Satya berusaha keras melawan Jack dan anak buahnya. Tubuhnya lemah dan penuh luka, namun ia tetap bertahan demi menyelamatkan Reyna. Sementara itu, Reyna terus menangis dan berteriak kesakitan. Melihat penderitaan mereka justru membuat Riana tertawa bahagia—meski air matanya ikut menetes.
“Jika aku tak bisa memilikinya, maka Reyna juga tidak boleh. Anak di kandungannya akan aku musnahkan, aku tak ingin melihat wajah anak itu mewarisi wajah Satya,” gumamnya dingin.
“Kamu gila, Riana! Kamu iblis dalam wujud manusia!” teriak Reyna.
Riana tertawa keras. “Hahaha, lucu sekali! Sebentar lagi anakmu akan mati di tanganku!” katanya sambil mengangkat pisau.
Namun tiba-tiba suara sirene polisi terdengar dari luar vila. Pasukan bersenjata mengepung lokasi dan masuk ke setiap ruangan.
“Jack, Jo! Hadang mereka! Jangan biarkan siapa pun membebaskan dua mainanku!” perintah Riana panik.
Saat Jack hendak keluar, polisi sudah mengepung kamar itu.
“JANGAN BERGERAK!” teriak salah satu polisi sambil menodongkan pistol.
Suara tembakan terdengar. Anak buah Riana langsung menyerah dan dibawa keluar satu per satu. Riana yang tak ingin ditangkap, dengan cepat menyandera Bu Rosa.
“Jangan mendekat! Atau wanita tua ini aku bunuh!” ancam Riana, menodongkan pisau ke leher Bu Rosa.
“Lepaskan aku, wanita gila!” teriak Bu Rosa.
“Tidak semudah itu! Suruh semua orang keluar dari sini!” bentak Riana.
Para polisi tetap menodongkan senjata, tak gentar menghadapi ancamannya. Tanpa disadari, Pak Arga sudah berdiri di belakang Riana.
*Bugh!*
Satu pukulan keras membuat Riana tersungkur ke lantai. Pak Arga menjatuhkan balok kayu dari tangannya.
“Kamu nggak apa-apa, Mah?” tanya Pak Arga khawatir.
“Terima kasih, Pah. Aku nggak apa-apa,” jawab Bu Rosa lega.
Polisi segera memborgol Riana dan membawanya keluar. Pak Arga langsung menghampiri Satya dan Reyna yang tergeletak lemah.
“Sayang, bertahanlah,” ucap Satya sambil memeluk Reyna erat.
“Mas… aku bahagia bisa lihat kamu lagi,” bisik Reyna lirih.
“Aku juga, Sayang. Maafkan aku yang nggak bisa cepat menyelamatkanmu.”
Reyna tersenyum samar. “Jangan sedih, Mas. Aku baik-baik aja.”
“Tangan kamu penuh memar, Sayang. Aku tahu kamu kesakitan,” kata Satya menatapnya haru.
“Tidak apa-apa, nanti juga sembuh. Yang penting kita bisa bersama lagi.”
Polisi pun membawa mereka ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.
Dua bulan kemudian...
Satya dan Reyna telah pulih sepenuhnya. Luka-luka mereka sudah sembuh, dan hidup kembali damai. Usia kandungan Reyna kini delapan bulan. Mereka sudah menyiapkan nama untuk anak pertama mereka.
Pak Arga dan Bu Rosa merasa sangat bahagia melihat keharmonisan rumah tangga anak mereka.
Suatu siang, Satya menerima panggilan dari kepolisian.
“Halo, ada apa, Pak?” tanya Satya.
“Pak Satya, kami ingin memberi tahu bahwa tahanan bernama Riana dipindahkan ke rumah sakit jiwa. Dia beberapa kali membuat keributan dan melukai tahanan lain,” jelas petugas.
Satya menghela napas lega. “Baik, Pak. Tidak apa-apa. Saya dan istri sudah melupakan kejadian itu.”
“Baik, terima kasih atas pengertiannya.”
Telepon ditutup. Satya tersenyum lega.
“Mas, kok senyum-senyum gitu?” tanya Reyna penasaran.
“Polisi bilang Riana dimasukkan ke rumah sakit jiwa,” jawab Satya.
“Wah, ternyata dia benar-benar gila, ya,” ucap Reyna heran.
Satya tertawa kecil. “Mungkin kena azab.”
“Ih, Mas!” Reyna mencubit pipi Satya
gemas.
“Aduh, sakit, Sayang,” rengek Satya.
“Makanya jangan ngomong sembarangan,” kata Reyna pura-pura kesal.
“Hehe, iya maaf, Sayangku.”
Reyna tersenyum. “Mas, sore nanti kita jenguk dia, yuk.”
“Hah? Ngapain?” tanya Satya heran.
“Kasihan, Mas. Dia cuma salah jalan buat dapetin kamu. Aku cuma mau lihat keadaannya.”
Satya menghela napas lembut. “Ya sudah, nanti sore aja. Sekarang kamu istirahat dulu, jangan kecapekan.”
“Iya, Mas. Tapi nanti pulangnya kita berburu makanan, ya,” kata Reyna ceria.
Satya tersenyum. “Iya, Sayang.”
Pukul 14.00, Reyna sudah bersiap-siap. Saat ia merapikan diri, Bu Rosa masuk ke kamarnya.
“Kamu beneran mau nengok dia, Nak? Dia kan sudah jahat banget sama kamu,” tanya Bu Rosa sambil duduk di samping Reyna.
“Iya, Mah. Aku kasihan sama dia. Mungkin dia seperti itu karena nggak punya orang tua,” jawab Reyna lembut.
Bu Rosa menatapnya penuh kasih. “Kamu sekarang sudah dewasa, Nak. Kalau Mamah di posisimu, belum tentu bisa sebijak itu.”
Reyna tersenyum. “Aku cuma berpikir, mungkin dia cuma kurang kasih sayang, Mah.”
“Riana memang seperti itu sejak dulu. Dia terlalu tamak, selalu ingin harta dan kemewahan,” ucap Bu Rosa pelan.
“Iya, Mah. Mas Satya juga pernah cerita tentang itu,” sahut Reyna.
“Kalau begitu, Mamah ikut, ya. Sekalian Mamah mau jenguk Alika.”
“Oh, Mbak Alika juga di rumah sakit yang sama, Mah?” tanya Reyna.
“Iya, Nak. Jadi sekalian aja Mamah bawakan kue buat dia.”
“Wah, bagus tuh, Mah. Jadi lebih rame,” kata Reyna tersenyum.
Mereka pun berangkat bersama. Sepanjang jalan, Reyna dan Bu Rosa saling bercerita dengan hangat. Satya hanya tersenyum melihat kedekatan istrinya dan ibunya yang seperti ibu dan anak kandung.
Hari itu menjadi awal baru bagi keluarga kecil mereka—sebuah kehidupan penuh damai setelah badai panjang yang akhirnya berakhir.
---
KAMU SEDANG MEMBACA
My teacher my husband-Telah Terbit
Teen FictionKisah cinta Reyna Ananta Wijaya dan Satya Nadella yang terjebak dalam perjodohan yang dipaksakan oleh masing-masing orang tua mereka, dua jiwa yang terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. "Aku tidak bisa menolak perjodohan ini, ayahku sudah memutuska...
