Hongjoong tidak pernah membayangkan bahwa misi diplomatik ke planet Äksör VIII akan melibatkan tarian tradisional aneh dengan nama yang lebih mirip nama makanan cepat saji: Säkkijärven Polkka. Tapi di sinilah dia, berdiri di tengah aula berbentuk kubah besar yang dipenuhi alien bertubuh seperti ubur-ubur bercahaya, sambil mengenakan pakaian tradisional Äksörian yang terasa terlalu ketat di pinggul.
“Kau yakin ini bagian dari diplomasi?” tanya Hongjoong, memandang cemas ke arah Mingi yang berdiri di sampingnya dengan pakaian serupa.
Mingi, yang tingginya hampir dua kali lipat dari Hongjoong, menyeringai lebar. “Tentu saja. Apa lagi alasan kita ada di sini kalau bukan untuk membuat mereka terkesan?”
“Mungkin dengan berbicara? Negosiasi damai? Bukan dengan menari seperti idiot?” balas Hongjoong sambil memelototi Mingi.
Mingi tertawa, suara bass-nya memenuhi ruangan dan menarik perhatian beberapa alien. “Joong, kau harus lebih santai. Ini hanya tarian. Lagipula, kau akan terlihat lucu.”
“Lucu bukan tujuan utamaku di sini!”
Sebelum Hongjoong sempat melarikan diri, musik tiba-tiba mengalun. Itu bukan jenis musik yang biasa ia dengar—melodi cepat dan riang, dengan ritme yang menggelitik telinganya. Para alien mulai bergerak, tentakel mereka berayun dengan indah sesuai irama.
Mingi, tanpa basa-basi, menarik tangan Hongjoong dan membawanya ke tengah lantai dansa.
“Mingi! Apa yang kau lakukan?!” protes Hongjoong, berusaha melepaskan diri.
“Menari, tentu saja. Kau tidak mau membuat mereka tersinggung, kan?” jawab Mingi santai, matanya bersinar dengan semangat petualangannya.
Hongjoong menghela napas panjang, menyadari bahwa ia tidak punya pilihan lain. “Baiklah. Tapi kalau ini gagal, aku akan menuliskan namamu dalam laporan sebagai penyebab perang antarplanet!”
“Deal,” kata Mingi sambil tertawa.
Gerakan pertama dimulai dengan langkah cepat ke samping, lalu melompat ke depan. Mingi melakukannya dengan mudah, tubuh panjangnya bergerak dengan keluwesan yang mengejutkan. Sementara itu, Hongjoong—dengan kakinya yang lebih pendek—berusaha mengikuti tanpa tersandung.
“Jangan terlalu tegang, Joong,” ujar Mingi sambil memutar Hongjoong dengan lembut.
“Kalau aku jatuh, kau yang harus menahanku!” balas Hongjoong tajam.
“Tentu saja,” kata Mingi, suaranya rendah dan menggoda. “Aku selalu ada untuk menangkapmu.”
Hongjoong hampir kehilangan keseimbangan, bukan karena putaran tadi, tapi karena nada suara Mingi yang tiba-tiba berubah intim. Wajahnya memerah, tapi ia segera memusatkan perhatian pada langkahnya.
Musik semakin cepat, dan pasangan manusia itu menarik perhatian seluruh aula. Para alien berhenti menari, mengamati mereka dengan rasa ingin tahu. Beberapa bahkan mulai bersorak dengan suara menggelegak yang aneh.
“Kita jadi tontonan,” bisik Hongjoong, wajahnya merah karena malu dan lelah.
“Itu artinya mereka terkesan,” jawab Mingi sambil tersenyum, menunduk sedikit untuk menatap Hongjoong. “Atau mungkin karena kau terlihat sangat menggemaskan saat mencoba menari.”
Hongjoong memelototinya. “Kau benar-benar tidak tahu kapan harus berhenti, ya?”
“Tidak ketika aku melihatmu seperti ini.”
Sebelum Hongjoong sempat membalas, Mingi tiba-tiba memutar tubuhnya dengan lembut, membuatnya berputar di udara seolah-olah ia tidak memiliki berat badan. Hongjoong terkesiap, merasa seperti boneka kain yang dipermainkan.
“Mingi! Apa-apaan ini?!”
“Gerakan khas Säkkijärven Polkka versi improvisasi,” jawab Mingi dengan santai.
Hongjoong hanya bisa mendesah frustrasi. Tapi saat ia menyadari bahwa para alien kini bersorak lebih keras, ia memutuskan untuk menyerah pada kekacauan ini.
Saat musik akhirnya berhenti, Mingi menurunkan Hongjoong dengan hati-hati, memastikan pria itu tetap seimbang. Hongjoong mendengus, mengusap pakaiannya yang kini sedikit berantakan.
“Jangan pernah ajak aku menari lagi,” kata Hongjoong dengan nada tegas, meskipun matanya tidak bisa menyembunyikan sedikit rasa lega dan kebahagiaan.
“Kalau kau memintaku seperti itu,” Mingi menjawab dengan senyum penuh arti, “mungkin aku justru akan melakukannya lebih sering.”
Hongjoong mendesah, tapi sebelum ia sempat memarahi Mingi lebih jauh, seorang alien besar mendekati mereka, membawa semangkuk cairan bercahaya yang tampak seperti sup alien.
“Manusia,” katanya dalam bahasa aneh tapi dapat dimengerti. “Tarian kalian sangat mengesankan. Sebagai tanda penghormatan, kami mengundang kalian untuk mencicipi Gluk’kar, hidangan kehormatan kami.”
Hongjoong menatap sup itu dengan cemas, sementara Mingi tersenyum lebar.
“Lihat? Aku bilang kita akan membuat mereka terkesan,” kata Mingi sambil mengambil mangkuk itu dan menyerahkannya pada Hongjoong.
Hongjoong memandang sup itu, lalu Mingi. “Kalau aku mati karena ini, kau bertanggung jawab penuh.”
“Tentu saja,” kata Mingi dengan senyum yang tidak pernah hilang. “Aku selalu bertanggung jawab atasmu, Joong.”

KAMU SEDANG MEMBACA
MYRTLE 🌸 bottom!Hongjoong [⏯]
Fanfictionbottom!Hongjoong / Hongjoong centric Buku terjemahan ©2018, -halahala_