Satya kembali ke rumah sakit. Dalam perjalanan, ia sempat mampir membeli buah-buahan segar untuk Reyna. Siang itu matahari bersinar terik, jalanan macet, membuat mobil Satya melaju perlahan. Tiba-tiba handphone-nya berbunyi.
Pesan masuk dari Reyna:
Reyna
Om, di mana?
Satya
Di jalan, ini mau ke situ
Reyna
Lama banget, kayak siput.
Satya
Kenapa, kangen ya?
Reyna
Dih, kepedean.
Satya
Sudahlah, sebentar lagi juga sampai. Jangan banyak ngomel
Satya kembali fokus menyetir. Sementara itu, di rumah sakit, Reyna masih berbaring di ranjang. Ia melirik jam, sudah pukul 13.30, tetapi Satya belum juga datang.
“Ih, ke mana sih? Masak iya macet total,” keluhnya sambil memainkan ponsel.
Tak lama, Satya masuk ke kamar membawa buah-buahan.
“Maaf ya, tadi aku mampir beli buah untuk cemilanmu,” ucap Satya.
“Hm, ya sudah,” sahut Reyna singkat.
“Apa yang tadi dibicarakan sama Pak Kepala Sekolah?” tanya Reyna penasaran.
“Beliau ingin memindahkan aku ke sekolah Taruna Bangsa sebagai guru olahraga,” jelas Satya.
“Apa?!” Reyna terkejut.
“Ssst, jangan teriak. Nanti dibilang aku macam-macam sama kamu,” bisik Satya.
“Ya maaf, soalnya kaget,” gumam Reyna sambil memilih buah.
“Tenang saja, kamu juga bakal pindah sekolah, kok.” Satya mencubit pipi Reyna gemas.
“Ish, jangan cubit-cubit, Om!” kesal Reyna.
“Lucu sih, marah sambil ngemil,” ejek Satya.
Reyna terdiam, batinnya bergemuruh.
'Di sekolah ini saja Satya jadi idola, apalagi nanti jadi guru olahraga. Ih, kesel banget.'
“Hei, kenapa melamun?” tanya Satya.
“Ng-nggak apa-apa,” jawab Reyna gugup.
“Sudahlah, istirahat. Nanti dokter datang periksa lagi.”
“Gamau ah, males tidur,” balas Reyna.
“Ya sudah, terserah.”
Beberapa menit kemudian dokter masuk memeriksa kondisi Reyna. Setelah pemeriksaan, dokter mengatakan Reyna hanya kecapekan dan telat makan. Ia diberi obat dan besok sudah boleh pulang.
---
Keesokan harinya Reyna diperbolehkan pulang. Wajahnya lebih segar, tetapi sepanjang perjalanan ia terlihat melamun.
“Kamu kenapa? Melamun terus dari tadi,” tanya Satya.
“Om beneran pindah sekolah ya? Nanti aku gimana?”
“Oh, jadi itu masalahnya,” Satya tersenyum.
“Iya, emang masalah apa lagi?”
“Kan sudah kubilang, kamu juga ikut pindah. Toh kamu masih kelas 11, jadi tidak masalah,” jelas Satya.
“Hm, ya deh,” jawab Reyna singkat.
“Eh, satu lagi. Ini bukan di sekolah, kenapa masih manggilnya Om?”
“Oh iya, lupa. Hehe. Lagian Abang juga sering bilang *saya-saya* mulu,” Reyna cengengesan.
“Uhh, kamu ini,” Satya gemas lalu mengacak rambut Reyna.
Mereka terus mengobrol hingga tanpa sadar sampai di rumah.
---
Pukul 19.00.
Di rumah, ibu mertua Reyna sibuk menyiapkan makan malam. Sejak pagi ia pergi ke pasar membeli ayam segar dan bahan lain untuk menyambut kepulangan menantu kesayangannya.
Saat Satya dan Reyna masuk, aroma masakan langsung menyeruak. Reyna bahagia melihat sambutan itu, ia memeluk ibu mertuanya dengan antusias.
“Mamaaa, aku kangen!” Reyna langsung memeluk erat.
“Dasar bocil, baru sembuh sudah heboh,” batin Satya sambil menggeleng.
“Wah, makanannya enak-enak nih,” ujar Reyna sambil melirik meja makan.
“Tentu, ini khusus buat menantu mama,” jawab sang ibu.
“Oh iya, mamamu tidak bisa ke sini, Rey. Mereka masih di luar negeri,” sambungnya.
“Tidak apa-apa, Mah. Terima kasih sudah repot-repot,” sahut Reyna.
“Mah, kenapa Reyna saja yang dipeluk? Aku tidak?” protes Satya.
“Kamu itu sudah tua, jangan manja,” ejek sang ibu.
“Hahaha, tuh kan, Mama juga bilang Om tua!” Reyna puas menertawakan suaminya.
“Idih, aku tua-tua juga banyak yang suka,” balas Satya.
“Sudahlah, ayo makan malam dulu,” ajak sang ibu.
Mereka pun makan bersama dengan lahap. Seusai makan, Reyna membereskan piringnya, tapi sang ibu menolak.
“Sudah, biar Mama saja. Kalian istirahat.”
“Tidak merepotkan, Mah?” tanya Reyna.
“Tidak, ayo ke kamar.”
Reyna pun pamit dan naik ke kamar bersama Satya.
---
POV Reyna.
Masih terasa mimpi. Umur baru 17 tahun, tiba-tiba dijodohkan dengan guru paling cuek, tapi sekarang justru perhatian banget. Apa aku bisa jatuh cinta padanya? Tapi dia mulai membuka hati untukku. Ganteng? Lumayan. Tapi kasihan juga, sampai harus dijodohkan dengan bocil sepertiku.
Lamunanku buyar saat seorang pria keluar dari kamar mandi dengan tubuh kekar.
“Ya ampun, aku kira setan yang keluar,” ucapku sambil menepuk dada.
“Hus, sembarangan. Dari tadi melamun terus kamu ni” Satya terkekeh.
“Gapapa, Om, lagi pengen melamun aja” jawabku kikuk.
“Tuh kan, manggil Om lagi,” ucapnya sambil mengeringkan badan dengan handuk.
“Eh iya, lupa,” jawabku sambil nyengir.
KAMU SEDANG MEMBACA
My teacher my husband-Telah Terbit
Fiksi RemajaKisah cinta Reyna Ananta Wijaya dan Satya Nadella yang terjebak dalam perjodohan yang dipaksakan oleh masing-masing orang tua mereka, dua jiwa yang terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. "Aku tidak bisa menolak perjodohan ini, ayahku sudah memutuska...
