ATEEZ

49 11 0
                                    

Hongjoong tidak mengerti bagaimana semua ini bisa terjadi. Satu menit yang lalu, ia sedang duduk di sofa dorm dengan tenang, mencoba menyelesaikan tugas kuliahnya. Tapi sekarang, ruang tamunya penuh sesak dengan enam orang pria yang entah bagaimana merasa perlu berada di sini malam ini.

Yunho adalah yang pertama datang, membawa kantong plastik besar berisi ayam goreng. Pria tinggi itu masuk dengan senyuman lebar, seolah-olah ini adalah rumahnya sendiri. “Aku bawa ayam goreng! Kau lapar, Joongie?” katanya dengan ceria.

Hongjoong yang tengah mengetik di laptop hanya melirik sekilas. “Kenapa kau muncul tanpa kabar? Dan kenapa kau beli ayam lagi? Bukannya tadi kau bilang sedang diet?”

Yunho hanya mengangkat bahu, tidak peduli dengan kritik tersebut. “Kau tahu aku tidak bisa menolak makanan enak. Lagi pula, aku mau makan sambil menemanimu mengerjakan tugas.”

Hongjoong mendengus pelan. “Bagaimana kau tahu aku sedang mengerjakan tugas?”

Yunho tersenyum penuh percaya diri. “Insting,” jawabnya singkat.

Hongjoong hanya mendesah, berusaha mengabaikan Yunho yang kini sibuk membuka bungkus ayam gorengnya. Tapi sebelum ia sempat kembali fokus, pintu dorm diketuk lagi.

Saat Hongjoong membukanya, Wooyoung langsung menyerobot masuk tanpa permisi. Pria itu membawa setumpuk DVD di tangannya. “Maraton film malam ini! Aku bawa semua film aksi favoritmu!”

Hongjoong berdiri terpaku, mencoba mencerna situasi yang kini semakin kacau. “Wooyoung, aku sedang sibuk. Yunho juga sudah ada di sini!” protesnya.

Wooyoung menoleh, matanya menyipit saat melihat Yunho sudah nyaman duduk di sofa. “Apa? Kau sudah duluan datang? Licik sekali!”

“Hey, dia tidak keberatan aku ada di sini,” Yunho menjawab santai sambil menggigit sayap ayam.

Wooyoung mendengus, kemudian berbalik ke arah Hongjoong. “Jadi, siapa yang kau pilih untuk menemanimu malam ini?”

Hongjoong memutar matanya. “Aku pilih yang tidak menggangguku!” jawabnya tegas, meskipun dia tahu itu mustahil.

Saat suasana mulai memanas antara Yunho dan Wooyoung, pintu dorm terbuka lagi. Kali ini Seonghwa muncul, membawa sekotak kue di tangannya. Dia memandang keributan kecil itu dengan alis terangkat. “Kalian bertiga kenapa ribut? Ini dorm, bukan pasar.”

Hongjoong menghela napas panjang, merasa semakin frustrasi. “Seonghwa, kau juga? Apa kalian semua punya radar untuk mengetahui kalau aku sedang berusaha bekerja?”

Seonghwa tidak menjawab, hanya menyerahkan kotak kue itu padanya. “Aku hanya ingin memastikan kau makan dengan benar. Ayam goreng itu tidak sehat.”

“Setidaknya aku membawa hiburan, bukan hanya kotak kue,” sindir Wooyoung, yang langsung mendapat tatapan tajam dari Seonghwa.

Belum selesai perseteruan kecil itu, San muncul dari arah dapur dengan gitar di tangannya. “Aku pikir dorm ini akan tenang malam ini, tapi ternyata ramai sekali,” katanya santai, sebelum duduk di sofa.

“San, aku sedang mengerjakan tugas. Apa kau juga punya rencana aneh untuk menggangguku?” tanya Hongjoong dengan nada penuh keputusasaan.

San mengangkat bahu. “Tidak, aku hanya ingin bernyanyi sedikit. Kau tahu, untuk menciptakan suasana.”

Hongjoong mengusap wajahnya dengan tangan, merasa seperti hidupnya sedang diatur oleh skenario komedi murahan.

Seolah itu belum cukup, Yeosang datang membawa teh dalam cangkir kaca yang terlihat mahal. Dia menatap semua orang di ruang tamu sebelum mendekati Hongjoong. “Aku kira hanya aku yang peduli padamu malam ini,” katanya dengan nada dingin, menyodorkan teh itu padanya.

Hongjoong menatap cangkir itu dengan bingung. “Kenapa kau membawa teh?”

“Minuman herbal ini baik untuk pikiran yang stres,” jawab Yeosang dengan tenang.

Hongjoong mulai merasa seperti target dari konspirasi besar. Dan tepat saat dia berpikir bahwa situasi tidak mungkin lebih kacau, Jongho masuk membawa kantong plastik berisi buah. “Apa ini pertemuan bulanan? Kenapa aku tidak diundang?”

Hongjoong menatap mereka semua dengan ekspresi kelelahan yang luar biasa. “TIDAK ADA UNDANGAN! KALIAN SEMUA MASUK TANPA DIUNDANG!” teriaknya, membuat semua orang tertawa kecil.

Tawa itu makin keras saat Mingi tiba-tiba muncul dari pintu dengan sekotak pizza besar. “Aku membawa makanan penutup,” katanya santai, seolah ini adalah pesta.

Hongjoong akhirnya menyerah. Dia membiarkan mereka semua memenuhi ruang tamu, makan, berbicara, dan tertawa, sementara dia duduk di sofa dengan ekspresi lelah. Di tengah keramaian itu, dia sadar bahwa meskipun mereka semua mengganggu, ada kenyamanan tersendiri saat dikelilingi oleh orang-orang yang peduli padanya.

Malam itu, tugasnya tidak selesai. Tapi Hongjoong tahu, di balik semua kekacauan ini, hanya mereka yang bisa membuat hidupnya terasa lebih penuh warna.

Ternyata, hanya mereka yang mampu membuatnya merasa bahwa segala kekacauan adalah hal yang berharga.

MYRTLE 🌸 bottom!Hongjoong [⏯]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang