Flirtationship (43)

2K 133 5
                                        

••••


••••

Reina tidak pernah tau kalau berbicara berdua dengan anaknya dapat secanggung ini. Mereka tidak pernah benar-benar mengobrol sebelumnya bahkan bertemu saja sangat jarang karena Reina lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah.

Tapi sebenarnya, Reina selalu punya keinginan untuk bisa berdamai dan menerima kehadiran Rafael. Dia ingin melupakan semua masa lalu menyakitkan dan melanjutkan kehidupannya sebagai seorang Ibu yang baik.

Dia menyaksikan semua kekerasan yang dilakukan oleh Suaminya kepada Rafael, tapi dia hanya diam. Kakinya seolah kaku hingga ia pun hanya bisa mengabaikan itu semua dan berpura-pura tidak melihatnya. Meskipun bagian dalam dirinya ikut merasakan sakit ketika melihat kekerasan yang dialami oleh Anaknya.

Ada banyak sekali hal yang ingin dia sampaikan, tapi ia tidak bisa bicara sekarang. Sudah setengah jam berlalu, sejak Reina menghampiri Anaknya di kamar dan meminta waktu untuk berbincang sedikit, tapi sampai sekarang dia hanya diam.

Rafael nampak kebingungan, ia menatap Reina dengan penuh tanda tanya, tapi tetap diam dan menunggu hingga Ibunya berbicara sendiri.

"Kamu enggak masalah tinggal di sini? Apa kehadiran Mama membuat kamu tidak nyaman?" tanya Reina memulai pembicaraan dengan pertanyaan.

"Biasa aja," jawab Rafael seadanya.

"Mama bingung mau bicara apa," kata Reina sambil tersenyum canggung.

"Enggak papa, Rafael tunggu sampai Mama bisa bicara dengan nyaman," ujar Rafael yang membuat Reina tertegun.

Dia menatap anaknya yang sekarang tersenyum padanya. Senyum yang penuh dengan ketulusan dan senyum yang sangat mirip dengan miliknya.

Reina mengakui kalau Rafael memang memiliki wajah yang sangat mirip dengannya.

"Kamu enggak marah sama Mama?" tanya Reina.

"Hmm enggak," jawab Rafael sambil menggelengkan kepalanya pelan.

"Kenapa?" tanya Reina.

"Enggak tau." Rafael mengangkat bahunya acuh, karena dia pun tidak tau alasannya.

Keduanya kembali terdiam untuk cukup lama. Reina terlihat gelisah, hati dan pikirannya berdebat hebat untuk mengucapkan satu kalimat yang akan meruntuhkan semua egonya.

Kalimat maaf yang tak pernah ia ucapkan pada anak satu-satunya. Hatinya meminta ia untuk meminta maaf dan mengakui semua kesalahan juga kebodohannya di masa lalu, tapi pikirannya menolak untuk melakukannya.

Sisi lain dalam dirinya yang selama ini selalu menang, menganggap bahwa semua yang dia lakukan selama ini tidak salah.

Reina menatap Rafael untuk waktu yang lama. Anaknya itu sesekali menatap ke sekeliling rumah dan membiarkannya tetap diam hingga kembali memiliki keberanian untuk bicara.

FlirtationshipTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang