Setelah sarapan, Reyna dan Bu Rosa duduk di ruang TV sambil menikmati kue buatan Mbok Sumi. Mereka berbincang tentang perlengkapan bayi dan hal-hal kecil lainnya.
“Rey, kandunganmu sudah empat bulan. Jangan kebanyakan makan pedas, ya. Mamah ingin kamu dan bayimu sehat,” ucap Bu Rosa.
“Iya, Mah. Sejak masuk empat bulan aku sudah kurangi makanan pedas. Sekarang malah suka yang manis-manis, biar gak mual,” jawab Reyna tersenyum.
“Bagus. Jangan lupa juga vitamin dari dokter, harus diminum sesuai aturan,” pesan Bu Rosa.
“Pasti, Mah. Aku gak pernah lupa,” sahut Reyna lembut.
Menjelang pukul satu siang, Bu Rosa kembali ke toko kuenya. Sementara Reyna mondar-mandir di rumah karena bosan menunggu Satya pulang.
“Non, mau Mbok buatkan makanan?” tanya Mbok Sumi ramah.
“Boleh Mbok, aku pengin brownies cokelat lumer,” kata Reyna ceria.
“Baik, Non. Tapi agak lama gapapa?”
“Gak apa-apa Mbok, santai aja,” jawab Reyna sambil duduk di sofa.
Tak lama, Satya pun tiba di rumah.
“Sayang, aku pulang!” seru Satya.
“Lama banget sih, Bang. Aku bosan nungguin kamu,” rengek Reyna.
“Kenapa gak main sama Mochi?”
“Mochi lagi tidur, gak tega ganggu,” jawab Reyna.
“Yaudah, sekarang Abang udah pulang. Gak bosan lagi kan?”
“Lumayan. Tapi Abang gak bawain apa-apa?”
“Hehe, lupa, tadi keburu belok pulang,” kata Satya terkekeh.
“Yaudah deh, gapapa. Mbok lagi bikin brownies buat aku kok,” kata Reyna.
“Baik, Abang ganti baju dulu ya.”
“Mandi sekalian, Bang, bau matahari tuh!” goda Reyna.
“Oke, siap laksanakan!” jawab Satya sambil tertawa.
Beberapa menit kemudian, brownies buatan Mbok Sumi pun matang. Reyna hendak mencicipinya, tapi terdengar ketukan pintu keras dari luar.
“Siapa sih ribut banget? Mbok, tolong lihat siapa yang datang,” ujar Reyna.
Mbok Sumi membuka pintu dan melihat dua gadis muda.
“Halo Mbok, Reyna ada?” tanya salah satunya.
“Nona Reyna di dalam. Kalian siapa ya?”
“Kami teman sekolah Reyna, Mbok. Mau menjenguk dia,” jawab Keyla sopan.
“Oh begitu, tunggu sebentar ya,” kata Mbok Sumi lalu menghampiri Reyna.
“Non, ada dua teman sekolah Non mau ketemu,” lapor Mbok Sumi.
“Pasti Keyla sama Alisa,Suruh masuk aja, Mbok,” kata Reyna semangat.
Begitu masuk, Keyla langsung memeluk Reyna.
“Rey, apa kabar? Huaaa Kangen banget!”
“Aku baik-baik aja. Kalian gimana di sekolah?” tanya Reyna.
“Sepi banget, gak seru tanpa lo,” keluh Keyla.
“Iya, Rey. Gak ada yang bikin heboh,” tambah Alisa.
“Bang Satya gak bilang kalau kalian mau datang,” kata Reyna.
“Mungkin lupa, hehe. Nih, kita bawain cemilan buat lo,” kata Keyla sambil menyerahkan kotak kecil.
“Wah, makasih ya! Aku senang banget kalian datang.”
Mereka tertawa dan ngobrol seru. Alisa memegang perut Reyna pelan.
“Wah, udah makin besar aja perut lo, Rey.”
“Hehe iya, ini udah jalan lima bulan,” jawab Reyna.
“Lo pasti deg-degan ya. Tapi gue yakin lo kuat,” kata Keyla memberi semangat.
“Aamiin, semoga nanti lahiran lancar,” ucap Reyna tersenyum.
Tak lama, Satya turun dari kamar.
“Wah, ada Keyla dan Alisa ternyata,” katanya ramah.
“Hehe iya, Pak. Kami cuma main sebentar,” kata Alisa.
“Silakan, rumah ini selalu terbuka buat kalian,” ucap Satya sopan.
“Bang, rapi amat. Mau ke mana?” tanya Reyna curiga.
“Papah nelpon tadi, suruh ke kantor sebentar.”
“Yaudah, hati-hati di jalan, Bang,” kata Reyna sambil menyalami tangan suaminya.
Setelah Satya pergi, Reyna dan kedua sahabatnya bersenang-senang di halaman belakang. Mereka membuat kue bersama sambil bercanda.
Tak lama kemudian, Bu Rosa pulang dari toko kue.
“Rey, mamah cari-cari, ternyata di sini,” katanya sambilmendekat.
“Maaf ya, Mah. Keasyikan ngobrol sama mereka,” jawab Reyna.
“Gak apa-apa. Mamah malah senang kamu kelihatan bahagia,” ucap Bu Rosa tersenyum.
“Mah, sini gabung yuk. Kita bikin banyak cemilan.”
“Mamah kenyang, Nak. Lanjutkan aja ngobrolnya. Mamah istirahat dulu, ya.”
“Baik, Mah. Selamat istirahat.”
Bu Rosa pun masuk ke rumah, sementara Reyna, Keyla, dan Alisa melanjutkan obrolan sambil tertawa riang. Reyna merasa seperti kembali ke masa sekolah—penuh canda dan tawa.
Menjelang senja, jam menunjukkan pukul enam sore.
“Rey, kita pamit dulu ya. Besok harus sekolah,” kata Keyla.
“Sering-sering main ke sini ya,” kata Reyna tersenyum hangat.
“Pasti dong. Makasih ya Rey, udah mau nerima kita,” ujar Alisa.
“Aku justru senang banget bisa ketawa bareng kalian lagi,” jawab Reyna tulus.
“Bye, Rey! Sehat-sehat ya, Bumil cantik!” teriak keduanya sambil tertawa.
Setelah mereka pergi, Reyna berdiri di teras memandangi mobil yang menjauh. Senyum di wajahnya perlahan memudar. Ada sedikit rasa sepi yang tiba-tiba menyelinap di hatinya.
Ia memegangi perutnya, lalu berbisik lembut,
“Gak apa-apa, Nak… Selama ada kamu di sini, Mama gak akan kesepian lagi.”
---
KAMU SEDANG MEMBACA
My teacher my husband-Telah Terbit
Teen FictionKisah cinta Reyna Ananta Wijaya dan Satya Nadella yang terjebak dalam perjodohan yang dipaksakan oleh masing-masing orang tua mereka, dua jiwa yang terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. "Aku tidak bisa menolak perjodohan ini, ayahku sudah memutuska...
