Yeosang menatap dapur apartemen kecil mereka dengan ekspresi campuran kagum dan ngeri. Di meja dapur, Hongjoong berdiri dengan apron hijau lusuh, memegang sebuah bawang merah besar seperti sedang menatap karya seni.
"Joong, kau yakin tidak ada yang salah denganmu?" tanya Yeosang sambil melipat lengan, matanya tak lepas dari bawang itu.
Hongjoong menoleh dengan senyum lebar yang anehnya terlihat menakutkan. "Kenapa kau bertanya begitu? Aku merasa luar biasa!"
"Luar biasa?!" Yeosang mendekat, menunjuk ke arah tumpukan bawang yang menggunung di sudut meja. "Kau sudah membenci bawang selama bertahun-tahun. Sekarang kau bahkan memasang bawang sebagai centerpiece meja makan kita!"
Hongjoong mengangkat bahu sambil mengupas bawang dengan hati-hati. "Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi sejak aku hamil, rasanya... bawang adalah segalanya. Harumnya, teksturnya, rasanya. Ah, bawang adalah keajaiban dunia!"
Yeosang menghela napas panjang. "Joong, kau tahu aku mencintaimu, kan?"
"Tentu saja." Hongjoong meliriknya sambil tersenyum, tangan kecilnya sibuk memotong bawang dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
"Dan kau tahu aku mendukung semua ngidammu," lanjut Yeosang sambil meraih kursi dan duduk di dekat meja. "Tapi kau harus ingat, ini bawang, bukan emas. Kau tidak perlu menyimpannya seperti benda pusaka."
Hongjoong mendengus, jelas tidak terpengaruh oleh komentar Yeosang. "Kau tahu, bawang itu hanya punya 106 kalori per 100 gram, tapi manfaatnya luar biasa. Baik untuk jantung, mengandung antioksidan, bahkan bagus untuk meningkatkan imunitas. Kau harus bersyukur aku makan ini!"
"Joong, kau tahu aku mendukung kesehatanmu," Yeosang menjawab, mencoba menahan tawa. "Tapi ini terlalu jauh. Kau bahkan mengubah camilan tengah malammu jadi bawang panggang. Kau serius? Bawang panggang?"
Hongjoong berhenti mengiris, menatap Yeosang dengan tatapan dramatis. "Apa kau tahu betapa lezatnya bawang panggang dengan sedikit garam dan mentega?"
"Joong, itu bukan soal rasa," Yeosang membalas, mencoba menahan diri agar tidak tertawa lebih keras. "Itu soal kau memasaknya jam dua pagi dan membuat seluruh apartemen berbau seperti warung sate!"
"Ah, itu hanya efek samping kecil," Hongjoong menjawab santai, kembali memotong bawang dengan penuh semangat.
Yeosang menatap pasangan kecilnya itu dengan ekspresi penuh kasih. Ia tahu bahwa ngidam adalah bagian dari perjalanan kehamilan mereka, dan meskipun ngidam Hongjoong terkadang membuatnya bingung, ia tidak bisa menyangkal bahwa ia mencintai setiap momen konyol itu.
"Tapi, Joong," Yeosang berkata, menyandarkan dagunya di tangan, "bagaimana kau bisa berubah dari anti-bawang menjadi pecinta bawang garis keras seperti ini?"
Hongjoong tersenyum lebar, menatap Yeosang dengan mata berbinar. "Mungkin ini cara tubuhku memberitahuku bahwa aku butuh lebih banyak bawang untuk si kecil. Siapa tahu, dia akan tumbuh jadi orang yang sehat dan kuat karena bawang!"
Yeosang tertawa kecil, lalu berdiri dan berjalan mendekat, memeluk Hongjoong dari belakang. "Kalau begitu, aku akan memastikan kita selalu punya stok bawang di rumah. Tapi kau harus janji tidak memasak jam dua pagi lagi, oke?"
Hongjoong tertawa kecil, menyandarkan kepalanya di dada Yeosang. "Oke, oke. Tapi kau harus coba bawang panggangku malam ini. Kau akan jatuh cinta."
Yeosang mendengus. "Baiklah, tapi hanya kalau kau tidak menyajikannya dengan es krim seperti yang kau lakukan minggu lalu."
Hongjoong tertawa terbahak-bahak, aroma bawang yang mengisi dapur mereka bukanlah sesuatu yang mengganggu.

KAMU SEDANG MEMBACA
MYRTLE 🌸 bottom!Hongjoong [⏯]
Fanfictionbottom!Hongjoong / Hongjoong centric Buku terjemahan ©2018, -halahala_