Part 57

179 7 0
                                        

Satya tiba di lokasi yang diberikan oleh penculik Reyna. Ia menatap sekeliling vila tua itu dengan waspada. Beberapa pria bertopeng tiba-tiba muncul dan mengepungnya.

“Siapa kalian?” tanya Satya hati-hati.

Salah satu dari mereka tertawa kecil. “Seseorang sudah lama menunggumu, Satya.”

Satya memutar pandang. “Apa yang kalian inginkan? Di mana istriku?”

“Kami bisa saja mengantarkanmu padanya, tapi sayangnya… tidak semudah itu.” Lelaki bertubuh kekar mendekat dengan nada dingin.

Tanpa aba-aba, mereka menyerang. Satya berusaha melawan, namun jumlah mereka terlalu banyak. Saat ia mencoba bangkit, sebuah pukulan keras dari belakang membuatnya terjatuh.

“Arghh!” teriak Satya sebelum pandangannya gelap.

Jack menghampiri, lalu membopong tubuh Satya ke kamar tempat Reyna dikurung.

Reyna terkejut mendengar suara pintu terbuka. Ia ketakutan, mengira yang datang adalah wanita misterius itu.

“Siapa itu?” tanyanya waspada.

“Berisik!” bentak Jack.

“Ma-maaf…” sahut Reyna gemetar.

“Jo, baringkan pria ini di kasur,” perintah Jack.

Jo menurut, meletakkan Satya di ranjang, sementara Reyna yang masih terikat duduk di sofa. Setelah mereka keluar, Reyna menggerak-gerakkan tangannya mencoba melepaskan tali.

“Ih nyebelin banget. Jangan-jangan mereka sindikat jual organ,” gumamnya kesal. “Hei, bangun dong! Siapa pun kamu, cepat bangun, biar kamu bisa bukain penutup mataku.”

Ia tak tahu kalau lelaki yang dibaringkan itu adalah Satya, suaminya sendiri.

Beberapa menit kemudian, Riana datang. “Apakah Satya sudah sampai?” tanyanya pada Jack.

“Sudah, Bos. Kami kurung di tempat yang sama dengan istrinya.”

“Bagus. Kalau dia menolak, cambuk perempuan itu di hadapannya.”

Zee tersenyum sinis. “Biar aku saja yang mencambuknya.”

Jack dan Jo saling pandang, tapi tak berani melawan. Riana berbalik dan pergi dengan senyum licik.

Sementara itu, Pak Arga dan Bu Rosa bersiap menuju lokasi. Polisi dan orang kepercayaan mereka telah disiagakan.

“Pah, aku nggak tenang. Gimana kalau Satya kenapa-kenapa?” ucap Bu Rosa gelisah.

“Sabar dulu, Mah. Papah yakin anak kita bisa menghadapinya.”

“Kalau cuma satu orang mungkin bisa, tapi kalau lebih dari dua? Jangan tunggu mereka celaka dulu, Pah!” sergahnya.

Pak Arga menghela napas. “Baik, kita berangkat sekarang. Tapi kita awasi dulu dari luar.”

Pukul 15.00, Satya mulai sadar. Ia meringis menahan sakit dan duduk perlahan.

“Uh, kepala aku…”

“Hei, kamu sadar? Akhirnya aku punya teman ngobrol!” suara lembut Reyna terdengar dari arah sofa.

“Reyna?” ucap Satya lirih.

“Eh, kok suaranya kayak mas Satya?” batin Reyna.

“Sayang, aku di sini. Tenang ya, Mas akan lepaskan kamu.” Satya segera menghampirinya.

“Ya ampun, kamu juga diculik?” tanya Reyna polos.

“Nggak, aku ke sini karena dapat pesan kalau kamu disekap di sini.” Satya mulai membuka tali tangan Reyna.

Tiba-tiba pintu terbuka. Zee masuk bersama Jo.

“Wah, ternyata sudah sadar,” ucap Zee sinis.

“Mau apa kamu?” tanya Satya tegas.

“Aku? Nggak apa-apa. Tapi dia…” Zee menatap Reyna dengan senyum jahat.

Langkah kaki terdengar mendekat. Riana muncul dengan wajah penuh percaya diri.

“Jangan panik, Sayang. Aku hanya ingin kamu,” katanya genit.

“Riana? Kamu?” Satya menatapnya tak percaya.

Riana tersenyum. “Akhirnya kita bertemu lagi setelah sekian lama. Lihat, aku kembali untukmu.”

Ia memeluk Satya, namun Satya langsung mendorongnya.

“Jangan sentuh suamiku!” teriak Reyna yang berusaha melepaskan diri.

“Diam kau!” bentak Zee.

“Lepaskan istriku, Riana!” Satya mulai emosi.

“Aku akan lepaskan dia… tapi dengan satu syarat.”

“Apa?” tanya Satya tajam.

“Ceraikan dia setelah melahirkan, lalu menikahlah denganku.”

Satya menatapnya marah. “Kamu gila! Aku sudah menolakmu baik-baik, dan sekarang kamu menculik istriku untuk memaksaku?”

“Sttt, jangan teriak. Aku cuma ingin itu saja. Tapi kalau kau menolak, perempuan itu tidak akan hidup bersamamu lagi,” ucap Riana sambil menatap Reyna dengan senyum licik.

“Dasar wanita gila!” hardik Reyna.

Riana tertawa. “Iya, aku memang gila—gila karena mencintai suamimu!”

“Lepaskan dia, Riana! Dasar jalang!”

Tamparan keras mendarat di wajah Riana. Ia menatap Satya dengan mata berkaca.

“Zee! Cambuk wanita itu sekarang!” teriaknya marah.

Tanpa ragu, Zee mencambuk Reyna berkali-kali.

“Berhenti! Hentikan!” Satya berusaha melawan, tapi Jo dan Jack menahannya.

“Biarkan! Biar dia merasakan sakitnya jadi aku! ” seru Riana penuh dendam.

Satya berontak. Dengan cepat ia mengeluarkan ponsel dari saku dan menghubungi ayahnya menggunakan kode singkat.

“Apa yang kamu lakukan?” tanya Jo curiga.

“Tidak ada,” jawab Satya cepat.

Zee terus mencambuki Reyna. Tubuh Reyna melemah, suaranya nyaris hilang. Satya menatap istrinya penuh air mata.

Dalam hati, ia bersumpah akan membalas semua penderitaan yang dialami istrinya malam itu.

---

My teacher my husband-Telah TerbitCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang