••••

••••
"Kamu sudah ambil keputusan?"
Pertanyaan itu membuat Rafael terdiam selama beberapa menit. Dia bingung harus menjawab apa karena Rafael masih belum memutuskan apapun. Setiap kali ditanya, Rafael hanya akan menjawab kalau dia ingin fokus ujian dulu.
Dan kini hanya tersisa dua hari lagi hingga ujian berakhir. Ibunya pun kembali menanyakan hal itu untuk memastikan keputusan apa yang akan Rafael buat.
"Mama sudah bilang kalau Mama tidak memaksa kamu, kan? Mama hanya ingin memastikan karena mengurus kepindahan itu juga perlu proses. Mama tidak memaksa kamu untuk ikut Mama karena kalau kamu ingin tetap di sini, kamu bisa tetap tinggal di rumah ini," kata Reina sambil menatap anaknya yang masih belum memberikan jawaban apapun.
Rafael menatap Ibunya untuk waktu yang lama. Dia benar-benar bimbang dan tidak tau harus mengambil keputusan apa.
"Kalau Rafael di sini nanti Mama sendirian," kata Rafael setelah cukup lama terdiam.
Mendengar jawaban anaknya membuat Reina tertegun. Rafael mengkhawatirkannya yang akan sendirian, sedangkan selama ini dia membiarkan anaknya sendirian.
"Mama selalu sama Papa dari dulu, kan? Meskipun enggak akur sama Papa, tapi kan selalu ada yang temani. Kalau Rafael tetap di sini nanti Mama gimana? Mama sendirian?" tanya Rafael sambil menatap Ibunya.
"Mama baik-baik aja. Meskipun sendirian, tapi Mama bisa jaga diri dan akan ada teman-teman Mama juga. Makanya kalau Rafael ingin tetap di sini sama teman-teman Mama enggak papa. Mama enggak bisa maksa kamu," kata Reina.
"Rafael bingung. Rafael mau sama teman-teman dan tetap di sini, tapi enggak mau juga kalau nanti Mama sendirian. Enggak papa kalau Rafael belum jawab sekarang, kan? Besok Rafael akan kasih jawaban," kata Rafael.
"Iya, kamu bisa pikirkan lagi," ujar Reina sambil mengusap pelan kepala anak laki-lakinya itu.
Rafael tersenyum tipis lalu izin untuk pergi ke kamar dan beristirahat. Begitu sampai di kamar, Rafael langsung menjatuhkan dirinya di kasur dan memejamkan matanya.
Dia mulai mengingat semua kenangannya bersama dengan teman-temannya. Kota ini memiliki banyak kenangan menyenangkan dengan orang-orang yang sangat berarti untuknya.
Elang yang sudah bertahun-tahun menjadi sahabatnya. Teman-teman satu ekskul basket yang dulu selalu membuat Rafael semangat untuk pergi ke sekolah. Kaynara yang sudah membuat hidupnya lebih berwarna.
