Semua siswa dikumpulkan di aula sekolah. Pak Kepsek menjelaskan bahwa Reyna dan Satya memang sudah lama menikah. Pernikahan mereka sah di mata agama dan negara, hanya saja tidak dipublikasikan karena keinginan Reyna sendiri.
“Saya yakin Satya terpaksa menikahi Reyna. Dia masih mencintai saya!” bantah Riana lantang.
“Jangan berharap, Riana. Kamu lupa kalau masih berstatus istri orang?” ujar Satya dengan geram.
“Dia sudah tiada, aku ini janda!” balas Riana.
Tiba-tiba Hendrik muncul bersama polisi. “Kalau aku mati, lalu ini apa? Kau sendiri yang memalsukan kematianku, bahkan merusak rem mobilku agar aku celaka!”
Riana pucat pasi. “Itu tidak mungkin! Kau sudah mati!” teriaknya histeris.
Satya menambahkan, “Lihat semua, wanita ini memalsukan kematian suaminya demi menguasai hartanya!”
Para guru dan siswa gempar. “Pihak sekolah tidak butuh guru berhati iblis,” kata salah seorang guru.
Polisi lalu memborgol Riana. Namun ia melawan, mendorong Reyna hingga terjatuh, lalu menggores tangan Reyna dengan pisau kecil.
“AAAKH!” Reyna menjerit kesakitan.
Satya panik, lalu menampar Riana dengan penuh amarah. Melihat Reyna terluka, darahnya mendidih.
“Itu baru permulaan, Reyna! Kau tak akan bahagia!” Riana tertawa puas.
Namun saat mencoba kabur, Keyla melempar buku yang ia pegang ke arah Riana. Riana terjatuh dan polisi segera menangkapnya lalu membawanya masuk ke mobil.
Pak Kepsek menghela napas berat. “Ini memang jalan terbaik. Saya kecewa Riana bisa berbuat sejauh ini.”
Semua murid mendekati Reyna. “Maafkan kami, Rey. Kami tidak tahu sebenarnya Bu Riana seperti itu,” ucap salah satu siswa.
“Tidak apa-apa. Aku paham kalian hanya korban hasutannya,” balas Reyna lemah.
Satya memapah Reyna. “Sayang, tanganmu luka. Kita ke rumah sakit, ya.”
“Tidak usah, Bang. Aku mau pulang saja, biar Mamah yang mengobati,” jawab Reyna.
Pak Kepsek menegaskan, “Anak-anak, jagalah sikap. Jangan ada lagi fitnah tentang Pak Satya dan Reyna.
Di rumah, Satya membaringkan Reyna di kasur. Air matanya jatuh. “Maafkan aku, sayang. Aku takut kehilanganmu.”
“Abang kok nangis? Aku baik-baik saja. Ini cuma goresan kecil,” Reyna mencoba tersenyum.
Satya menggenggam tangannya. “Aku mohon jangan tinggalkan aku, Rey. Aku sungguh mencintaimu.”
Reyna ikut terharu. “Abang jangan nangis, nanti aku juga nangis.”
Tiba-tiba Bu Rosa masuk. Melihat Reyna menangis dan tangannya terluka, ia panik. “Astaga! Satya, jangan bilang kamu yang melukai menantu kesayangan Mamah?”
“Aduh, bukan aku, Mah! Ini ulah Riana!” bela Satya cepat.
“Apa?!” Bu Rosa terkejut.
Satya menjelaskan semua, bahwa Riana menyerang Reyna di sekolah. Bu Rosa murka. “Kurang ajar! Kalau bisa, biar Mamah yang memberi pelajaran untuk perempuan itu.”
“Tenang, Mah. Polisi sudah menahannya,” jelas Satya.
Bu Rosa lalu menelpon dokter langganan keluarga. Tak lama, dokter datang, membersihkan luka Reyna, lalu membalut dengan perban.
“Lukanya tidak parah, hanya butuh perawatan ringan,” jelas dokter.
“Terima kasih, Dok,” ucap Bu Rosa.
Setelah dokter pergi, Satya tetap duduk di samping Reyna, wajahnya penuh khawatir. “Aku masih takut terjadi apa-apa padamu.”
Reyna tersenyum tipis. “Aku baik-baik saja, Bang. Lihat kan, aku masih bisa senyum.”
Sebulan kemudian, kondisi Reyna membaik. Ia kembali ke sekolah dengan tenang, tanpa gangguan. Semua murid kini menghormatinya setelah kebenaran terbongkar.
Di perjalanan pulang, Satya tersenyum. “Sayang, bulan ini kamu ulang tahun. Mau kado apa?”
Reyna berpikir sebentar. “Apa aja deh, yang penting bermanfaat.”
“Baiklah. Aku sudah punya ide,” jawab Satya singkat.
“Oh iya, Bang. Kak Vivi sudah masuk bulan ke-8 kehamilannya,” kata Reyna.
“Benarkah? Aku bahkan tidak sadar sudah sejauh itu,” Satya menanggapi sambil fokus menyetir.
“Nanti kalau kakakku lahiran, boleh kan aku menemaninya di rumah sakit?” tanya Reyna.
“Tentu saja boleh. Kenapa tidak?” Satya mengangguk.
Reyna tersenyum bahagia. Di sepanjang perjalanan, mereka menyusun rencana kecil untuk merayakan ulang tahun Reyna, sekaligus mempersiapkan kado untuk bayi Vivi yang sebentar lagi lahir.
KAMU SEDANG MEMBACA
My teacher my husband-Telah Terbit
Ficção AdolescenteKisah cinta Reyna Ananta Wijaya dan Satya Nadella yang terjebak dalam perjodohan yang dipaksakan oleh masing-masing orang tua mereka, dua jiwa yang terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. "Aku tidak bisa menolak perjodohan ini, ayahku sudah memutuska...
