Part 20

439 41 98
                                        

Halo guys 😊

Ketemu lagi kita (≧▽≦)
Jangan lupa vote & komen ya ( ꈍᴗꈍ)

Happy Reading (◠‿◕)

---

Hari demi hari Reyna lalui sebagai istri Satya. Perlahan ia mulai menerima Satya sepenuh hati. Namun, sebuah ujian berat kembali datang.

Pagi itu, Kamis, Reyna tak masuk sekolah karena badan kurang enak. Ia duduk di ruang tamu menonton televisi, mengganti-ganti saluran hingga berhenti pada berita utama.

“Telah terjadi kecelakaan beruntun di jalan tol arah Yogyakarta sore tadi, melibatkan tiga kendaraan, salah satunya mobil keluarga berwarna hitam metalik dengan nomor plat….”

Reyna spontan menegakkan tubuhnya. Matanya menatap layar dengan seksama. Gambar mobil ringsek di pinggir jalan membuat dadanya terasa sesak tanpa alasan. Ia menunggu, berharap berita itu segera berganti. Namun justru yang muncul berikutnya membuat jantungnya berhenti berdetak sejenak.

“9 korban dinyatakan meninggal di tempat. Berdasarkan data yang kami peroleh, berikut nama-nama korban warga Jakarta yang tengah dalam perjalanan menuju Yogyakarta.”

Telepon di meja ruang tamu tiba-tiba berdering keras, membuat Reyna tersentak. Tapi tubuhnya membeku. Matanya menatap kosong ke layar TV, bibirnya bergetar. Nama-nama itu... bukan nama asing baginya. Itu nama kedua orang tuanya.

Reyna sempat acuh, hingga matanya terpaku pada layar. Nama kedua orang tuanya tertera jelas di daftar korban. Seketika tubuhnya bergetar.

“Ngga, ini pasti cuma kesamaan nama… tapi semalam Mama dan Papa memang bilang akan lewat tol itu,” gumamnya panik.

Tangan Reyna gemetar menekan nomor Vivi. “Halo, Kak! Mama Papa udah sampai Jogja? Ada kabar nggak?”

Di seberang, suara Vivi pecah menahan tangis. “Dek… Mama dan Papa sudah nggak ada. Mereka kecelakaan di tol.”

Reyna terjatuh ke lantai, dadanya sesak. “Nggak mungkin… Mamaaa, Papaaa!” Ia menjerit, menangis sejadi-jadinya.

---

Tanpa menunggu, ia pergi ke rumah Vivi. Mereka berpelukan erat, sama-sama hancur menerima kenyataan.

“Kak, aku nggak mau ditinggalin Mama Papa,” isak Reyna.

“Kakak juga kehilangan mereka, Dek. Kalau saja mereka nggak berangkat ke luar kota semalam…” Vivi tak kuasa melanjutkan.

“Mereka sekarang di rumah sakit mana?”

“RS Fatmawati. Kita ke sana sekarang. Tapi kamu harus bilang Satya dulu, jangan pergi tanpa izin.”

Reyna mengangguk. Ia sudah mengirim pesan, berharap Satya segera menyusul.

---

Sesampainya di rumah sakit, Reyna dan Vivi masuk ruang jenazah. Tangis mereka pecah melihat kedua orang tua terbujur kaku. Di sisi lain, Satya yang mendapat pesan dari Reyna langsung izin meninggalkan sekolah.

Saat tergesa menuju mobil, Bu Riana mencoba menghentikannya.

“Mas, kamu mau ke mana? Kenapa nggak pernah peduli lagi sama aku?” tanyanya.

Satya menatap tajam. “Mertua saya meninggal. Jangan ganggu saya lagi!.”

Bu Riana terdiam, terpukul oleh dinginnya sikap Satya.

---

Satya akhirnya tiba di rumah sakit. Ia segera meraih Reyna yang menangis pilu. “Sayang, aku di sini,” ucapnya, memeluk erat tubuh istrinya.

Beberapa jam kemudian, jenazah kedua orang tua Reyna dimakamkan. Reyna yang berpakaian serba hitam terduduk lemas di dekat nisan. “Mah, Pah… kalian mau memiliki cucu kan? Kenapa pergi duluan?” tangisnya.

Vivi, yang tengah hamil empat bulan, juga tak kuasa menangis “Mah, Pah… kalian nggak sempat lihat cucu kalian lahir…”

Suasana pemakaman penuh duka. Saat doa dibacakan, Reyna tiba-tiba pingsan.

“Astagfirullah, Reyna!” teriak Vivi panik.

Satya segera menggendong istrinya. “Tenang, Vi. Aku bawa Reyna ke rumah sakit. Kamu jangan terlalu capek, jaga kandunganmu.”

Vivi mengangguk sambil menangis. “Tolong jaga adikku, Satya. Dia masih kekanak-kanakan, tolong sabar menghadapinya.”

“Itu kewajiban saya sebagai suaminya, saya akan jaga dia dengan baik” jawab Satya mantap.

---

Di rumah sakit, dokter menyarankan Reyna dirawat beberapa hari. Satya setia mendampingi hingga akhirnya Reyna sadar.

“Kepalaku sakit banget…” lirih Reyna.

“Sayang, syukurlah kamu udah sadar,” ucap Satya, menggenggam tangannya.

Dengan mata berkaca-kaca Reyna kembali teringat. “Bang… Mama sama Papa…”

Satya menatap lembut. “Mereka sudah tenang di sana. Jangan berlarut dalam kesedihan ya sayang.”

“Bang, kenapa orang yang aku sayang harus pergi? Apa aku nggak berhak bahagia?”

“Sayang, semua yang hidup pasti akan berpulang. Tugas kita hanya mendoakan. Orang tuamu pasti ingin kamu bahagia.”

Reyna menangis di pelukan Satya, merasa sedikit tenang.

Satya mengusap rambutnya. “Udah ya, jangan terus menangis. Kamu juga harus makan. Dari pagi belum makan kan?”

“Aku nggak nafsu, tadi sibuk nonton berita itu.”

“Kalau gitu biar Abang beliin bubur. Tapi janji dimakan, ya?”

Reyna tersenyum tipis. “Aku mau, tapi Abang yang suapin.”

Satya terkekeh, mencium keningnya. “Iya, sayang. Tunggu sebentar, Abang nggak akan ninggalin kamu.”

Tak lama, Satya kembali membawa bubur ayam. Dengan sabar ia menyuapi istrinya yang masih lemah. Meski sedang dilanda duka, Reyna merasa beruntung—setidaknya ia masih punya Satya, lelaki yang kini menjadi sandaran hidupnya.

---

My teacher my husband-Telah TerbitCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang