••••

••••
Meskipun kebingungan dengan sikap Kaynara malam ini, tapi Alula tetap menuruti keinginan anaknya untuk menemaninya tidur. Sedari tadi Kaynara hanya diam sambil memeluknya, tapi raut wajahnya terlihat sedih, anaknya itu terlihat seperti ingin menangis.
Alula tidak bertanya. Dia mengusap sayang rambut panjang anaknya dan menunggu hingga Kaynara siap untuk bercerita. Mungkin perlu waktu hingga setengah jam, sampai akhirnya Kaynara melepaskan pelukannya.
Kaynara menatap Ibunya dengan wajah cemberut yang membuat Alula pun mulai bertanya dengan hati-hati.
"Ada apa, Sayang? Kenapa anak Mama sedih?" tanya Alula dengan penuh kelembutan.
"Mamaa."
Kaynara merengek sambil menarik-narik ujung baju Alula, persis seperti apa yang biasa dia lakukan ketika masih kecil dulu.
"Kenapa Sayang? Papa sampai bingung loh liat Kakak diam aja dari tadi," kata Alula sambil mengusap sayang pipinya.
"Rafael jahat sama kamu?" tanya Alula.
"Sedikit."
"Yang bener, Kak? Rafael ngapain kamu? Papa bisa marah kalau sampai tau, Kak. Dia ngapain?" tanya Alula dengan raut wajah serius.
"Ael enggak cerita apa-apa ke aku," kata Kaynara pelan.
"Cerita apa? Coba ceritakan sama Mama semuanya, biar Mama mengerti," pinta Alula pada Anak gadisnya.
"Tadi Ael baru cerita sama Kay. Kata Ael, orang tuanya mau bercerai dan Mamanya minta Ael untuk ikut dia, tapi mereka bakal pindah ke luar kota. Ael enggak bilang apa-apa sama Kay. Bahkan tadi dia cerita karena Kay paksa, kalau enggak pasti Kay enggak tau apa-apa."
"Ael bilang kalau dia ikut Mamanya itu berarti dia bakal pindah setelah kenaikan kelas, tapi dia bilang Mamanya enggak memaksa dia untuk ikut pindah. Katanya, kalau Ael masih ingin tetap di sini, dia bisa tinggal di rumah yang sekarang sendirian, tapi Ael bilang kalau dia enggak tega biarin Mamanya sendirian."
"Kay sedih. Kay enggak mau Ael pergi, tapi enggak bisa juga maksa dia untuk tetap tinggal. Kay juga marah karena Ael baru bilang sekarang, kalau enggak Kay paksa mungkin dia enggak akan cerita sampai nanti dia pindah," kata Kaynara dengan mata berkaca-kaca.
Alula langsung diam setelah mendengar cerita anaknya. Kini dia mengerti kesedihan yang sedang Kaynara rasakan saat ini.
"Mama, salah ya kalau Kay sedih dan marah sama Ael?" tanya Kaynara pelan.
"Enggak salah, Sayang. Tapi kamu juga harus bisa mengerti berada di posisi Rafael sekarang, dia pasti serba salah dan bingung harus bercerita dari mana. Rafael juga sama, dia pasti berat untuk meninggalkan teman-temannya, tapi juga enggak tega kalau harus meninggalkan Mamanya sendirian."
