Kaynara pulang dengan senyum cerah yang menghiasi wajahnya. Gadis itu terlihat begitu riang hingga ketika melihat Keisha yang sedang bermain, dia langsung berlari menghampiri adik perempuannya itu. Diberikannya ciuman gemas pada pipi tembam Keisha yang membuat anak itu merengek sambil menggelengkan kepalanya, meminta Kaynara untuk berhenti menciumnya.
Meskipun Kaynara menghentikan ciumannya, tapi gadis itu kini malah memeluk erat tubuh mungil Keisha hingga membuat Adiknya itu berteriak memanggil Ibu mereka, meminta pertolongan. Seruan Keisha membuat Alula berlarian karena khawatir dan dia menghela nafasnya lega ketika melihat kalau seruan itu karena Kaynara sedang mengganggu Adiknya.
"Kakak itu Adiknya jangan diganggu gitu," tegur Alula yang membuat Kaynara menyengir lucu sambil mencubit gemas kedua pipi Keisha.
"Habisnya Kei gemes banget sihhh," katanya hingga Keisha cemberut karena merasa sakit di kedua pipinya.
"Aaaa sakittt Kakakkk." Keisha langsung berlari menghampiri Alula begitu Kakaknya berhenti mencubit pipinya.
Dia merentangkan tangan sambil melompat-lompat dan meminta Alula untuk menggendongnya agar dia bisa menghindari kejahilan Kakaknya.
"Mamaaa."
"Aaaa kenapa enggak mau sama Kak Kay???" rengek Kaynara sambil berlari menghampiri keduanya.
Kaynara pun memeluk Alula dan Keisha hingga anak itu kembali merengek. Kaynara malah tertawa melihat kekesalan adiknya, sedangkan Alula hanya bisa pasrah ketika melihat itu semua.
"Kamu lagi bahagia banget kayaknya, sampai gangguin Adiknya gini," kata Alula yang membuat Kaynara tersenyum lebar.
"Hmm kayaknya Mama tau kenapa," ujar Alula.
"Kenapaa?" tanya Kaynara dengan cepat.
"Karena Rafael, kan?" kata Alula yang membuat Anak gadisnya tersenyum malu.
Alula tersenyum melihat pipi Kaynara yang memerah karena salah tingkah. Sebenarnya dia cukup terkejut ketika Rafael tiba-tiba meminta izin untuk memacari Kaynara, tapi keberaniannya untuk meminta izin itu patut diapresiasi.
Bahkan Rafael bukan hanya meminta izin pada dia dan Raka saja, tapi pada kedua orang tua kandung Kaynara juga.
"Hehehe."
"Mama ikut senang kalau Kakak senang, tapi tetap enggak boleh sampai mengganggu sekolah dan jangan berlebihan. Mama sama Papa kasih kebebasan karena kami percaya sama Kakak," kata Alula yang membuat Kaynara tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Kalau seandainya Ael mengambil keputusan untuk pindah gimana?" tanya Alula yang tidak ingin sampai anaknya merasa sedih.
"Enggak papa. Kay akan coba mengerti posisi Ael," jawab Kaynara dengan jujur.
Alula tersenyum ketika mendengarnya. Dia ingin mengusap kepala anak gadisnya itu, tapi Alula sedang menggendong Keisha, jadi dia meminta Kaynara untuk mendekat saja dan mencium pipi anak itu dengan sayang.
Tapi, setelah itu Kaynara malah kembali mengganggu Keisha yang sudah anteng dalam gendongannya.
"Sini sama Kakakkkk."
"Aaaa enggak mauu. Enggakkk Kakak jahill cium-cium pipi Kei terusss." Keisha menolak untuk pindah ke dalam gendongan Kakaknya.
Alula hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah kedua anaknya, tapi pada akhirnya Keisha tetap mengalah dan berpindah ke gendongan Kaynara yang sekarang membawanya ke kamar.
Meskipun dengan wajah cemberut, tapi Keisha tetap menurut. Dia memeluk Kakaknya itu dengan manja dan menyandarkan kepalanya di bahu Kaynara yang membuat Alula tersenyum manis melihatnya.
