Jung Yunho

40 10 0
                                    

Hongjoong tidak pernah menyangka bahwa ide absurd ini akan benar-benar terjadi. Awalnya, ia hanya bergurau di tengah diskusi mereka semalam, mengatakan bahwa kebun binatang mungkin tempat yang menarik untuk kencan. Tapi Yunho, dengan senyum lebarnya yang menawan dan semangat tanpa batas, langsung mengusulkan untuk melakukannya.

“Safari malam itu romantis, Joong,” kata Yunho dengan nada yakin.

“Romantis untuk siapa? Kau atau singa-singa yang kau bayangkan bakal melompat ke mobil kita?” balas Hongjoong, separuh sarkastis.

Namun, di sinilah mereka sekarang, duduk berdampingan di mobil listrik kecil yang berputar mengelilingi kebun binatang malam hari. Yunho yang mengemudi, sementara Hongjoong duduk dengan tangan terlipat di pangkuannya, mencoba terlihat tidak terlalu gugup meskipun aroma alpha di sebelahnya membuat semua bulu di tengkuknya berdiri.

“Kau tahu, aku masih tidak mengerti kenapa aku setuju,” gumam Hongjoong sambil mengalihkan pandangan dari kandang harimau ke wajah Yunho yang sedang fokus pada jalan setapak.

“Kau setuju karena aku meyakinkanmu,” jawab Yunho santai, sudut bibirnya terangkat. “Dan karena aku tahu kau sebenarnya ingin.”

“Tidak semua omonganku perlu diambil serius, Yunho,” tukas Hongjoong, meskipun pipinya mulai memerah.

“Joong, aku ini alpha. Aku bisa mencium kebohonganmu dari kilometer jauhnya,” Yunho meliriknya sekilas dengan tatapan penuh arti.

Hongjoong memutar matanya, berusaha menahan senyuman kecil yang hampir muncul di wajahnya. Ia tidak akan memberi Yunho kepuasan untuk menang terlalu mudah.

Mereka berhenti di depan kandang jerapah, di mana seekor jerapah tinggi berdiri anggun, mengunyah daun dengan santai. Yunho menunjuk ke arah hewan itu dengan penuh semangat, seperti anak kecil yang baru pertama kali melihat binatang besar.

“Lihat, Joong! Kau dan dia punya kesamaan!” serunya.

Hongjoong menatapnya dengan alis terangkat. “Kesamaan? Apa kau baru saja menyamakanku dengan jerapah?”

Yunho terkekeh. “Tidak. Aku hanya bilang kalian berdua sama-sama elegan.”

Hongjoong mendengus pelan, meskipun rona merah di pipinya semakin sulit disembunyikan. Ia tidak pernah tahu bagaimana Yunho bisa dengan mudah melontarkan pujian yang terdengar tulus meskipun konteksnya absurd.

Mereka melanjutkan perjalanan, melewati kandang singa yang hanya terdengar geramannya dari jauh, hingga akhirnya berhenti di area pengamatan terbuka. Langit malam terlihat jernih, dan bintang-bintang berkelip seperti lampu kecil di langit. Yunho mematikan mesin mobil dan menoleh ke arah Hongjoong.

“Aku tahu aku sering bercanda, tapi aku serius kali ini. Aku ingin kencan yang berbeda denganmu,” kata Yunho, nadanya lebih lembut.

Hongjoong merasa tubuhnya menegang sesaat. “Kenapa? Kenapa harus seperti ini?”

“Karena kau terlalu sering mengurung diri di studio,” jawab Yunho jujur. “Kau sibuk, dan aku mengerti. Tapi aku ingin kau ingat bahwa dunia di luar itu masih indah, dan aku ingin jadi orang yang menunjukkan itu padamu.”

Hongjoong menatap Yunho dalam diam. Ia tahu Yunho adalah tipe alpha yang dominan tapi perhatian. Namun, mendengar kalimat itu langsung dari mulutnya membuat sesuatu di dalam hati Hongjoong terasa hangat.

“Yunho, kau tahu, tidak semua omega punya energi sebanyak kau, kan?” Hongjoong mencoba melontarkan candaan untuk meredakan ketegangan di antara mereka.

Yunho tersenyum kecil, matanya berbinar dalam cahaya remang-remang malam. “Aku tahu. Tapi energi itu ada untuk memastikan kau bahagia, Joong. Kalau aku tidak menggunakannya untukmu, untuk apa lagi?”

Hongjoong merasa wajahnya semakin panas. Ia berdeham kecil, lalu mencoba mengalihkan perhatian ke arah lampu taman yang berkelap-kelip di kejauhan. Namun, aroma kayu khas Yunho semakin memenuhi indra penciumannya, membuatnya sulit untuk tetap fokus.

“Terima kasih, Yunho,” gumamnya akhirnya.

“Aku tahu itu sulit bagimu untuk mengatakan,” goda Yunho sambil tertawa kecil. “Tapi aku hargai.”

Mereka melanjutkan perjalanan dengan suasana yang lebih tenang namun nyaman. Hongjoong merasa, untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, ia bisa benar-benar bernapas tanpa tekanan.

Saat mereka kembali ke pintu keluar, Yunho menatapnya sekali lagi dengan senyuman khasnya. “Bagaimana? Aku berhasil membuatmu menikmati malam ini?”

Hongjoong hanya tersenyum kecil, tapi tatapan matanya cukup untuk menjawab semuanya.

Yunho menepuk setir dengan bangga. “Diggity, aku ini benar-benar alpha terbaik, ya?”

Hongjoong memutar matanya, tapi kali ini tidak menahan tawa yang akhirnya pecah.

Malam itu mungkin absurd, tapi Hongjoong tahu—bersama Yunho, segalanya selalu terasa lebih ringan dan bermakna.

MYRTLE 🌸 bottom!Hongjoong [⏯]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang