Jung Yunho

41 10 0
                                    

Kota Neo-Ruins dihiasi kilatan cahaya merah dari sirene darurat. Kota itu, dengan jalanannya yang penuh reruntuhan dan asap tebal, tampak seperti neraka dunia. Namun di tengah kekacauan itu, Jung Yunho berlari melintasi gang sempit, langkah-langkahnya cepat dan mantap. Di punggungnya, ia menggendong Hongjoong yang wajahnya dipenuhi darah.

“Tolong berhenti bergerak, Joong,” ujar Yunho tanpa melambat. “Kau hanya memperparah lukamu.”

Hongjoong, dengan ekspresi masam khasnya, mencoba menahan rintihan. “Aku tidak bergerak. Ini kau yang berlari seperti kuda liar. Kau mau membuat isi perutku keluar sekarang juga?”

Yunho terkekeh, meskipun tidak menghentikan langkahnya. “Setidaknya kau masih bisa bercanda. Itu pertanda kau belum mati.”

“Mungkin aku mati kalau kau terus mengguncangku seperti ini,” Hongjoong membalas, meskipun suaranya melemah.

Yunho berhenti di sudut jalan, menempelkan punggungnya ke tembok untuk mengintip ke depan. “Mereka masih mengejar kita,” gumamnya.

“Siapa yang mengejar kita? Monster, manusia, atau mantan pacarmu yang psycho?” Hongjoong mencoba menahan tawa, meskipun rasa sakit di dadanya semakin menusuk.

“Monster,” jawab Yunho singkat. Ia menatap Hongjoong dengan senyum kecil. “Kalau mantan pacarku yang mengejar, mereka pasti sudah menyerah sejak aku membawa lelaki mungil sepertimu di punggungku.”

Hongjoong memutar mata, meskipun ia tidak bisa menyembunyikan semburat merah di pipinya. “Kau tidak perlu menambahkan ‘mungil’ setiap kali menyebutku. Aku tahu aku kecil dibandingkan kau.”

“Bukan kecil,” Yunho membalas, suaranya rendah tapi penuh godaan. “Kau pas. Seukuran dengan pelukanku.”

Hongjoong kehilangan kata-kata. Ia memalingkan wajah, berpura-pura sibuk mengelap darah di lehernya. “Hentikan omong kosongmu, Yunho. Kita punya masalah yang lebih besar sekarang.”

Yunho menahan senyumnya, sebelum mengintip sekali lagi ke arah gang. Suara gemerisik semakin dekat, diikuti oleh aroma busuk yang menyengat.

“Baiklah, Joong. Pegangan yang erat,” katanya sambil menyesuaikan posisi Hongjoong di punggungnya.

“Apa yang kau rencanakan sekarang?” tanya Hongjoong, suaranya penuh curiga.

“Memastikan kita keluar dari sini hidup-hidup. Kalau aku harus mengorbankan diri…” Yunho berhenti, suaranya melembut. “Setidaknya aku bisa memastikan kau selamat.”

Hongjoong terdiam, jantungnya berdetak lebih cepat. “Jangan bicara seperti itu. Aku tidak butuh drama pahlawan.”

Yunho hanya tertawa pelan, lalu melangkah keluar dari gang. Tepat saat monster dengan tubuh berlumuran darah dan cakar tajam muncul dari bayangan, Yunho mengayunkan pisau besar yang dipegangnya.

Darah memercik ke mana-mana, menciptakan pemandangan yang lebih menyeramkan. Tapi Yunho tidak berhenti. Dengan gerakan yang terampil, ia menyerang monster-monster itu satu per satu, sementara Hongjoong yang masih berada di punggungnya mencoba untuk tidak pingsan karena pemandangan itu.

“Kau tahu,” Hongjoong berkata dengan lemah, “kalau aku mati sekarang, aku ingin kau tahu satu hal.”

Yunho tersenyum sambil melibas kepala monster terakhir. “Apa itu?”

“Kau pria baik. Tapi kadang kau terlalu menyebalkan,” jawab Hongjoong dengan nada bercanda.

Yunho tertawa keras, meskipun napasnya mulai tersengal. Ia menatap Hongjoong di punggungnya dengan pandangan penuh kasih sayang. “Dan kau, Hongjoong, adalah lelaki paling keras kepala yang pernah kutemui. Tapi kau membuat hidupku jauh lebih berarti.”

Hongjoong tidak menjawab. Ia hanya menyandarkan kepalanya ke bahu Yunho, merasa sedikit lebih tenang meskipun rasa sakit di tubuhnya belum hilang.

“Yunho,” panggilnya pelan.

“Ya?”

“Kalau kita keluar dari sini hidup-hidup, aku akan mentraktirmu makan malam.”

Yunho tersenyum kecil. “Makan malam? Kau mau memasak untukku?”

“Tidak. Aku bilang traktir, bukan memasak. Aku tidak punya waktu untuk jadi good man seperti kau,” balas Hongjoong dengan nada menggoda.

Yunho tertawa lagi, kali ini lebih lembut. “Baiklah. Aku akan menerimanya. Tapi hanya kalau kau menambahkan sesuatu yang manis di akhir.”

“Apa?”

“Ciuman,” jawab Yunho santai.

Hongjoong ternganga. “Kau benar-benar…”

“Terlalu jujur?” Yunho menyelesaikan kalimatnya, sebelum mulai berjalan lagi, meninggalkan jejak darah di belakang mereka. “Atau terlalu baik untuk menolak?”

Hongjoong hanya bisa menghela napas panjang. Ia tahu, meskipun ia selalu mengeluh tentang pria itu, di hatinya Yunho adalah satu-satunya alasan ia masih bertahan hidup.

MYRTLE 🌸 bottom!Hongjoong [⏯]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang