Jung Yunho [⚠mpreg]

36 5 0
                                    

Hongjoong berdiri di ruang tamu apartemennya, mengenakan hoodie kebesaran yang membuat tubuh kecilnya tenggelam, sementara tangannya gemetar memegang test pack. Yunho duduk di sofa dengan tatapan bingung.

"Jadi... garis dua artinya apa, Joongie?" Yunho bertanya dengan polos, alisnya bertaut.

Hongjoong mendengus kesal, melemparkan test pack itu ke arah Yunho yang dengan sigap menangkapnya. "Artinya aku hamil, bodoh!"

Mata Yunho membesar seperti piring. "Tunggu. Kau hamil? Aku... aku akan jadi ayah?"

Hongjoong mengangguk cepat, tangannya melipat di dada. "Dan kau akan bertanggung jawab, Yunho. Ini semua salahmu!"

Yunho menatapnya tak percaya. "Salahku? Bukankah ini terjadi karena kita berdua? Lagipula, kau yang bilang, 'Yunho, ayo kita coba sesuatu yang baru di atas meja dapur.' Aku hanya mengikuti arahan, Joongie!"

Wajah Hongjoong memerah, tapi bukan karena malu, melainkan marah. "Kau tidak perlu mengingatkan detailnya! Sekarang fokus pada fakta bahwa aku mengandung!"

Yunho terdiam sejenak, lalu sebuah senyum lebar muncul di wajahnya. "Tunggu, Joongie... ini luar biasa. Kita akan punya bayi!"

Hongjoong memutar matanya. "Luar biasa? Ini mimpi buruk! Aku tidak bisa membayangkan harus membawa perut besar ke mana-mana sementara kau cuma bersenang-senang!"

Yunho mendekat, menarik Hongjoong ke dalam pelukan. "Hei, kau tidak perlu khawatir."

Hongjoong mencoba mendorongnya, tapi Yunho terlalu besar dan kuat. "Lepaskan aku, Yunho! Aku masih marah!"

"Tidak sebelum kau tenang," jawab Yunho dengan tenang, menyandarkan dagunya di puncak kepala Hongjoong.

Hongjoong menggerutu pelan, tapi akhirnya menyerah. "Kau tahu, aku membencimu. Tapi juga... aku butuh burger keju sekarang. Yang besar."

Yunho terkekeh. "Pesanan diterima, calon ibu dari anakku."

Tiga bulan berlalu, dan Hongjoong sudah mulai menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Ia semakin manja dan emosional, sedangkan Yunho semakin seperti pelayan pribadi.

"Yunho! Aku tidak bisa menemukan cincinku!" teriak Hongjoong dari kamar tidur.

Yunho, yang sedang mencuci piring, mengeringkan tangannya dengan tergesa-gesa. "Cincin yang mana? Kau punya banyak!"

"Cincin kawin, bodoh!"

Yunho masuk ke kamar tidur dan menemukan Hongjoong berdiri di depan cermin, memeriksa setiap sudut ruangan. "Bukankah kau selalu memakainya?"

"Ya, tapi jari-jariku bengkak! Aku melepasnya semalam, dan sekarang hilang!" Hongjoong mulai panik. "Bagaimana jika bayi kita lahir dan aku tidak memakainya? Dia akan berpikir aku orang tua tunggal!"

Yunho menahan tawa, lalu mendekat dan memeluknya dari belakang. "Bayi kita bahkan tidak akan peduli apakah kau memakai cincin atau tidak, Joongie. Tapi aku akan membantu mencarinya."

Hongjoong menghela napas, menyandarkan kepalanya ke dada Yunho. "Aku tahu aku terdengar berlebihan. Tapi hormon ini benar-benar membuatku gila."

"Kau tidak gila," Yunho berbisik lembut. "Kau hanya calon ibu yang luar biasa."

Hongjoong mendengus, meski pipinya memerah. "Jangan mencoba merayuku dengan kata-kata manis, Yunho. Aku masih butuh cincinku."

Setelah pencarian selama satu jam yang melibatkan membongkar seluruh kamar, cincin itu akhirnya ditemukan di dalam laci dapur, di samping sekantong keripik kentang.

Yunho mengangkatnya dengan bangga. "Cincinnya ditemukan, dan aku tahu siapa pelakunya. Kau makan keripik tengah malam lagi, kan?"

Hongjoong mengangkat dagunya, pura-pura tidak bersalah. "Aku hanya butuh camilan."

"Joongie, kau adalah definisi dari kekacauan yang menggemaskan," kata Yunho sambil memasangkan cincin itu kembali ke jari Hongjoong.

Pada bulan keenam kehamilannya, Hongjoong mulai merasa gelisah tentang bagaimana ia akan melahirkan.

"Yunho, apa kau tahu seberapa besar bayi itu nanti?" tanya Hongjoong saat mereka duduk di sofa, menonton drama.

Yunho menoleh dengan santai. "Aku belum tahu, tapi pasti tidak lebih besar dari semangka."

Hongjoong menatapnya tajam. "Semangka?! Kau tahu betapa besar semangka itu?! Aku tidak mungkin bisa—"

Yunho buru-buru meraih tangan Hongjoong, mencoba menenangkannya. "Hei, tenang, Joongie. Dokter bilang tubuhmu kuat dan sehat. Kau pasti bisa melakukannya."

"Oh, jadi menurutmu ini gampang? Kenapa kau tidak coba melakukannya sendiri, Yunho?!" Hongjoong melotot, matanya mulai berair.

Yunho merasa bersalah, menarik Hongjoong ke pelukan. "Maaf, Joongie. Aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya ingin kau tahu kalau aku percaya padamu."

Hongjoong mendengus, tapi akhirnya menyandarkan kepalanya di dada Yunho. "Kalau aku berhasil melahirkan bayi ini, kau harus membelikanku cincin baru."

Yunho terkekeh. "Deal. Tapi kau tahu, Joongie, kau selalu terlihat paling cantik saat marah."

Hongjoong memukul dadanya dengan ringan. "Hentikan menggoda aku, Yunho. Fokus pada drama!"

Ketika hari persalinan tiba, Hongjoong panik saat kontraksi pertama datang.

"Yunho! Ini saatnya! Cepat ambil tas rumah sakit!" teriak Hongjoong sambil meremas lengan Yunho dengan kekuatan luar biasa.

Yunho, yang baru saja bangun tidur, terjatuh dari tempat tidur. "Oke, oke! Aku siap! Jangan bunuh aku dulu, Joongie!"

Setelah perjalanan penuh teriakan—kebanyakan dari Hongjoong yang mengeluh tentang cara Yunho mengemudi—mereka akhirnya tiba di rumah sakit.

"Ayo, Joongie. Kau bisa melakukannya," kata Yunho sambil menggenggam tangan Hongjoong saat mereka berada di ruang bersalin.

Hongjoong menatapnya dengan penuh kebencian. "Kau bilang itu lagi, dan aku akan menggigit tanganmu!"

Yunho tertawa kecil, meski Hongjoong benar-benar terlihat serius. "Aku di sini untukmu, sayang."

Setelah perjuangan panjang yang diwarnai dengan tangisan, jeritan, dan beberapa kata umpatan yang membuat perawat tersipu, bayi mereka akhirnya lahir.

Hongjoong menangis saat ia melihat bayinya untuk pertama kali. "Dia... dia sangat kecil."

Yunho tersenyum, menghapus air mata dari pipi Hongjoong. "Kecil, tapi sempurna. Seperti kau."

Hongjoong menghela napas lega, memeluk bayi mereka dengan penuh cinta. "Aku tidak percaya aku berhasil melakukannya."

Yunho mengecup keningnya. "Kau selalu bisa, Joongie."

Hongjoong menatapnya, senyum kecil muncul di bibirnya. "Baiklah, Yunho. Sekarang waktunya kau memenuhi janji itu. Aku ingin cincin yang lebih besar."

Yunho tertawa keras, mengangguk. "Apa pun untukmu, sayang. Apa pun."

MYRTLE 🌸 bottom!Hongjoong [⏯]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang