52: Mencoba Memperbaiki

956 158 38
                                        

Terhitung sudah 3 hari lamanya Joanna dirawat di ruang ICU. Tidak ada aktivitas lain yang ia lakukan selain hanya berbaring, ketiduran, melek sebentar lalu ketiduran lagi. Selama di ICU hawanya benar-benar mengantuk, entah efek dari kondisinya yang belum stabil atau memang Joanna yang nyaman di dalam sana.

Pagi hari ini ia dipindahkan ke ruang rawat inap, Joanna tidak tau mau sampai kapan dia dirawat seperti ini. Harus berbaring sampai bosan dan ketiduran, rutinitas membosankan yang hampir ia alami setiap bulan. Kadang Joanna miris dengan biaya yang musti orang tuanya keluarkan hanya untuk memperpanjang masa hidupnya itu.

Ngomong-omong Joanna belum tau jika kedua orang tuanya ada di luar. Belum tau juga reaksi apa yang akan dikeluarkan Joanna jika bertemu dengan mereka karena belum dicoba, dokter menunggu setidaknya sampai kondisi Joanna membaik dan bisa keluar dari ruang rawat intensif.

"Udah lama, Dok. Tapi dulu saya masih bisa kontrol sekarang suara itu yang ngontrol saya," cerita Joanna.

"Ada gejala lain? Seperti halusinasi?"

Joanna mengangguk. "Kadang susah bedain mana yang beneran terjadi dan mana yang cuman halusinasi." Mata Joanna menatap lantai dengan pandangan kosong.

"Saya gak gila kan?" tanya Joanna masih dengan matanya yang kosong.

"Jo lihat saya," titah dokter Naufal.

"Ada nggak orang yang pengin kamu temuin?" dokter mencoba memancing Joanna.

Joanna menggeleng.

"Kamu mau nggak ketemu sama orang-orang yang deket sama kamu, keluarga kamu..." ujar dokter Naufal penuh kehati-hatian.

"Aku nggak deket sama keluarga dan keluarga aku cuman Jazz," jawab Joanna datar.

"Kalau semisal Mama sama Papa pengin ketemu, kamu mau nggak ketemu mereka?"

Joanna terdiam berusaha mencerna pertanyaan dokter Naufal. Joanna menatap manik kembar dokter Naufal yang terlapisi kacamata, alis Joanna sempat mengkerut lalu kembali datar dengan hembusan napas kasar setelahnya.

"Enggak." jawab Joanna.

"Jo," panggilnya.

"Pasti ada banyak sekali yang sedang kamu pikirkan, kamu nggak perlu mikirin semuanya."

"Kamu kangen kan sama Mama? Sama Papa?" tanya dokter Naufal.

Jantung Joanna mulai berdetak cepat. Joanna menggeleng menuruti otaknya yang memutar memori kelam. Namun Joanna tidak mendengar isi hatinya yang jauh berteriak bahwa sejujurnya ia merindukan keluarga yang utuh itu.

"Saya panggilin mereka masuk ya, kamu mau ya ketemu mereka. Mereka udah nemanin kamu dari kemarin, mereka khawatirin kamu," hanya dokter Naufal yang berani membuat Joanna mengingat orang tuanya, bahkan Jazzki sendiri tidak berani, Jazzki tau jika Joanna bisa kena serangan panik tiap bertemu orang tuanya sendiri, namun kali ini dokter Naufal berani mengambil resiko.

Kening Joanna berkerut dalam.

"Jo, it's okay... nggak papa... mereka orang tua kamu kok," dokter Naufal mengambil punggung tangan Joanna yang terasa dingin. Kemudian ia menaruh punggung tangan anak itu tepat di atas dada.

"Ambil napas panjang.... tahan sebentar, hembuskan..."

"Udah siap?"

Joanna menggeleng.

"Jo, ada Jazz di sini, kalau terjadi sesuatu sama kamu Jazz akan panggil saya. Kamu nggak akan kenapa-napa," ujar dokter Naufal.

"Bukan masalah itu," jawab Joanna.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 02 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

JAZZKI & JOANNACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang