Erys memejamkan matanya, membiarkan tubuhnya bersandar di pelukan Eros. merasakan kantuk yang tidak segera datang. Tangannya berada dalam genggaman tangan Eros.
Dia jadi berpikir, bagaimana kalau hubungan ini berlanjut ke arah yang lebih dalam. Mereka secara kasar disebut sepupu. Walaupun sebenarnya tidak sesederhana itu. Mereka punya kakek nenek yang berbeda.
Tapi sepertinya terlalu dini memikirkan itu, yang ingin dia lakukan sekarang adalah menikmati perhatian Eros yang sepertinya jadi lebih pendiam setelah dia kecelakaan. Yah, dia juga tidak tahu kenapa sesial itu kalau berhubungan dengan kendaraan.
Erys juga tahu dari Kaivan kalau Eros jadi jarang berbicara selama dia koma. Makan tidak nafsu, apalagi beraktivitas. Pantas saja, badan dan wajah Eros tampak kuyu.
Selama dua hari ini juga Eros tidak banyak bicara, hanya mengamatinya dan membantu jika dia terlihat sedikit saja kesusahan. Saat malam, mereka akan selalu seperti ini. Sekedar dia tidur di bed dan Eros di samping menggenggam tangannya atau posisi seperti ini. Keduanya belum berbicara apapun sejak pertama di posisi ini.
Bahkan kantuk menghampiri Erys dan dia terbangun beberapa jam kemudian, posisi mereka masih saling berpelukan. Erys juga melihat tubuhnya yang terlilit selimut tebal di pelukan Eros.
"Kak Eros." Panggil Erys sambil menyipitkan matanya yang masih terasa lengket. "Jam berapa?"
Suara serak terdengar dari belakang kepalanya, "jam 3, tidur lagi."
Erys menghela napas, "pindah bed aja akunya, Kak Eros tidur di bed satunya." Pinta Erys sembari mendongakkan matanya.
Melihat tatapan Eros yang tidak bisa dia baca itu, Erys tahu Eros enggan melepaskan pelukannya. Erys jadi segera menambahkan, "emang Kak Eros gak capek posisi ini?" Erys nyaman saja karena dia selonjoran, sedangkan posisi Eros terlihat tidak nyaman.
Eros menggeleng tanpa menjawab. Tangannya malah mengeratkan pelukannya pada Erys sampai Erys tenggelam dalam pelukan.
Haduh, salahnya Erys karena bertanya itu. Jadi dengan suara pelan dia ikut menambahi, "tapi aku pegel." Bohongnya. Yah berbohong demi kebaikan itu tidak apa apa.
"Maaf ya." Eros mengecup rambutnya lalu tanpa aba-aba menggendongnya. Erys segera mengalungkan tangannya ke leher Eros.
Dengan sangat hati-hati, Eros membaringkan Erys. Tidak lupa mengecup dahinya juga. Eros tidak segera berbaring, tetapi membawa tangannya untuk dipijat pelan dan penuh kasih sayang.
Erys menahan tangan Eros, "tidur Kak Eros." Ujarnya sangat pelan. Tetapi Eros masih melanjutkan memijat tangannya.
"Biar gak pegal." Sesekali Eros mengecupi jari-jarinya tangan Erys. Kepalanya menunduk, tidak membiarkan Erys melihat matanya.
Eros sadar, beberapa kali sejak Kaivan menceritakan keadaannya selama Erys koma. Erys akan diam-diam menatap matanya, lalu pandangan Erys akan sayu seolah mengkasihaninya. Tidak apa-apa, dia memang sangat kasihan.
Kesedihan tidak berhenti berputar di hatinya. Moodnya bahkan masih sangat berantakan, emosi sedih akan tiba-tiba menghampirinya. Suasana hatinya akan begitu melankolis. Bahkan tangannya akan sedikit bergetar secara mengejutkan.
Melihat Eros yang tidak mau berhenti, Erys hanya bisa menghela napas dalam hati. Lalu dengan kesadaran penuh, Erys menghampiri wajah Eros dengan raut wajah genit. Bibir Erys tersenyum lebar saat melihat Eros tampak terkejut. "Naik sini?" Tawarnya sambil menepuk space kosong di bed.
Eros terkejut, lalu tubuhnya tanpa menunggu perintah langsung naik perlahan. Mereka tidur berhadapan dengan posisi Erys lebih tinggi dari Eros menyebabkan Erys menunduk. "Kak Eros juga butuh istirahat."
KAMU SEDANG MEMBACA
Fall Apart
RomanceSequel of Fall in Love Eros Kalnandra Nararya Adam mengenal Erys Serapina Adam bahkan sejak Erys masih dalam kandungan tantenya. Nama Erys pun pilihan Eros, mereka sedekat nadi dan tidak terpisahkan walau bahkan oleh jarak umur yang terpaut jauh. Ba...
