2 BULAN BERLALU
Kini usia kandungan Reyna telah menginjak tujuh bulan. Satya sudah menyiapkan segala hal untuk menyambut kelahiran anak mereka.
Pagi itu, Reyna duduk di teras menikmati udara segar. Saat melihat penjual bakso tahu lewat, ia langsung memanggilnya dan membeli semangkuk. Namun baru beberapa suap, Reyna merasa pusing dan pandangannya gelap. Tubuhnya jatuh pingsan.
Dua pria bertopeng muncul dari arah berlawanan. Salah satu dari mereka memberi isyarat kepada penjual bakso itu untuk pergi sambil menyerahkan amplop tebal berisi uang. Setelah penjual itu berlalu, Reyna diangkat dan dibawa masuk ke mobil hitam. Matanya ditutup kain, tangannya diikat. Tak ada seorang pun yang melihat kejadian itu.
Di dalam mobil, salah satu penculik menelpon seseorang.
“Halo Bos, wanita yang Bos incar sudah bersama kami,” ucapnya.
“Baik, kami segera ke tempat Bos sekarang.”
Beberapa menit kemudian, Reyna mulai siuman.
“Aduh, pusing sekali. Ini di mana? Kenapa gelap?” katanya panik.
“Hai nona manis, jangan takut. Kita akan bersenang-senang nanti,” kata salah satu pria sambil mengelus rambutnya.
“Siapa kalian?! Lepaskan aku!” teriak Reyna ketakutan.
“Diam! Percuma berteriak, tak ada yang akan dengar,” balas pria lain dengan nada kasar.
“Mas Satya! Tolong aku!” jerit Reyna sambil berusaha melawan.
“Jo, lakban mulutnya! Berisik sekali!” perintah pria bertubuh kekar bernama Jack.
“Bos, dia hamil besar. Apa gak berlebihan?” tanya Jo ragu.
“Kalau gak mau ditangkap warga, cepat lakukan!” bentak Jack.
Jo akhirnya menuruti perintah itu. Reyna pun hanya bisa menangis dalam diam, ketakutan dan kebingungan sepanjang perjalanan.
Mereka berhenti di depan sebuah rumah besar bergaya klasik. Di teras, tampak seorang wanita duduk sambil tersenyum puas.
“Selamat datang, Reyna. Gak nyangka hubunganmu dengan Satya bisa sejauh ini, sampai kamu hamil,” ucap wanita itu sinis sambil mengelus perut Reyna.
“Siapa kamu? Apa maumu?” teriak Reyna marah.
“Lupa sama aku? Mentang-mentang sudah jadi keluarga Argadana, sekarang pakai kalung berlian ya?” sindir wanita itu dengan tatapan tajam.
Ia lalu memberi perintah, “Bawa dia ke dalam. Jangan sampai tubuhnya lecet. Aku bayar mahal untuk membawanya ke sini.”
Reyna dibawa masuk ke dalam rumah. Di dalam kamar, wanita misterius itu menghampiri Reyna yang masih terikat dan duduk di tepi ranjang.
“Reyna, aku akan ambil apa yang pernah kamu rebut dariku!” katanya dengan nada tajam.
“Apa maksudmu?” tanya Reyna ketakutan.
“Aku ingin Satya! Aku akan merebutnya kembali darimu,” jawab wanita itu dengan senyum licik.
Reyna gemetar. “Tidak! Aku tidak akan membiarkanmu melakukannya!”
Wanita itu tertawa pelan. “Kita lihat saja nanti, Reyna.”
Sementara itu, Satya panik mencari Reyna di seluruh rumah.
“Reyna! Kamu di mana?” panggilnya berulang-ulang, tapi tak ada jawaban.
Ia keluar ke halaman belakang, memeriksa setiap sudut, bahkan bertanya pada Mbok Sumi dan sopir rumah.
“Mbok, Reyna di mana? Aku punya firasat buruk,” ujar Satya gelisah.
“Maaf, Tuan. Nyonya tadi hanya bilang ingin menghirup udara pagi,” jawab Mbok Sumi.
“Tapi sudah jam dua belas siang dan dia belum pulang! Bukannya sudah kubilang jangan biarkan dia keluar sebelum aku pulang?” seru Satya panik.
“Tenang, Tuan. Mungkin kita bisa cek CCTV,” saran Mbok Sumi.
“Iya, ayo cepat!” kata Satya lalu menuju ruang keamanan.
Saat mereka memutar rekaman CCTV, ponsel Satya berdering. Nomor tak dikenal muncul di layar.
“Halo, siapa ini?” tanya Satya.
Suara di seberang terdengar dingin. “Aku sedang bersama istrimu sekarang.”
Satya langsung tegang. “Siapa kamu?! Kenapa istri saya ada di sana?”
“Tak perlu banyak tanya. Jika ingin dia selamat, datang ke alamat yang kukirim.” Lalu sambungan terputus.
Tut... tut... tut...
“Halo?! Sialan!” teriak Satya sambil mengepalkan tangan.
“Tuan, siapa itu?” tanya Mbok Sumi cemas.
“Saya tidak tahu, tapi Reyna diculik, Mbok. Dia dalam bahaya,” jawab Satya gemetar.
Air mata jatuh dari matanya. Ia merasa gagal menjaga istrinya.
“Ini semua salah saya, Mbok. Kalau saja saya gak pergi ke kantor tadi pagi, mungkin Reyna masih di sini,” katanya lirih.
Mbok Sumi mencoba menenangkan, tapi Satya sudah terduduk lemas di lantai. Wajahnya pucat, matanya kosong.
Ia menatap langit-langit dengan pandangan kehilangan.
“Reyna... tunggulah aku. Aku akan menjemputmu, Sayang.”
KAMU SEDANG MEMBACA
My teacher my husband-Telah Terbit
Novela JuvenilKisah cinta Reyna Ananta Wijaya dan Satya Nadella yang terjebak dalam perjodohan yang dipaksakan oleh masing-masing orang tua mereka, dua jiwa yang terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. "Aku tidak bisa menolak perjodohan ini, ayahku sudah memutuska...
