Choi San

37 7 0
                                    

Hongjoong tak pernah benar-benar menyukai perjalanan bisnis, apalagi yang melibatkan agenda membosankan seperti rapat dan presentasi yang berlarut-larut. Tapi perjalanan kali ini sedikit berbeda. Mereka berada di kapal pesiar yang melintasi lautan biru es dengan pemandangan gunung es megah di kejauhan. Itu memang perjalanan kerja, tapi siapa yang bisa fokus pada presentasi PowerPoint ketika ada bongkahan raksasa putih berkilauan mengambang di tengah laut? 

Sementara kolega-kolega lain sibuk memuji estetika gunung es atau menyusun strategi pemasaran baru, Hongjoong hanya ingin melarikan diri ke dek atas. Dan dia berhasil, setidaknya selama lima menit, sampai dia mendengar suara tawa yang terlalu keras untuk suasana damai itu.

"Hei, Hongjoong!"

Itu San, tentu saja—manajer pemasaran yang energinya lebih besar daripada gelombang laut. Pria itu muncul di dek seperti badai kecil, dengan jaket kulit yang tidak masuk akal untuk cuaca dingin ini dan senyum yang tampak seperti ingin memulai percakapan yang tidak bisa dihindari.

"Apa kau selalu menghindari rapat seperti ini?" tanya San sambil menyandarkan tubuhnya di pagar dek, tepat di sebelah Hongjoong.

Hongjoong menghela napas. "Aku tidak menghindari. Aku hanya... butuh udara segar."

San terkekeh, suaranya lebih hangat daripada yang diharapkan Hongjoong dalam cuaca seperti ini. "Jadi, kau kabur. Aku suka gayamu."

Hongjoong memutar mata, berusaha keras untuk tidak tersenyum. "Apa kau mau sesuatu? Atau kau hanya senang menggangguku?"

San menyeringai, sudut bibirnya terangkat seperti seseorang yang baru saja menang lotre. "Aku melihatmu sendirian di sini dan berpikir, ‘Hongjoong pasti kesepian.’ Jadi aku datang menyelamatkanmu."

Hongjoong melipat tangan di depan dada, menatap San dengan ekspresi tidak percaya. "Aku baik-baik saja. Aku tidak butuh pahlawan."

"Semua orang butuh pahlawan," balas San ringan, nadanya seperti gurauan, tapi matanya—tatapan itu seperti menyimpan sesuatu yang lebih dalam.

Dek kapal terasa semakin dingin ketika angin laut mulai berhembus kencang, tetapi San tidak menunjukkan tanda-tanda ingin pergi. Dia tetap berdiri di sana, sesekali melemparkan komentar konyol yang membuat Hongjoong mengernyit, tapi tak bisa memungkiri bahwa pria itu membawa kehangatan aneh ke ruang dingin itu.

"Jadi," San mulai lagi, "apa yang membuatmu muak dengan perjalanan ini? Aku tahu kau lebih suka bekerja di studio daripada harus bertemu orang-orang."

Hongjoong mengangkat bahu. "Aku tidak muak, hanya... ini bukan gayaku. Aku lebih suka menyelesaikan sesuatu dengan cara yang lebih sederhana."

"Seperti menatap laptop sepanjang hari?" goda San.

Hongjoong meliriknya. "Dan kau lebih suka apa? Berdansa di dek ini sambil meminum anggur murah?"

San terkekeh, menampilkan deretan giginya yang sempurna. "Anggur murah terdengar bagus. Tapi aku lebih suka memancing ikan paus."

"San, itu ilegal."

"Itu bagian dari pesonaku," jawab San dengan santai, membuat Hongjoong mendengus pelan.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan, hanya ditemani suara ombak yang menghantam kapal. Tapi seperti biasa, San tidak pernah membiarkan suasana terlalu tenang.

"Kau tahu," katanya, dengan nada yang lebih serius kali ini, "aku tak pernah benar-benar suka gunung es."

Hongjoong menoleh, sedikit bingung. "Gunung es? Maksudmu pemandangan ini?"

San mengangguk. "Ya. Mereka terlihat megah, tapi kau tahu kan, sebagian besar dari mereka tersembunyi di bawah air. Seperti rahasia besar yang siap menenggelamkan kapalmu kapan saja."

Hongjoong menatapnya, tak yakin apakah itu analogi atau hanya komentar acak. "Itu... metafora yang aneh."

San tersenyum kecil, tapi ada sesuatu dalam tatapannya yang berbeda. "Mungkin. Tapi aku rasa kau juga seperti gunung es, Hongjoong."

Hongjoong merasa darahnya naik ke pipi, tapi dia tetap menjaga ekspresi datarnya. "Apa maksudmu?"

"Kau menyimpan banyak hal di bawah permukaan. Semua orang hanya melihat bagian kecil darimu, tapi ada begitu banyak yang tersembunyi."

Ada jeda panjang sebelum Hongjoong menjawab, suaranya lebih pelan daripada sebelumnya. "Dan kau pikir kau tahu apa yang ada di bawah permukaanku?"

San mencondongkan tubuh sedikit lebih dekat, dan tiba-tiba jarak mereka terasa jauh lebih kecil daripada sebelumnya. "Aku ingin tahu."

Hongjoong mencoba memutar matanya lagi, tapi kali ini dia gagal menyembunyikan senyuman kecil yang muncul di sudut bibirnya. "Kau terlalu percaya diri."

San tertawa, tapi kali ini lebih lembut. "Mungkin. Tapi aku tidak pernah ingin berhenti mencoba untuk tahu lebih banyak tentangmu, Hongjoong."

Dan untuk pertama kalinya selama perjalanan itu, Hongjoong merasa bahwa dinginnya angin laut tak lagi terlalu mengganggu.

MYRTLE 🌸 bottom!Hongjoong [⏯]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang