Song Mingi [⚠mpreg]

47 7 0
                                    

Hongjoong menatap ke arah dapur apartemennya yang kecil tapi selalu penuh aksi, di mana Mingi sedang sibuk mencoba menyeimbangkan tiga botol jus jeruk, satu blender, dan sekantong es batu yang hampir jatuh dari meja.

“Jadi, kau yakin ini ide bagus?” tanya Hongjoong, duduk di sofa dengan perut yang sudah membuncit. Ia mengusap perutnya pelan, matanya menyipit menatap Mingi yang terlihat sangat sibuk tapi entah mengapa juga sangat tidak efisien.

“Sayang, kita harus merayakan kabar baik ini!” seru Mingi sambil tersenyum lebar, meskipun ia baru saja menjatuhkan satu botol jus. “Dan apa yang lebih baik dari minuman spesial buatan tangan?”

Hongjoong memutar bola matanya. “Kabar baik apa? Bahwa aku melahirkan dalam tiga minggu? Atau bahwa kau memutuskan untuk membuat kekacauan di dapur untuk sesuatu yang bahkan tidak boleh aku minum?”

“Minuman ini non-alkohol, Joong,” jawab Mingi dengan nada bangga. “Aku bahkan memastikan untuk membeli sirup terbaik di toko tadi.”

“Sirup terbaik,” ulang Hongjoong datar. “Aku bahkan tidak tahu kenapa aku menikahimu.”

“Kau menikahiku karena aku tinggi, tampan, dan lucu,” jawab Mingi tanpa ragu, meskipun ia harus melompat ke samping untuk menangkap blender yang hampir terguling.

“Dan jelas-jelas ceroboh,” tambah Hongjoong dengan seringai kecil.

Mingi berjalan mendekat, membawa gelas berisi cairan jingga cerah yang terlihat… tidak terlalu menggugah selera. “Coba ini dulu sebelum menghakimi,” katanya sambil menyodorkan gelas ke Hongjoong.

Hongjoong menatap gelas itu dengan curiga. “Apa ini aman? Maksudku, kau tidak memasukkan sesuatu yang aneh seperti… bawang putih, kan?”

“Sayang, aku bukan monster,” balas Mingi dengan pura-pura tersinggung. “Aku hanya ingin memastikan kau merasa dirayakan malam ini.”

Hongjoong akhirnya mengambil gelas itu, mengendusnya sebentar sebelum menyeruput sedikit. Ia berhenti, alisnya naik. “Ini… tidak buruk. Aku agak terkejut.”

“Cheers untuk itu!” seru Mingi sambil mengangkat gelasnya sendiri, yang entah bagaimana sudah penuh dengan es batu yang terlalu banyak.

Hongjoong tertawa kecil, meletakkan gelasnya di meja kopi. “Baiklah, kau punya satu poin. Tapi kenapa kita sebenarnya merayakan sesuatu malam ini?”

Mingi duduk di sebelahnya, matanya lembut saat ia memandang Hongjoong. “Karena aku ingin kau tahu bahwa aku sangat bangga padamu. Kau sudah melalui banyak hal selama beberapa bulan terakhir, dan aku tahu ini tidak mudah. Tapi kau tetap luar biasa.”

Hongjoong terdiam sejenak, menatap Mingi dengan campuran emosi. “Itu… manis sekali.”

“Dan,” tambah Mingi dengan senyum lebar, “karena aku juga ingin memastikan anak kita tahu bahwa ayah mereka adalah pria paling keren di galaksi.”

“Jelas bukan kau,” balas Hongjoong cepat, membuat Mingi berpura-pura terluka.

“Aww, Joong, itu kejam,” kata Mingi, menaruh tangannya di dada seolah-olah hatinya benar-benar hancur.

Hongjoong tertawa lagi, kali ini lebih lepas. “Kau tahu aku mencintaimu, kan?”

“Selalu tahu,” balas Mingi sambil mendekatkan wajahnya, memberikan ciuman cepat di dahi Hongjoong. “Dan aku mencintaimu lebih lagi.”

Saat itu, bayi di perut Hongjoong bergerak, membuatnya terkejut. Ia memegang perutnya dengan mata lebar. “Dia bergerak lagi!”

Mingi langsung menempelkan tangannya di perut Hongjoong, senyum lebarnya muncul kembali. “Dia pasti ikut merayakan. Lihat? Bahkan dia pikir aku pria keren.”

Hongjoong hanya mendesah panjang. “Kau benar-benar tidak bisa menyerah, ya?”

“Tidak akan pernah,” balas Mingi dengan mantap.

Malam itu berakhir dengan mereka berdua duduk di sofa, minuman yang dibuat Mingi hampir habis, dan tawa mereka memenuhi ruangan kecil itu. Di tengah segala kekacauan kecil, mereka tahu bahwa ini adalah kebahagiaan sederhana yang akan mereka kenang selamanya.

MYRTLE 🌸 bottom!Hongjoong [⏯]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang