Part 32

296 23 23
                                        

Malam pukul 22:00, hujan turun membasahi jalanan Jakarta. Reyna duduk di ruang TV, menonton film. Di sampingnya, Satya menikmati secangkir kopi hangat. Malam itu begitu damai.

Namun, suasana berubah ketika ponsel Satya berbunyi. Nomor tak dikenal terus mengirimkan pesan, bahkan mengancam akan melukai Reyna.

Satya
Siapa kamu?

+62—
Apa kamu lupa? Kamu memblokir nomorku. Aku Riana.

Satya
Apa maumu?

+62—
Aku ingin kembali bersamamu.

Satya
Mustahil! Aku sudah menikah dengan Reyna, jadi jangan berharap kita bisa kembali bersama.

+62—
Kalau begitu, aku akan merusak kebahagiaan kalian.

Satya geram. Tangannya mengepal hingga Reyna menyadarinya.

“Kamu kenapa, Bang?” tanya Reyna penasaran.

“Tidak apa-apa. Hanya saja… aku ingin kamu jauhin Riana kalau bertemu di sekolah.”

“Kenapa? Bukannya dia baik?”

“Tidak. Dia itu sudah tahu kita menikah dan dia mulai mengancamku.”

Reyna terkejut. Satya lalu menjelaskan masa lalu Riana. Dahulu, Riana pernah bertunangan dengannya. Namun, Riana meninggalkannya demi pria bernama Hendrik, bawahan ayah Satya. Setelah ayah Satya memecat Hendrik karena perselingkuhan itu, rumah tangga mereka hancur.

Riana menuntut cerai, tetapi Hendrik menolak. Tak lama, Hendrik mengalami kecelakaan mobil. Polisi menyebut rem mobil itu sengaja dirusak. Semua orang mengira Hendrik meninggal, padahal ayah Satya yang menyelamatkannya dan diam-diam memberi pekerjaan baru untuk Hendrik.

“Jadi Riana memalsukan kematian suaminya?” ucap Reyna tak percaya.

“Iya, dia wanita gila. Uang dan ambisi membuatnya buta,” jawab Satya.

Reyna menghela napas panjang. “Kasihan Hendrik, tapi aku lebih kasihan sama Abang. Bisa di incar terus sama dia.”

Satya meraih pundak istrinya. “Aku lebih bahagia bersamamu. Kamu itu berbeda, Rey. Kamu tulus.”

“Siluman buaya gombalannya keluar lagi,” goda Reyna sambil tertawa.

Mereka larut dalam canda hingga tengah malam. Reyna akhirnya tertidur di sofa. Satya menatapnya lembut, lalu membopongnya ke kamar. Saat meletakkannya di ranjang, Reyna membuka mata.

“Abang…” suaranya lirih.

Satya menatapnya dekat. “Bolehkah kita mengulang malam itu?”

Reyna tersipu, menenggelamkan wajahnya di dada Satya. “Aku malu.”

“Tapi malam itu kamu yang memintanya sayang.” goda Satya.

“Itu karena aku dipengaruhi obat…” Reyna berbisik gugup.

“Jadi sekarang aku tak boleh memintanya lagi?” ucap Satya sambil mengecup bibirnya.

Reyna memejamkan mata. “Lakukanlah, Bang. Aku tidak akan menolak.”

Malam itu, mereka larut dalam cinta. Hujan di luar menjadi saksi kebersamaan mereka.

---

Pagi hari, Satya bangun lebih dulu. Ia menyiapkan ikan bakar dan makanan kesukaan Reyna. Setelah itu, ia mandi lalu duduk di ruang TV sambil menunggu istrinya bangun.

Tiba-tiba, bel rumah berbunyi. Satya membuka pintu dan mendapati Bu Rosa.

“Lama sekali, kamu lagi apa?” tegurnya.

“Maaf, Mah. Lagi nonton film.” Satya tersenyum canggung.

“Aku mau ketemu menantuku,” ucap Bu Rosa.

“Reyna masih tidur, Mah. Dia butuh istirahat.”

“Kenapa tidur sampai siang? Apa dia sakit?” tanya Bu Rosa panik.

“Tidak, hanya lelah.”

Mereka lalu duduk di ruang TV. Bu Rosa merasa ada yang janggal. Rambut Satya masih basah, dan tubuhnya wangi sampo.

“Ah, mamah tahu! Kalian habis melakukan itu, ya?” ucapnya tiba-tiba.

“Ya ampun, Mah!” Satya terkejut.

“Benar kan? Akhirnya malam pertama kalian terlaksana. Mamah bakal dapat cucu!” Bu Rosa bersorak girang.

Satya berusaha menenangkan ibunya agar tidak terlalu keras bicara. “Reyna masih tidur, Mah.”

Kemudian, pembicaraan mereka berubah serius.
“Reyna tidak terluka waktu diculik pria itu, kan?” tanya Bu Rosa.

“Tidak, Mah. Untung aku datang tepat waktu. Reyna memang diberi obat, tapi belum sempat dinodai. Polisi sudah menangkapnya, dihukum sepuluh tahun.”

Bu Rosa terdiam, lalu menghela napas lega. “Syukurlah. Anak itu biadab sekali.”
Satya mengangguk. “Malam itu aku memang khilaf, Ma. Obat yang bereaksi membuatku tak tahan. Paginya Reyna marah, tapi sekarang… kami sudah berdamai.”

Bu Rosa tersenyum. “Baguslah. Jangan khawatir, Reyna butuh waktu. Yang penting kalian sudah saling mengerti.”

Ia kemudian masuk ke kamar Reyna. Dilihatnya menantunya tertidur pulas, wajahnya tenang. Dengan lembut, Bu Rosa mengelus rambut Reyna. Hatinya lega, sebab kini ia tahu, Reyna perlahan bisa menerima perannya sebagai istri Satya.

My teacher my husband-Telah TerbitCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang