Malam perlahan menelan langit kota. Reyna masih terbaring di rumah sakit, tubuhnya lemah, kepala berdenyut seolah dihantam ribuan jarum halus. Selang infus menusuk kulit tangannya, sementara lampu kamar yang redup membuat suasana terasa semakin muram.
Di ruangan berbeda, Satya duduk berhadapan dengan dokter, wajahnya serius penuh kekhawatiran.
“Jadi gimana dok, apa istri saya bisa cepat pulih? Apa ada penyakit serius?” tanyanya, suaranya berat menahan cemas.
Dokter menarik napas sebentar lalu berkata, “Sepertinya tidak ada yang berbahaya. Reyna hanya terlalu lelah, kurang makan, ditambah tekanan batin karena kepergian kedua orang tuanya. Itu yang bikin tubuhnya drop. Saya sudah kasih resep obat, mungkin besok sudah membaik, dan lusa bisa pulang.”
Satya menunduk lega. “Syukurlah… tapi benar gak ada masalah serius, dok?”
“Mudah-mudahan tidak, Pak. Istri Anda hanya terlalu terpukul.”
Satya mengangguk. “Iya dok, saya memang khawatir sekali.”
🌻🌻🌻
Jam digital di kamar Reyna menunjukkan pukul 00:00. Malam terasa sunyi, hanya suara mesin infus dan detik jam dinding yang terdengar. Reyna terlelap, tapi tiba-tiba matanya terbuka. Ia mendengar suara gaduh dari luar kamar. Riuh langkah kaki, teriakan panik, dan suara orang berkerumun.
“Ada apa sih… kenapa berisik banget?” gumamnya sambil mengucek mata.
Ia berusaha bangkit, menarik tiang infusnya, lalu melangkah keluar kamar dengan tubuh goyah. Kata hatinya mendesak untuk mencari tahu. Lorong rumah sakit gelap dan dingin, cahaya lampu neon terasa menusuk mata. Reyna terus berjalan sampai akhirnya melihat banyak orang berkumpul di depan pintu masuk.
Penasaran, ia maju ke kerumunan.
“Nak, kamu pasien kan? Kok keluar jam segini?” tegur seorang ibu paruh baya.
Reyna menggeleng. “Saya cari suami saya, Bu. Tadi dia bilang mau ke ruang dokter, tapi gak ada. Terus saya dengar ribut-ribut, jadi ikut ke sini.”
“Sudah malam, Nak. Lebih baik kembali ke kamar. Mungkin suamimu ada urusan di luar.”
Reyna menatap ke arah kerumunan. “Tapi Bu, rame banget. Ada apa sih?”
“Ada tabrak lari. Korbannya laki-laki,” jawab ibu itu lirih.
Reyna terperangah. “Ya Tuhan… kasihan banget.”
Belum sempat ia bergerak, suara dokter dari tengah kerumunan membuat darahnya membeku.
“Cepat bawa pasien bernama Satya Nadella ke ruang tindakan! Detak jantungnya sudah berhenti!”
Deg.
Tubuh Reyna gemetar hebat. Ia menoleh, dan melihat jelas tubuh seorang pria penuh darah diusung masuk. Wajahnya rusak berlumuran darah, tapi Reyna tahu betul siapa dia. Itu Satya. Suaminya.
“Tidak… TIDAKKK!!! Abang!!!” Reyna berteriak histeris, mencoba berlari menghampiri.
Satya tergeletak, tubuh penuh luka, wajah hampir tak bisa dikenali. Reyna menjerit, air matanya tumpah tanpa henti.
“Abang janji gak bakal ninggalin aku! Kenapa sekarang? Aku gak sanggup hidup sendirian lagi!”
Isak tangisnya pecah, menggema di lorong rumah sakit.
Tiba-tiba, suara lain terdengar samar.
“Reynaaa… Reyna, sini… aku di sini…”
Reyna menoleh dengan tubuh bergetar. “Siapa… siapa kamu?”
Sreeek… sreeek… terdengar gesekan tajam. Dari ujung lorong, ia melihat sosok gelap sedang menusuk seseorang berulang kali. Darah menyebar di lantai, bau anyir menusuk hidung.
“Aaaaaahhh!!” Reyna menjerit. Kakinya kaku, tubuhnya membeku. Sosok itu perlahan menoleh padanya, lalu berjalan mendekat, pisau berkilat terangkat tinggi.
“Aaaaaakh tidak!!”
Reyna terbangun dengan teriakan. Nafasnya terengah, jantung berdetak liar, keringat dingin menetes dari kening. Ia menatap sekitar dengan panik, tak yakin masih di dunia nyata.
Tiba-tiba pundaknya ditepuk seseorang.
“Tidak! Lepaskan aku! Jangan bunuh aku!!” Reyna meringkuk ketakutan.
“Sayang, tenang… ini aku, Satya,” suara lembut itu menenangkan.
Reyna menoleh, tubuhnya masih bergetar. “A-abang? Tapi tadi… abang kecelakaan… abang udah gak ada…”
Satya menghela napas. “Apa maksudmu? Aku baik-baik aja. Kamu cuma mimpi buruk, Rey.”
Air mata Reyna mengalir deras. Ia memeluk Satya erat-erat.
“Mungkin itu cuma mimpi. Aku janji gak akan ninggalin kamu.”
Reyna terisak. “Aku mohon, jangan pergi. Cukup mama sama papa yang ninggalin aku…”
Satya mengusap rambutnya. “Aku gak akan tinggalin kamu. Aku gak pernah nyesel nikah sama kamu. Aku bakal selalu ada buat kamu.”
Tangis Reyna makin pecah. Trauma kehilangan orang tua membuatnya dihantui mimpi buruk. Ia takut sekali kehilangan Satya juga.
“Sudah ya, minum obat dulu biar tenang,” kata Satya sambil menyodorkan obat.
Reyna menuruti, lalu berbaring lagi. Tangannya menggenggam erat tangan Satya, seakan tak mau dilepas.
Satya hanya bisa mengelus rambut istrinya, menatap wajah yang masih basah air mata. Hatinya perih melihat Reyna selalu diliputi rasa takut. Dalam hati ia berjanji, apapun yang terjadi, ia takkan pernah meninggalkan Reyna.
KAMU SEDANG MEMBACA
My teacher my husband-Telah Terbit
Teen FictionKisah cinta Reyna Ananta Wijaya dan Satya Nadella yang terjebak dalam perjodohan yang dipaksakan oleh masing-masing orang tua mereka, dua jiwa yang terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. "Aku tidak bisa menolak perjodohan ini, ayahku sudah memutuska...
