Jung Yunho [⚠mpreg]

29 4 0
                                    

Pantai di Saint Kitts and Nevis selalu tenang pada sore hari, seolah angin laut mengerti bahwa semua yang datang ke sana membutuhkan waktu untuk merenung. Yunho berdiri dengan kaki yang tenggelam dalam pasir lembut, menatap Hongjoong yang duduk di atas selimut piknik, memegangi perutnya yang membuncit.

“Apakah kita benar-benar harus pergi?” tanya Hongjoong, suaranya nyaris tertelan oleh desiran ombak. Matanya menatap Yunho dengan campuran ragu dan harapan.

Yunho menarik napas panjang sebelum menjawab. “Kau tahu ini bukan soal ingin atau tidak ingin, Joong. Ini soal apa yang terbaik untuk kita... dan untuk bayi kita.”

Hongjoong mengalihkan pandangannya ke laut, jari-jarinya yang kurus mengelus perutnya dengan lembut. “Tapi tempat ini... di sinilah kita memulai segalanya, Yunho. Rasanya seperti mengkhianati kenangan.”

Yunho mendekat, duduk di sebelah Hongjoong. Ia meraih tangan kecil itu, menggenggamnya dengan penuh kasih. “Aku tahu. Saint Kitts and Nevis akan selalu menjadi bagian dari cerita kita. Tapi, kita tidak bisa tinggal di sini selamanya. Kita butuh tempat yang lebih... stabil.”

“Stabil?” Hongjoong mengangkat alis, menatap Yunho dengan senyum miring. “Kau bilang begitu, tapi aku tahu kau hanya tidak tahan dengan kucing liar yang selalu masuk ke dapur kita.”

Yunho tertawa kecil. “Itu juga salah satu alasannya.”

Keheningan melingkupi mereka sejenak, hanya suara ombak dan burung camar yang menemani. Hongjoong memejamkan mata, menikmati angin yang membelai wajahnya. “Aku akan merindukan tempat ini.”

“Aku juga,” Yunho berkata pelan. “Tapi, aku tidak ingin kau berpikir bahwa meninggalkan tempat ini berarti kita meninggalkan kebahagiaan kita.”

Hongjoong membuka matanya, menatap Yunho yang kini tersenyum hangat. Ada sesuatu dalam tatapan pria itu yang membuatnya merasa aman, meskipun hatinya masih penuh keraguan. “Kau selalu tahu bagaimana cara membuatku merasa lebih baik, ya?”

“Bukan itu tugas suami?” Yunho menggoda, mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat.

“Dan calon ayah,” tambah Hongjoong dengan nada lirih, tangannya kini menekan perutnya yang terasa mulai berdenyut.

“Dia menendang lagi?” Yunho bertanya dengan penuh semangat, tangannya langsung berpindah ke perut Hongjoong.

“Ya,” jawab Hongjoong, senyumnya kembali muncul. “Dia mungkin tahu bahwa kita sedang berbicara tentang masa depan.”

Yunho mengusap perut Hongjoong dengan lembut, matanya berbinar dengan kebahagiaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. “Dia akan menjadi anak yang kuat dan cerdas, seperti ibunya.”

Hongjoong tertawa kecil. “Dan keras kepala seperti ayahnya.”

“Keras kepala itu penting,” Yunho menimpali. “Tanpa itu, aku tidak akan pernah berhasil membuatmu jatuh cinta padaku.”

Hongjoong mencubit lengan Yunho, pura-pura kesal. “Kau memang tidak tahu malu.”

“Tapi kau mencintaiku, kan?” Yunho tersenyum lebar, dan Hongjoong tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum balik.

“Kau benar,” Hongjoong akhirnya mengakui. “Aku mencintaimu. Dan aku akan baik-baik saja. Karena aku punya kau, dan... dia.”

Yunho menarik Hongjoong ke dalam pelukannya, mendekapnya erat seolah berusaha melindungi segala yang ada di dunia kecil mereka. “Kita akan baik-baik saja, Joong. Aku janji.”

Mereka berdua duduk di sana sampai matahari tenggelam, membiarkan waktu berhenti sejenak.

MYRTLE 🌸 bottom!Hongjoong [⏯]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang