Part 17

414 47 43
                                        

Sabtu pagi, matahari baru menyapa ketika Reyna menggeliat di ranjangnya. Ia menguap panjang, lalu bangkit dengan malas. Hari ini ada pelajaran olahraga, dan gurunya tidak lain adalah Satya.

“Pagi, tuan putriku,” sapa Satya lembut.

“Pagi juga, bangsat,” jawab Reyna setengah bercanda.

“Masih saja pakai panggilan itu.” Satya menggeleng, meski sedikit kesal.

Reyna menyodorkan senyum kecil. “Bang sudah mandi? Sudah sarapan?”

“Sudah. Aku yang masak nasi gorengnya.”

“Hehe, maaf ya, semalam aku ketiduran.”

“Tidak apa-apa,” jawab Satya.

Tiba-tiba Reyna teringat sesuatu. “Huaaa! Aku lupa! Cireng isi yang kemarin kita beli ke mana?”

“Tenang, sudah aku hangatkan.”

“Horeee!” Reyna langsung kegirangan.

“Dasar bocil. Ayo mandi dulu, nanti terlambat.”

“Siap, Pak Guru.”

---

Selesai mandi, Reyna menikmati sarapan buatan Satya. Ia lahap sekali, bahkan menambah nasi dua kali dan masih menyantap cireng isi.

“Ayolah, sarapan yang banyak, biar nanti olahraga tidak lemas,” kata Satya.

“Iya, Bang. Enak banget masakannya.”

Setelah beberapa suap terakhir, Reyna menatap buku pelajarannya.

“Hmm, kayanya ada PR, tapi pusing ngerjainnya, karna gak paham.”

“Hadeuh, kamu ini kebiasaan. Sini, biar aku kerjakan.”

Satya pun mengisi soal matematika dengan cepat.

“Ya ampun, gampang begini saja tidak bisa, Rey.”

“Rumit banget bang. Aku malas ngitungnya.”

Beberapa menit kemudian, Satya menyodorkan buku.

“Nih, sudah selesai.”

“Sat-set juga ya, ga salah aku punya suami guru” Reyna terkekeh sambil menyeruput jus.

Mereka segera berangkat. Sesampainya di sekolah, Reyna minta turun lebih dulu agar tidak mencolok. Satya parkir di ruang guru, sementara Reyna mampir ke kantin.

“Bu Tejo, pesan roti bakar satu.” katanya sambil mengunyah cireng.

“Oke, sebentar.”

---

Di kelas, Reyna terkejut melihat salab satu teman lamanya.

“Eh buset, lu pindah juga ke sini?” Reyna ngakak melihat Keyla.

“Iya lah. Della dipindah ke pesantren gara-gara ketauan pacaran, gue jadi sendirian, makanya pindah ke sini.”

Reyna menepuk bahunya. “Oke, tidak masalah. Eh, di sini gue punya teman baru loh, kasihan dia suka dibully.”

“Kenapa lu kasihan? Bukannya dulu lu ratu pembully?”

“Sttt ah udah tobat gue. Ogah ngebully lagi gue.”

“Halah, tobatnya lu tuh setelah nikah ya?” ceplos Keyla.

Reyna langsung menyumpalkan roti bakar panas ke mulut Keyla.

“Panas, bego!” teriak Keyla, tapi tetap mengunyahnya.

“Lemes banget mulut lu.”

“Hehe, khilaf beb.”

Tawa mereka terhenti ketika tiga cowok masuk: Galang, Devan, dan Andre.

“Pagi, kesayangannya Galang,” goda
Galang sambil menyentuh dagu Reyna.

“Cih, tidak punya adab,” omel Keyla.

Devan melirik Keyla. “Widih, murid baru ya? Cantik juga.”

“Ya,” jawab Keyla jutek.

“Jutek banget, jadi makin demen gue.”

“Ngaca, muka kayak tutup panci gitu, pede banget.”

Reyna tertawa keras, membuat Devan murka. Ia sampai menendang meja. Tapi Keyla tetap cuek.

“Bodo amat mau ngamuk pun ga peduli.”

Bel berbunyi. Mereka semua bergegas ke lapangan.

---

Di lapangan, siswa-siswi heboh melihat Satya.

“Eh, katanya dia mantan Bu Ana loh.”

“Wah, bisa cinlok lagi nih.”

“Tidak mungkin, Pak Satya sudah punya istri,” timpal Keyla.

“Wah, ko kamu tau sih pak Satya udah punya istri?.”

“Tau lah, gue pindahan dari sekolah yang sama.”

Reyna yang mendengar langsung melirik sinis ke arah mereka yang menggosipi suaminya. 'Apaan sih mereka, kaya gak ada cowo lain aja di dunia ini.'

Pemanasan dimulai. Namun Bianka, siswi yang sering membully, sengaja menyenggol Reyna.

“Woi, biasa aja kali! Jangan senggol-senggolan!” bentak Reyna.

“Gak terima? Sini lu!”

“Sorry, gue gak ada waktu ladeni cewek gak jelas kaya lu.”

Bianka kesal, langsung mendorong Reyna hingga hampir jatuh. Namun Satya dan Galang bersamaan menopang tubuhnya.

Reyna terperanjat. 'Aduh bisa runyam kalau begini urusannya.'

“Rey, kamu tidak apa-apa?” tanya mereka bersamaan.

“Gapapa kok. Tapi bisa lepas nggak? Ini bukan drama India,” bisik Reyna ke Satya. Satya buru-buru melepasnya.

“Ih sayang, kenapa sih nolongin cewek ini?” Ia menarik lengan Galang.

“Yang gak jelas itu lu ya. Main dorong orang aja.” Reyna balik ketus.

Keyla mendekat sambil berbisik, “Astaga Rey, nanti di rumah ada perdebatam nggak ya?”

“Diam lu, kaleng rombeng.”

Mereka kembali melanjutkan pemanasan, lalu bermain basket. Tapi pikiran Reyna melayang. Ia tahu Galang akan terus mendekatinya, sementara Satya, suaminya sendiri, masih saja didekati Bu Riana.

Reyna menatap langit yang cerah, tapi hatinya kusut. 'Tuhan, hidupku makin ribet aja deh, Kenapa sih Galang sama Bu Riana jadi ujian dalam rumah tanggaku. apa aku bisa jalanin ini semua.'

My teacher my husband-Telah TerbitCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang