Park Seonghwa

42 10 0
                                    

Hongjoong menatap layar laptopnya dengan tatapan frustrasi. Di depan matanya, slide presentasi yang seharusnya selesai sejak tiga hari lalu masih kosong. Hanya ada judul besar bertuliskan “Pengaruh Revolusi Digital terhadap Seni Kontemporer”, yang dia tulis dua jam lalu, dan tak ada lagi tambahan berarti.

“Kenapa aku setuju ambil proyek ini?” gumamnya, menyandarkan kepalanya ke meja di tengah perpustakaan kampus. “Aku bahkan nggak tahu seni kontemporer itu apa.”

Sebuah suara rendah namun hangat menyahut dari samping, “Seni kontemporer itu ekspresi seni yang relevan dengan kehidupan modern, Hongjoong.”

Hongjoong mendongak, hanya untuk menemukan sosok Seonghwa berdiri di sana, mengenakan kemeja putih yang digulung hingga siku, dan senyum kecil yang cukup untuk membuat Hongjoong ingin menyembunyikan wajahnya di balik laptop.

“Kenapa kau selalu muncul di saat aku terlihat paling menyedihkan?” tanya Hongjoong, setengah bercanda, setengah frustasi.

Seonghwa tertawa kecil dan menarik kursi di sebelahnya. “Karena aku tahu kau butuh bantuan, dan aku orang yang paling tepat untuk itu.”

“Percaya diri sekali,” gumam Hongjoong, tapi dia tidak menolak saat Seonghwa mendekatkan laptopnya untuk membaca lebih jelas.

“Judulnya sudah bagus,” komentar Seonghwa. “Tapi kau mungkin perlu memulai dengan definisi dulu. Atau, kalau kau mau lebih menarik, coba mulai dengan contoh seni kontemporer favoritmu.”

“Masalahnya, aku nggak punya contoh favorit,” jawab Hongjoong jujur. “Aku memilih topik ini karena dosen bilang ini ‘aman’ untuk nilai bagus.”

Seonghwa tersenyum, memiringkan kepalanya sedikit. “Kalau begitu, kita cari contoh yang bisa kau sukai.”

Hongjoong menatapnya ragu. “Kita?”

“Tentu saja. Apa aku terlihat seperti orang yang meninggalkanmu sendirian dengan masalah ini?” Seonghwa menjawab sambil mengeluarkan ponselnya, membuka aplikasi pencarian gambar. “Coba lihat ini—lukisan yang dibuat dengan menggunakan kecerdasan buatan. Menarik, kan?”

Hongjoong mengerutkan dahi, mencoba fokus pada gambar di layar ponsel Seonghwa, tapi matanya terus melirik wajah pria itu. Caranya Seonghwa menjelaskan dengan antusias—seperti dia benar-benar peduli agar Hongjoong paham—membuat jantung Hongjoong berdegup lebih cepat.

“Joong?” panggil Seonghwa, membuat Hongjoong tersentak kembali ke kenyataan.

“Apa?” jawabnya gugup.

“Aku tanya, menurutmu ini ide bagus untuk presentasimu?”

“Oh, iya, tentu saja,” jawab Hongjoong cepat, meskipun dia belum benar-benar mencerna apa yang Seonghwa katakan.

Seonghwa tertawa lagi. “Kau tidak mendengarkanku, kan?”

Hongjoong menggigit bibir bawahnya, merasa ketahuan. “Maaf. Aku cuma… ya, kau tahu…”

“Memikirkan sesuatu yang lain?” goda Seonghwa, nadanya penuh arti.

Hongjoong langsung menunduk, mencoba menyembunyikan pipinya yang memerah. Tapi sebelum dia bisa membalas, suara perpustakaan berbunyi, mengumumkan bahwa jam tutup sudah dekat.

“Aku harus pergi,” kata Seonghwa sambil berdiri. “Tapi jangan khawatir, aku akan membantumu lagi besok.”

Hongjoong mengangguk pelan. Tapi saat Seonghwa mulai berjalan pergi, dia tiba-tiba memanggil, “Seonghwa!”

Seonghwa berbalik, alisnya terangkat. “Ya?”

Hongjoong ragu sejenak sebelum akhirnya berkata, “Terima kasih. Serius. Aku mungkin benar-benar gagal kalau bukan karena kau.”

Senyum Seonghwa melebar. “Kau tidak akan gagal. Dan kalaupun kau butuh aku di proyek lain—atau apa pun itu—aku selalu ada.”

Saat Seonghwa benar-benar pergi, Hongjoong tetap duduk di tempatnya, menatap layar laptop dengan senyum kecil yang muncul tanpa ia sadari.

Keesokan harinya, Hongjoong kembali ke perpustakaan, kali ini dengan niat menyelesaikan presentasinya. Tapi begitu dia melihat Seonghwa duduk di meja favorit mereka, matanya langsung bertemu tatapan pria itu.

“Joong,” panggil Seonghwa sambil melambaikan tangan, seolah itu adalah hal yang paling alami di dunia.

Hongjoong mendekat, merasa bahwa meskipun proyek ini melelahkan, dia tidak keberatan sedikit pun selama ada Seonghwa di sisinya.

Ternyata, hanya dia yang membuat segalanya terasa lebih baik.

MYRTLE 🌸 bottom!Hongjoong [⏯]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang