“Kau yakin aku tidak bermimpi sekarang?”
Hongjoong menatap Yeosang dengan wajah yang setengah bingung, setengah terkejut, sambil memegang segelas jus jeruk yang isinya hampir tumpah karena tangannya gemetar. Ia duduk di sofa ruang tamu kecil mereka yang penuh dengan dekorasi aneh—lampu lava, patung flamingo berwarna ungu, dan poster jazz tahun 1950-an yang entah kenapa Yeosang beli secara impulsif minggu lalu.
Yeosang berdiri dengan senyum tipis, seolah baru saja memberikan kabar bahwa ia memenangkan lotere dan kehilangan tiketnya di saat yang bersamaan. “Kau tidak bermimpi,” jawab Yeosang santai, meraih gelas jus dari tangan Hongjoong sebelum benar-benar tumpah. “Aku juga awalnya tidak percaya.”
“Tidak percaya? Aku bahkan tidak tahu harus memercayai apa! Maksudku…” Hongjoong melambaikan tangannya ke udara, matanya berkedip-kedip tidak percaya. “…bagaimana aku bisa hamil? Aku seorang laki-laki! Aku tidak punya…”
Yeosang mengangkat tangan, menyela kalimat Hongjoong yang mulai melenceng ke arah biologis. “Aku tahu itu terdengar aneh, tapi ini kenyataan, Joong. Kau hamil.”
Hongjoong membeku sejenak, lalu menjatuhkan dirinya ke sofa dengan dramatis. “Aku pikir hidupku sudah cukup aneh ketika aku menikah denganmu. Tapi ini…” Ia menunjuk perutnya sendiri yang masih rata. “…ini di luar jangkauan logika!”
Yeosang mendesah, berjalan mendekat lalu berlutut di depan Hongjoong. “Kau tahu, aku selalu bilang kalau kau spesial. Mungkin ini buktinya.”
“Oh, tentu saja aku spesial,” Hongjoong memutar matanya. “Aku seperti unicorn yang bisa melahirkan anak kuda terbang sekarang. Spesial sekali.”
Yeosang menahan tawa, tapi jelas tidak berhasil. “Aku suka analogimu. Unicorn. Anak kuda terbang. Itu bisa jadi nama panggilan bayi kita nanti.”
Hongjoong menatap Yeosang tajam, meski matanya sedikit berkaca-kaca. “Aku tidak bercanda, Yeosang. Ini gila. Aku bahkan tidak tahu bagaimana aku bisa mengatakannya pada teman-teman kita. Apa yang akan mereka pikirkan?”
Yeosang meraih tangan Hongjoong, menggenggamnya erat. “Mereka akan menerima apa pun yang terjadi, seperti aku menerimamu.”
Hongjoong terdiam, memandangi Yeosang yang terlihat tulus meski ia masih mencium aroma kejenakaan di ujung kalimatnya. “Kau tidak akan kabur, kan? Kalau nanti aku mulai ngidam tengah malam, kau tidak akan pura-pura sibuk?”
Yeosang terkekeh, mengangguk pelan. “Aku janji. Kalau kau mau kue cokelat jam dua pagi, aku akan lari mencarinya. Kalau kau mau jazz dimainkan live di ruang tamu, aku akan menyewa band.”
“Jazz live?” Hongjoong mengangkat alis. “Apa kau berpikir aku akan menjadi orang yang minta hal-hal absurd seperti itu?”
“Oh, tentu saja,” jawab Yeosang cepat. “Aku tahu selera eksentrikmu. Jangan lupa, kau pernah memintaku membeli lampu lava warna pink neon karena kau bilang itu ‘aura healing’.”
Hongjoong membuka mulut untuk membantah, tapi akhirnya memilih diam. Yeosang memang punya poin. “Itu berbeda. Aku stres saat itu.”
“Dan sekarang kau stres lagi. Jadi, siapa tahu apa yang akan kau minta nanti?” Yeosang tersenyum lebar, tapi kali ini ada kelembutan di matanya.
Hongjoong tidak tahan untuk tidak tersenyum juga, meski hanya sedikit. “Ini masih terasa seperti mimpi,” gumamnya. “Aku masih tidak percaya ini terjadi.”
Yeosang mengusap pipi Hongjoong pelan, senyumannya tidak memudar. “Kalau begitu, biarkan aku membantumu mempercayainya.”
Dan sebelum Hongjoong sempat bertanya apa maksudnya, Yeosang sudah memeluknya erat, mencium puncak kepalanya dengan lembut. Hongjoong merasa mungkin saja semuanya akan baik-baik saja—meski ia masih tidak yakin bagaimana menjelaskan ini ke dokter nanti.

KAMU SEDANG MEMBACA
MYRTLE 🌸 bottom!Hongjoong [⏯]
Fanfictionbottom!Hongjoong / Hongjoong centric Buku terjemahan ©2018, -halahala_