Choi Jongho

38 4 0
                                    

Seorang pengemis dengan hoodie kusut duduk sambil mengetuk-ngetukkan kaleng kosong ke lututnya. Itu Hongjoong. Dia menggumamkan lagu-lagu lama yang hanya dia hafal separuh. Wajahnya yang tirus dan rambut yang sedikit acak-acakan menambah aura "hidup ini berat, tapi aku masih lucu" yang memancar dari dirinya.

Dia tidak mengharapkan apa-apa selain beberapa receh untuk membeli tteokbokki di gang sebelah. Namun, nasib berkata lain. Seorang pria bertubuh tegap dengan jaket kulit hitam dan celana jeans robek-robek berhenti di depannya. Pria itu memandang Hongjoong dengan tatapan seperti singa yang baru menemukan mangsa. Itu Jongho.

"Hei," kata Jongho dengan suara berat yang lebih cocok untuk MC acara tinju daripada berbicara dengan pengemis. "Apa kau selalu duduk di sini, atau ini lokasi syuting drama?"

Hongjoong mendongak, merasa terhina sekaligus bingung. "Kalau aku syuting drama, kau pikir aku akan pakai hoodie ini? Ini hampir jadi kain pel!"

Jongho tertawa kecil, suaranya serak tapi dalam. "Kau punya gaya bicara yang menarik. Tapi lebih menarik lagi, kenapa kau tidak minta bantuan pemerintah saja? Atau... bantuan dariku?"

Hongjoong mengerutkan kening. "Bantuan darimu? Apa kau CEO yayasan amal? Atau kau mau aku jadi semacam... pendamping harian? Aku tidak punya waktu untuk jadi mainan orang kaya."

"Mainan?" Jongho mengangkat alis. "Tidak, aku tidak suka mainan. Tapi aku suka tantangan. Dan kau terlihat seperti tantangan yang menarik."

Hongjoong meletakkan kalengnya dengan keras di trotoar. "Kalau kau mau memberi uang, taruh di sini. Kalau tidak, aku tidak punya waktu untuk flirt-mu yang murahan."

Jongho mengeluarkan dompetnya, tapi alih-alih mengeluarkan uang receh, dia menarik selembar uang 50 ribu won. Hongjoong melongo.

"Apa kau sedang menyuapku?" tanya Hongjoong curiga.

Jongho tersenyum, menunduk hingga wajahnya hampir sejajar dengan Hongjoong. "Aku tidak pernah menyuap. Aku membeli. Dan sekarang, aku ingin membeli waktumu. Ayo, ikut aku."

Hongjoong tertawa sinis. "Kau pikir aku ini barang lelang? Aku bukan semacam...'pengemis sewaan' yang bisa kau pamerkan ke teman-teman kaya."

"Tidak," Jongho menjawab santai. "Tapi aku suka seseorang yang bisa berbicara seperti kau. Percaya atau tidak, hidupku agak membosankan. Aku butuh seseorang yang bisa membuatku tertawa, bahkan kalau itu berarti aku harus menghabiskan waktu dengan seseorang yang suka makan tteokbokki sisa."

Hongjoong berdiri, tangannya di pinggul. "Kau benar-benar kasar, tahu? Tapi aku juga butuh makan malam, jadi mari kita lupakan penghinaan ini. Ayo."

Jongho tersenyum puas, seperti seseorang yang baru saja memenangkan taruhan. "Bagus. Tapi jangan salah paham. Ini bukan amal. Ini... investasi."

"Investasi?" Hongjoong memiringkan kepalanya, alisnya bertaut. "Kau serius? Apa aku terlihat seperti saham yang menjanjikan?"

"Tidak," jawab Jongho sambil melangkah santai ke arah gang terdekat. "Kau lebih seperti lotere. Aku tidak yakin kau akan membayar balik, tapi aku menikmati sensasi menebak-nebak."

Hongjoong mengekor di belakangnya, merasa bingung tapi juga penasaran. Jongho tidak tampak seperti pria kaya biasa yang suka memamerkan kekayaan. Ada sesuatu yang lebih dalam—atau mungkin hanya gaya bicaranya yang membuat segalanya terdengar seperti skenario film.

Mereka berhenti di sebuah warung tteokbokki kecil. Jongho memesan dua porsi besar tanpa bertanya lebih dulu pada Hongjoong.

"Kau selalu memutuskan sendiri?" tanya Hongjoong, menyipitkan mata.

"Kalau kau punya permintaan khusus, katakan saja. Tapi, dari tampilanmu, aku yakin kau tidak pilih-pilih makanan."

Hongjoong mendengus. "Kau benar. Tapi aku juga tidak suka pria sok tahu."

Jongho hanya tertawa pelan, lalu menarik kursi di meja terdekat. "Duduklah. Kau tidak akan menyesal malam ini."

Saat makanan tiba, Hongjoong langsung melahap makanannya seperti seseorang yang tidak makan selama seminggu. Jongho hanya memandanginya dengan senyum kecil di bibirnya.

"Kau tahu," kata Jongho akhirnya. "Kalau kau sedikit lebih sopan, kau bisa mendapatkan lebih banyak dari orang-orang."

Hongjoong mengangkat kepalanya, wajahnya penuh dengan saus merah. "Sopan tidak membayar makanan. Tapi, terima kasih atas pelajarannya, Mr. Etiquette."

Jongho menggelengkan kepala sambil tertawa. "Kau benar-benar berbeda. Tapi aku suka itu. Dunia ini terlalu penuh dengan orang-orang yang mencoba menyenangkan semua orang."

"Dan kau?" Hongjoong menantangnya. "Apa kau salah satu dari mereka?"

"Tidak," jawab Jongho, matanya bersinar penuh keyakinan. "Aku hanya mencoba menyenangkan diriku sendiri. Dan malam ini, kau adalah sumber hiburanku."

Hongjoong terdiam sejenak, lalu tertawa keras. "Aku tidak tahu apakah itu pujian atau penghinaan. Tapi aku terima saja. Setidaknya aku mendapat tteokbokki gratis."

Jongho mengangkat gelasnya, seolah-olah sedang bersulang. "Untuk tteokbokki gratis, dan untuk pertemuan yang aneh ini."

Hongjoong mengikuti gerakannya, meskipun dengan gelas air putih yang hampir kosong. "Dan untuk pria kaya yang suka bermain dengan pengemis."

Mereka berbagi tawa, ejekan, dan mungkin, sedikit rasa penasaran yang tidak akan mereka akui dengan kata-kata. Tapi satu hal yang pasti—Hongjoong tahu, hidupnya baru saja berubah. Dan Jongho? Dia tahu, dia telah menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar hiburan.

MYRTLE 🌸 bottom!Hongjoong [⏯]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang