51: Depresi

770 114 9
                                        

Jazzki syok hingga tidak sadarkan diri. Dari awal percakapan melalui telepon, dokter Naufal sudah menduga jika kondisi anak itu tidak baik. Betapa terkejutnya dokter Naufal menemukan Jazzki dan Joanna tergeletak di ruang tempat penyimpanan barang yang sudah tak digunakan, gudang.

Awalnya sudah dicari ke kamar, namun tidak ada sahutan sehingga dokter Naufal terus menghubungi ponsel Jazzki. Sambungan sempat terhubung kembali, hanya sepatah kata yang keluar dari mulut Jazzki dan setelah di cek di lokasi anak itu lemas sekali. Kesadarannya timbul tenggelam ketika dokter Naufal melakukan pertolongan kepada Joanna terlebih dahulu.

Tali yang menjuntai ke bawah seolah hampir terjadi peristiwa yang tak diinginkan membuat dokter Naufal khawatir dengan kondisi mereka berdua. Tanpa berpikir panjang lagi, dokter Naufal membawa mereka ke rumah sakit, melakukan CPR kepada Joanna sebelum ia angkat anak itu masuk ke dalam mobil pribadinya.

Denyut jantungnya begitu lemah, nafasnya pendek dan dengan gerakan cepat dokter Naufal berusaha menemukan alat bantu pernapasan di rumah itu.

"Jo... Jo di mana?" Jazzki membuka mata, ingatan pertamanya langsung tertuju pada Joanna.

"Jo..." Jazzki mengedarkan pandang, kebingungan dengan tempat di mana dia berada sekarang.

Tidak ada siapapun di dalam ruangan.

Jazzki menurunkan kakinya hendak menapak ke lantai. Mendadak perhatiannya terkecoh dengan sensasi aneh yang terasa di tangan kirinya.

Infus.

Jazzki terdiam sejenak, berusaha mencerna apa yang terjadi dengan dirinya.

Ia tidak bisa mencabut jarum infusnya sendiri, rasanya justru sakit dan nyeri hingga ke ujung kepalanya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ia tidak bisa mencabut jarum infusnya sendiri, rasanya justru sakit dan nyeri hingga ke ujung kepalanya. Jazzki menyeret tiang infusnya keluar dari ruangan.

"Dokter... Suster..." Jazzki berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Ia mengerjab membaca kamarnya.

Ini kamar khusus pasien, lalu di mana kamar Joanna.

"Kenapa nggak ada orang lewat sih?!" Jazzki terus berjalan tanpa tau mau ke mana.

Jazzki cukup hafal dengan rumah sakit ini. Jika ia berjalan lurus maka ia akan sampai di ruang ICU. Namun jika ia mengambil kanan, akan ada persimpangan tangga yang mengarah ke ruang IGD dan pintu keluar.

"Hah?" Jazzki mematung di ujung lorong melihat kedua orang tuanya berada di depan ruang ICU.

Jazzki tertatih menghampiri mereka.

Sontak saja kehadiran Jazzki membuat Yohan dan Elvi menatap ke arahnya.

"Puas?" Tak peduli dengan rasa nyeri yang menjalar ke tangan, ia mendorong Yohan menjauh dari pintu lalu menatap Elvi dengan wajah kecewa.

"Puas kalian?!" seloroh Jazzki.

"Jazz, no!" Elvi menghalangi Jazzki yang hendak melayangkan tangan ke arah Papanya.

JAZZKI & JOANNACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang