Suasana kota kecil Deadwillow terasa lebih mencekam dari biasanya. Angin yang bertiup kencang menerpa pepohonan tua di sekitar rumah Seonghwa dan Hongjoong, membuat daun-daun berbisik seolah menyampaikan peringatan. Di dalam rumah, Hongjoong duduk di sofa dengan selimut tebal membungkus tubuhnya, wajahnya tampak lemas dan sedikit pucat.
"Aku rasa aku hampir mati," keluh Hongjoong sambil melirik Seonghwa yang sibuk di dapur.
Seonghwa menoleh, membawa semangkuk sup panas dengan wajah datar penuh skeptis. "Kau bilang hal yang sama kemarin hanya karena kau tergores kertas."
"Itu luka serius!" protes Hongjoong, melipat tangannya di dada sebelum langsung menyesal karena dadanya terasa nyeri. "Dan sekarang ini lebih buruk. Aku... aku rasa ini akhirku."
Seonghwa mendesah panjang sambil duduk di sebelah Hongjoong, meletakkan mangkuk sup di meja. "Kau hanya demam, Hongjoong. Kau tidak akan mati. Aku yakin ada banyak hal lain yang akan membunuhmu lebih dulu di kota ini."
Hongjoong melotot ke arahnya, meskipun matanya sedikit berkaca-kaca karena efek demam. "Bagaimana mungkin kau mengatakan itu dengan wajah setenang itu? Aku ini menderita!"
Seonghwa mencondongkan tubuh ke depan, menatap Hongjoong dengan tatapan penuh perhatian—atau setidaknya yang tampak seperti perhatian. "Sayang, kalau kau benar-benar sekarat, aku akan jadi orang pertama yang menangis. Tapi sampai saat itu, makan supmu."
"Aku tidak lapar," jawab Hongjoong, merajuk seperti anak kecil.
Seonghwa hanya mengangkat alis. "Kau bilang begitu tadi pagi, dan sekarang kau bahkan tidak punya tenaga untuk membantah dengan baik."
Hongjoong membuka mulutnya untuk membalas, tapi suara di luar rumah membuat mereka berdua terdiam. Suara itu adalah sesuatu yang tidak wajar—seperti gesekan logam tajam di atas beton.
Seonghwa berdiri, ekspresinya langsung berubah serius. "Tunggu di sini."
"Kenapa kau selalu bilang begitu dalam situasi seperti ini? Kau tahu aku tidak akan menunggu di sini, kan?" balas Hongjoong, mencoba bangkit tapi langsung terhuyung ke sofa lagi.
"Tepat sekali. Itu sebabnya aku harus memastikan kau tidak bisa ikut." Seonghwa meraih pintu dapur, mengunci dengan satu putaran cepat sebelum keluar melalui pintu depan, meninggalkan Hongjoong yang menggerutu pelan.
Di luar, Seonghwa berjalan perlahan di sepanjang halaman depan, telinganya tajam mendengar suara langkah kaki yang berat dan teratur. Ia tahu betul kota ini punya sejarah panjang dengan hal-hal aneh, tapi tidak pernah ada yang cukup menyeramkan untuk membuatnya gentar—kecuali mungkin Hongjoong dengan demam tinggi.
Dari bayang-bayang pohon, seorang pria muncul. Tubuhnya besar, dengan pisau besar yang bersinar di bawah cahaya bulan. Topeng putih tanpa ekspresi menutupi wajahnya, menciptakan suasana yang semakin menyeramkan.
"Aku tahu kau ada di sini untuk sesuatu," kata Seonghwa dengan nada santai, menyilangkan tangan di dada. "Tapi kau datang di waktu yang salah. Kekasihku sedang sakit, dan aku sedang tidak punya energi untuk drama."
Pria bertopeng itu tidak merespons, hanya mendekat perlahan, pisaunya terangkat sedikit.
Seonghwa menghela napas panjang. "Baiklah. Kita lakukan ini dengan cara sulit."
Di dalam rumah, Hongjoong meraih ponselnya, mencoba menelepon seseorang—siapa saja—tapi tentu saja, tidak ada sinyal. Ia mendengus, membuang ponselnya ke sofa. "Kenapa di kota ini sinyal selalu hilang di saat-saat genting?"
Tiba-tiba, suara keras datang dari arah dapur. Hongjoong menoleh cepat, meskipun gerakan itu membuat kepalanya berputar. "Seonghwa?" panggilnya, suaranya sedikit gemetar.
Tidak ada jawaban.
Ia mencoba bangkit lagi, kali ini dengan lebih hati-hati. Langkahnya pelan menuju dapur, tangan gemetar meraih gagang pintu. Tapi sebelum ia bisa membukanya, pintu itu terbuka dengan keras, memperlihatkan pria bertopeng yang tadi di luar.
Hongjoong tersentak mundur, jantungnya berdetak kencang. "Oh, bagus sekali. Kau pembunuh berantai, ya? Karena aku belum cukup sial hari ini."
Pria bertopeng itu mengayunkan pisaunya ke arah Hongjoong, tapi gerakannya terlalu lambat. Dengan reflek aneh yang hanya dimiliki oleh orang yang terlalu sering menonton film horor, Hongjoong meraih panci dari meja dan memukul pria itu tepat di kepala.
Pria itu terhuyung, dan sebelum ia bisa pulih, Seonghwa muncul dari belakangnya, memegang sepotong kayu besar yang langsung ia ayunkan ke punggung pria itu.
"Kenapa kau tidak pernah mendengarkanku?" tanya Seonghwa dengan nada frustrasi, meskipun ia terlihat lega.
"Karena aku tidak bodoh untuk membiarkanmu menghadapi pembunuh sendiri!" balas Hongjoong, meskipun suaranya terdengar lemah.
Seonghwa tersenyum kecil, menyingkirkan kayu itu sambil meraih Hongjoong ke dalam pelukannya. "Kau ini benar-benar menyusahkan, tahu?"
Hongjoong hanya mendengus, menyandarkan kepalanya di dada Seonghwa. "Dan kau sangat mengganggu. Tapi aku rasa aku cinta kamu."
Seonghwa tertawa pelan, membelai rambut Hongjoong yang berantakan. "Aku tahu. Dan aku juga cinta kamu."
Di lantai, pria bertopeng itu masih tidak sadarkan diri. Tapi bagi Seonghwa dan Hongjoong, malam itu hanyalah malam biasa di Deadwillow—tempat di mana cinta dan kekacauan selalu berjalan beriringan.

KAMU SEDANG MEMBACA
MYRTLE 🌸 bottom!Hongjoong [⏯]
Fanfictionbottom!Hongjoong / Hongjoong centric Buku terjemahan ©2018, -halahala_