Keesokan harinya, Reyna sudah diizinkan pulang dari rumah sakit. Namun, ia menolak sebelum melihat kakaknya yang baru selesai operasi caesar.
"Sayang, bajumu sudah aku bawa ke mobil. Yuk, kita pulang," ajak Satya.
"Ah, gak mau! Aku pengen banget lihat Baby L dulu," rengek Reyna manja.
"Tapi kamu harus istirahat, Sayang."
"Cuma satu jam kok, aku kangen Kak Vivi, pengen lihat baby-nya juga," ucap Reyna sambil manyun.
Satya menghela napas. "Hadeuh, satu jam katanya, tapi ya udahlah. Aku gak tega lihat kamu cemberut begitu. Yuk, ke ruangan Vivi."
Mereka berjalan menelusuri lorong rumah sakit hingga sampai di depan kamar Vivi.
"Huaaa Kakak, akhirnya brojol juga ya Baby L-nya!" seru Reyna heboh.
"Sttt! Berisik banget sih kamu," tegur Vivi lemah, wajahnya masih pucat.
"Maaf, Kak, soalnya gemes banget lihat Baby L," ujar Reyna sambil mencubit pipi bayi mungil itu.
"Heh! Anak gue baru lahir, bukan boneka. Jangan asal unyel-unyel pipinya!" protes Vivi setengah bercanda.
Reyna langsung manyun. "Huaaa Kak jahat! Aku cuma pengen lihat doang," katanya sambil menunduk dan memeluk Satya.
"Baru dibentak dikit aja udah nangis," gumam Vivi heran.
"Maklum, Vi. Adikmu lagi sensitif banget," kata Satya sambil menepuk punggung Reyna.
"Lagi haid ya? Kok drama banget," ejek Vivi.
"Huaaa Abang, aku dikatain orang gila!" tangis Reyna semakin menjadi.
"Sudah, sudah, jangan nangis, Sayang. Kalau kamu nangis, nanti Baby L-nya ikut nangis," bujuk Satya lembut.
Reyna langsung diam. Vivi memperhatikan adiknya yang tiba-tiba lembek begitu, merasa ada yang janggal.
"Dia kenapa, Sat?" tanya Vivi pelan.
Satya hanya tersenyum kecil, lalu membuat gerakan tangan di depan perutnya.
"Jangan bilang... hamil?" bisik Vivi kaget.
"Hehe, topcer kan," jawab Satya sambil nyengir bangga.
"Ya ampun, bocil punya bocil!" tawa Vivi pecah.
Reyna langsung memelototinya. "Abang, tuh Kak Vivi jahat banget!"
"Yee, menye-menye amat sih," ledek Vivi lagi.
"Udah ah, aku mau pulang aja. Males di ejek terus," kata Reyna cemberut.
"Ututu, calon ibu muda ngambek nih," goda Vivi.
"Udah, Vi. Jangan ganggu dia terus." ucap Satya.
"Yaudah deh, hati-hati di jalan. Salam buat Mamah ya," ujar Vivi sambil tersenyum hangat.
Reyna menarik tangan Satya. "Yuk pulang, Bang!"
"Iya, iya, sabar, Sayang," jawab Satya lembut.
Di perjalanan pulang, Reyna tertidur pulas. Satya mengatur posisi kepala Reyna agar lebih nyaman. Setelah beberapa menit, Reyna terbangun dan melihat jalanan yang padat.
"Bang, beli es krim yuk," ucapnya sambil mengucek mata.
"Boleh, mau rasa apa?" tanya Satya.
"Terserah, yang penting manis," jawab Reyna sambil tersenyum mengantuk.
"Kalau gitu, sekalian mampir ke toko Mamah ya. Mau?"
"Mau banget! Aku juga kangen sama kue-kue buatan Mamah," jawab Reyna semangat.
Satu jam kemudian mereka tiba di toko kue milik Bu Rosa. Aroma manis langsung menyambut mereka. Reyna meloncat-loncat kegirangan hingga membuat Satya berdehem keras.
"Reyna Ananta Wijaya, bisa jalan yang bener gak?" tegur Satya dengan nada bariton khasnya.
"B-bisa kok..." jawab Reyna gugup.
Begitu masuk, Reyna terpesona dengan harum kue dan es krim homemade yang berjejer rapi.
"Pelayan, tolong buatkan satu cup es krim, ya," kata Satya.
"Baik, Tuan."
Pelayan menyerahkan es krim taro, tapi Reyna langsung mengerutkan dahi.
"Aku gak suka. Tolong buatin semua rasa tapi campur di satu wadah ya," pintanya polos.
Pelayan tersenyum. "Baik, Nona."
Tak lama, Bu Rosa datang sambil membawa toples berisi cookies hangat.
"Woaaah cookies!" seru Reyna langsung mengambil satu.
"Makan sepuasnya ya, Sayang. Kalau mau cake juga boleh," kata Bu Rosa lembut.
"Makasih, Mah. Mamah memang paling the best!" kata Reyna sambil memakan cookies dengan mata berbinar.
Tak lama, es krim pesanan Reyna datang. Warnanya berwarna-warni dan tampak menggoda.
"Yakin itu semua bakal habis?" tanya Satya hati-hati.
"Kenapa? Gak boleh?" Reyna menatapnya tajam.
"Boleh dong. Siapa juga yang larang," jawab Satya cepat, menahan napas.
"Yaudah, jangan banyak protes," balas Reyna dengan gaya jutek.
"Siap, laksanakan," kata Satya sambil cengengesan. *Ngadepin bumil tuh kayak berhadapan sama malaikat maut, salah dikit nyawa taruhannya,* batinnya.
"Abang kenapa melamun? Marah ya?" tanya Reyna memelas.
"Enggak kok, Sayang. Abang cuma lihat toko Mamah, sekarang makin bagus, ya," jawab Satya cepat.
"Kirain ngambek," gumam Reyna sambil kembali menyuap es krim.
Sore itu, setelah puas makan, Satya dan Bu Rosa sepakat untuk menghentikan sekolah Reyna sementara. Ia akan beralih ke 'homeschooling.'
Reyna juga sepakat, karna ia tau bahwa Satya hanya ingin melindunginya. Hidupnya kini berubah total-dari siswi SMA biasa menjadi calon ibu muda yang harus belajar banyak tentang tanggung jawab dan cinta.
KAMU SEDANG MEMBACA
My teacher my husband-Telah Terbit
Teen FictionKisah cinta Reyna Ananta Wijaya dan Satya Nadella yang terjebak dalam perjodohan yang dipaksakan oleh masing-masing orang tua mereka, dua jiwa yang terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. "Aku tidak bisa menolak perjodohan ini, ayahku sudah memutuska...
