyna.

“Pasti dong.”

“Aku pengen…” Reyna terdiam, pura-pura mikir.

“Pengen apa?”

“Nanti aja,” jawabnya sambil berdiri dan masuk kamar.

“Sayang, mau ke mana?”

“Ya ke kamarlah, masa mau ke pasar,” balasnya dari dalam kamar. Satya hanya menggeleng sambil tersenyum.

Keesokan harinya, Reyna bersiap-siap ke sekolah. Ia sudah memohon agar Satya mengizinkannya berpamitan pada teman-temannya, dan akhirnya diizinkan.

“Huft, dua hari di rumah sakit bikin kangen suasana sekolah,” gumam Reyna.

“Sayang, udah sarapan?” tanya Satya.

“Udah dong. Mbok Sumi bahkan bawain bekal.”

“Terima kasih ya, Mbok,” kata Satya.

“Dengan senang hati, Tuan,” jawab Mbok Sumi tersenyum.

Namun saat Reyna memakan buah, perutnya terasa mual.
“Hoeek!” ia muntah, membuat Satya panik.

“Sayang! Ya ampun, kamu kenapa? Sudah, nggak usah ke sekolah, aku aja yang wakilin.”

“Ihh Abang, nggak papa kok. Cuma mual sedikit.”

“Biarpun begitu, aku khawatir.”

“Itu wajar, Tuan,” sela Mbok Sumi.
“Wanita hamil memang begitu.”

Satya mengangguk, masih cemas. “Semoga kamu nggak apa-apa ya.”

“Abang jangan lebay, aku nggak suka. Dikit-dikit rumah sakit.”

“Maaf, aku cuma belum berpengalaman.”

“Katanya belum berpengalaman, tapi dulu pernah nikah,” sindir Reyna.

“Denger ya, waktu dia nikah sama aku tuh udah hamil besar, jadi aku nggak tau apa-apa soal masa awal kehamilan.”

“Hmmm ya udah deh. Yuk, berangkat,” kata Reyna lalu melangkah keluar. Satya mengikutinya sambil tersenyum.

Setibanya di sekolah, Satya menuju ruang guru, sedangkan Reyna masuk ke kelasnya.

“Morning gays!” seru Reyna semangat.

“Pagi, Rey!” sahut teman-temannya.

“Eh, kalian kangen nggak sama gue ?”

“Kangen lah! Nggak ada kamu suasananya sepi,” jawab salah satu murid.

“Hehehe jadi baper deh,” kata Reyna sambil tertawa.

“Reyyy!” teriak Alisa dari belakang.

“Lis, bisa nggak sih jangan ngagetin,” kesal Reyna.

“Hehe maaf, liat loceria jadi ikut semangat.”

“Kangen nggak sama gue?”

“Kangen banget! Waktu lo pingsan di kamar mandi, gue panik banget loh.”

“Yaelah, emangnya bisa diatur kapan mau pingsan,” balas Reyna sambil nyengir.

Tiba-tiba Keyla datang sambil berteriak dari pintu.

“Reyyyyy gue kangeeeen banget!” katanya memeluk Reyna erat.

“Dih bego, jangan kenceng-kenceng, nanti anak gue kenapa-kenapa.”

Keyla dan Alisa spontan terdiam.

“ANAK?? Serius?!” jerit Keyla dramatis.
“Sttt jangan berisik, dasar lebay,” Reyna buru-buru menyumpal mulutnya dengan kertas.

“Woi, biasanya juga disumpel donat, kenapa sekarang kertas!” protes Keyla.

“Karena itu yang lagi gue pegang,” jawab Reyna cuek.

“Rey, kok bisa cepet sih? Wah, Satya pasti makin overprotektif,” celetuk Alisa.

“Iya banget, liat aku muntah aja langsung panik suruh rawat inap.”

“By the way, masalah foto cewek yang itu gimana?” tanya Keyla penasaran.

“Yang mana?”

“Yang waktu itu loh.”

“Oooh, itu. Dia mantan istrinya Satya.”

Keyla membelalak. “Hah?! Mantan istri? Bukannya katanya cuma sama Bu Riana?”

“Duh, banyak banget pertanyaan lo. Nanti pas istirahat aja ya aku ceritain,” kata Reyna sambil tertawa kecil.

Suasana kelas kembali ramai oleh tawa mereka, meski di balik senyum Reyna tersimpan rasa canggung. Hidupnya mulai berubah sejak ia mengandung—antara bahagia, takut, dan bingung menghadapi masa depan barunya.

---

My teacher my husband-Telah TerbitCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang