Kecepatan penyembuhan Erys sungguh luar biasa, dia selalu memiliki semangat yang tinggi untuk pulang. Sekarang dia sudah hampir kembali ke keadaan semula. Keluarganya selalu menemani, terutama Eros yang tidak membiarkan Erys kesusahan sekalipun.
Eros akan pergi bekerja di pagi hari tapi sering tiba-tiba sudah kembali ke kamar rawat inapnya untuk meneruskan pekerjaan di sana. Erys tidak berkomentar, dia menerima Eros dengan senang hati.
Eros selalu akan meninggalkan Erys dalam keadaan wangi, rambutnya bahkan sering ditata Eros. Eros juga sering menyuapi Erys makanannya, membantunya memotong kuku dan memijat tangan dan kakinya. Sungguh Erys berasa seperti ratu.
Sekarang dengan keadaannya yang sudah pulih, Erys diizinkan untuk pulang ke rumah. Pagi-pagi sekali Eros sudah ada di sini, membantu orang tuanya bersiap. Dia bilang tidak berangkat kerja maka dari itu Eros datang memakai kaos polo saja. Sungguh tampan.
"Mau pakai kursi roda?" Tanya Chandra.
"Biar Eros yang dorong nanti."
"Ah aku mau jalan aja."
Eros dan Erys menjawab bersamaan, kedunya lalu saling berpandangan. "Naik kursi roda saja, jauh." Kata Eros berjalan menghampiri Erys.
Erys cemberut, dia sudah lama tidak berjalan jauh mungkin hanya jalan jalan singkat ke depan belum sampai keluar. Tapi dia yakin tubuhnya sudah sangat kuat. Tidak tahu saja kalau Erys sudah yoga di kamar rawatnya saat Eros sedang tidak ada.
Kali ini Erys tetap menolak, "Kakiku lama-lama jadi pemalas kalau enggak jalan." Ujarnya main-main.
Arena tampak tertawa lalu mengelus rambut putrinya, "nanti bunda yang gandeng Erys."
Akhirnya kedua wanita menang. Mereka berjalan keluar rumah sakit. Chandra menyetir sendiri hari ini. Sedangkan Erys dan Eros naik di kursi penumpang belakang.
Tidak ada rasa trauma atau apapun pada Erys, tapi dia dengan pelan sekali bersandar pada Eros. Menggenggam tangannya yang mengepal. Tentu saja Eros membalas genggaman itu sangat kuat.
"Jangan takut." Gumam Eros.
Erys tersenyum tipis. Kata-kata itu seperti menenangkan Eros sendiri. "Ya, jangan takut." Erys mengangguk.
Perjalanan kali ini berjalan dengan sangat lancar, mereka tiba di rumah tiga puluh menit kemudian. Ternyata semua orang menunggu di rumah. Ah tumben sekali full skuat di rumah.
"Erys sayang!"
Erys membelalakkan matanya saat dipeluk dengan erat oleh sang Oma. "Oma?" Tanyanya bingung. Dia kira sang oma tidak akan datang tapi itu mustahil. Cucu perempuan satu-satunya yang tersayang terluka tentu sang oma datang. "Kapan kesini?" Tanyanya kemudian.
Kirana melepaskan pelukannya, "tadi pagi. Dada kamu itu bandel banget, tahu cucu perempuan oma yang paling cantik ini kecelakaan bukannya langsung kabarin malah diam aja. Pantes aja—" Omanya menyerepet banyak hal, lalu menjewer telinga dadanya sampai memerah.
Erys tertawa melihat Dadanya yang memberi kode, dengan kekehan Erys melepaskan jeweran itu. "Dada kan gak mau oma khawatir. Sudah tua gak boleh kaget."
Kini giliran Erys yang dicubit. "Nah nah tambah Kaivan cocok kalian bertiga." Kirana menggelengkan kepalanya. Pandangannya lalu tertuju pada Eros yang diam saja sejak tadi.
Ah cucunya yang ini, mirip sekali dengan Adam. Tidak pernah bermanja-manja padanya, selalu menjaga jarak dengan bersikap dingin. Memang turunan Adam. Mirip sekali.
"Eros ini yang paling gak nakal." Kirana memeluk Eros lalu menepuk bahunya. "Kamu juga malah gak pernah telpon Oma. Sudah besar tambah mirip Adam."
Eros tersenyum tipis.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fall Apart
RomanceSequel of Fall in Love Eros Kalnandra Nararya Adam mengenal Erys Serapina Adam bahkan sejak Erys masih dalam kandungan tantenya. Nama Erys pun pilihan Eros, mereka sedekat nadi dan tidak terpisahkan walau bahkan oleh jarak umur yang terpaut jauh. Ba...
