~1 BULAN BERLALU~
Reyna dan Satya kini hidup damai. Tak ada lagi kabar dari Riana, namun Satya tetap waspada. Ia memperketat keamanan rumah dengan menambah orang kepercayaan ayahnya.
Pagi itu di sekolah, Reyna tengah mengerjakan tugas bersama teman-temannya. Ia memperhatikan Bu Indah yang sedang memberi arahan di depan kelas.
“Bagaimana, ada yang ingin ditanyakan?” tanya Bu Indah.
“Tidak ada, Bu,” jawab siswa serempak.
“Baik, buka halaman 32. Jawab pertanyaan yang baru saja Ibu jelaskan.”
“Baik, Bu,” ucap mereka kompak.
Reyna menatap buku sambil menghela napas. “Duh, pusing banget pelajaran IPA ini, sama aja kayak MTK.”
Keyla menoleh. “Lo mau gue bantu?”
“Boleh. Gue gak ngerti rumus nomor lima.”
“Tapi ada syaratnya,” ujar Keyla dengan senyum nakal.
“Apaan lagi?”
“Traktir gue, gue gak bawa duit.”
“Yaudah, deal,” jawab Reyna pasrah.
Keyla pun menyalin jawabannya dan melempar kertas kecil dari bawah meja. Reyna pura-pura menjatuhkan pulpen untuk mengambilnya.
“Duh, jatuh segala,” gumamnya.
“Ada apa, Reyna?” tanya Bu Indah.
“Eh, gak apa-apa, Bu. Pulpen saya jatuh,” jawab Reyna cepat.
“Oh, kirain ada apa,” sahut Bu Indah kembali fokus ke bukunya.
“Huft, aman,” batin Reyna lega.
Tak lama kemudian, bel istirahat berbunyi.
🔔Triiiing 🔔
“Baik, anak-anak. Jam pelajaran pertama selesai, silakan istirahat. Tugasnya nanti dikumpulkan di ruang Ibu,” kata Bu Indah.
Reyna, Keyla, dan Alisa kini duduk di kantin menikmati es teh manis dan camilan.
“Rey, ada kabar gak dari si ulat keket itu?” tanya Keyla.
“Siapa?” Reyna bingung.
“Itu, mantan pacar suami lo, si bu Riana.”
“Oh, dia. Gak tahu juga, dengar-dengar kabarnya kabur ke luar negeri.”
“Lo harus hati-hati, Rey. Orang kayak dia bisa aja balas dendam. Dulu aja dia berani nyakitin mantan istri Pak Satya sampai gila,” ujar Keyla serius.
“Gila, kok bisa sekejam itu,” kata Alisa ngeri.
“Makanya, jangan bahas dia lagi. Gue malah enek,” potong Reyna.
Namun beberapa detik setelah itu, wajah Reyna berubah pucat. Ia menutup mulutnya, lalu buru-buru berlari ke toilet.
“Woi, Rey, lo kenapa?” teriak Keyla.
Reyna tak menjawab, ia langsung memuntahkan isi perutnya di kamar mandi.
“Key, dia kenapa? Sakit ya?” tanya Alisa khawatir.
“Gak tahu. Takutnya maghnya kambuh. Mending kita kasih tahu Pak Satya aja.”
“Iya, ayo.”
Mereka segera menuju ruang guru.
Tok tok tok.
“Permisi, Pak Satya.”
“Iya, masuk. Ada apa, Key?”
“Itu, Pak... Reyna...”
“Kenapa Reyna?!” Satya panik.
“Dia muntah-muntah di toilet, Pak,” jelas Keyla cepat.
“Apa?! Di mana sekarang?” seru Satya, langsung berlari menuju toilet wanita. Ia mengetuk pintu dengan cemas.
“Sayang, buka pintunya! Kamu kenapa?”
Beberapa detik kemudian pintu terbuka. Reyna tampak pucat dan lemas. Tubuhnya langsung jatuh ke pelukan Satya.
“Ya ampun sayang, kamu kenapa?” ucap Satya panik sambil membopongnya.
“Keyla, Alisa, tolong ambilkan tas Reyna,” perintah Satya.
Keduanya segera kembali ke kelas.
“Kenapa tas Reyna kamu bawa?” tanya Bu Indah yang baru datang.
“Reyna pingsan di kamar mandi, Bu. Pak Satya mau bawa dia pulang,” jawab Alisa terburu-buru.
“Ya ampun, kok bisa?!”
“Mungkin dia gak enak badan, Bu. Permisi ya,” ucap Keyla cepat-cepat.
Mereka menyerahkan tas Reyna pada Satya yang langsung membawa istrinya ke rumah sakit.
Di rumah sakit, Satya mondar-mandir di depan kamar pasien. Tak lama, Bu Rosa dan suaminya datang.
“Bagaimana keadaan Reyna?” tanya Bu Rosa panik.
“Belum tahu, Mah. Dokter masih di dalam,” jawab Satya gelisah.
“Ya Tuhan, semoga Reyna baik-baik saja,” lirih Bu Rosa.
Ponsel Satya berbunyi — pesan dari Vivi.
Vivi
Reyna di mana?
Satya
Dia sakit vi, pingsan di sekolah.
Vivi
Astaga, semoga gak parah. Aku juga mau kasih tahu, aku mau melahirkan sekarang.
Satya
Apa?
Vivi
Iya, tapi dokter bilang kontraksinya kuat. Doakan aku ya.
Satya
Semoga kamu dan bayimu selamat. Aku akan kabari Reyna kalau dia sudah sadar
Vivi
Terima kasih, Satya.
Satya menatap ibunya. “Mah, Vivi akan melahirkan hari ini.”
“Semoga semuanya lancar, Nak,” ucap Bu Rosa penuh harap.
Tak lama, dokter keluar dari ruang Reyna.
“Yang mana keluarga pasien Reyna Ananta Wijaya?”
“Saya suaminya, ini ibu saya, mertua pasien,” jawab Satya.
“Kondisinya hanya kelelahan dan telat makan. Tidak ada yang serius,” jelas dokter.
“Alhamdulillah,” ucap Bu Rosa lega.
Mereka pun masuk ke ruang Reyna. Gadis itu tampak lemah di atas ranjang. Bu Rosa duduk di sisi tempat tidur, menyuapi bubur pelan-pelan.
“Ayo makan dulu, Nak. Mamah udah bilang, jaga kesehatan. Mamah gak tega lihat kamu kayak gini.”
“Maaf ya, Mah... udah bikin panik,” lirih Reyna pelan.
“Gak apa-apa, Sayang. Yang penting kamu sehat,” kata Satya sambil menggenggam tangan istrinya erat.
Satya tersenyum lega, sementara Reyna memejamkan mata pelan—menyadari betapa banyak orang yang benar-benar menyayanginya.
---
KAMU SEDANG MEMBACA
My teacher my husband-Telah Terbit
Teen FictionKisah cinta Reyna Ananta Wijaya dan Satya Nadella yang terjebak dalam perjodohan yang dipaksakan oleh masing-masing orang tua mereka, dua jiwa yang terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. "Aku tidak bisa menolak perjodohan ini, ayahku sudah memutuska...
