halo!
jangan lupa tinggalkan feedback yang baik, chapter ini lumayan panjang.
selamat membaca, sayang.
Setiap kali menulis di baris awal, Kiya akan terus mengganti kertasnya dengan yang baru sebab air matanya terus jatuh pada kertas-kertas sebelumnya. Kiya tetap tak bisa menghentikan tangisnya, ia merasa bersalah dan sedih sekaligus. Jika Jeffrey sudah benar-benar beranjak dan memilih pergi, maka artinya Kiya sudah terlalu menyakiti hati lelaki itu. Sengaja mengambil jarak agar tak ada kata-kata menyakitkan lain yang keluar di antara mereka.
Jeffrey sangat membenci kata-kata yang Kiya lontar sebelum ia memilih untuk pergi, dan Kiya hampir selalu mengatakan itu di setiap pertikaian mereka. Saat itu juga, Kiya menjadi sadar bahwa ia memang memperkeruh keadaan, ia hanya membesar-besarkan masalah.
Selang satu jam, Jeffrey kembali dan Kiya masih ditempat yang sama seperti saat ia pergi. Perempuan itu masih sesegukan sembari menulis laporan praktikum miliknya, melihat itu Jeffrey benar-benar sangat sedih. Kiya menyadari Jeffrey datang menghampirinya, dan menatap Jeffrey saat lelaki itu duduk disampinya.
Ia mengelus kepala Kiya dengan lembut, "Sayang, jangan nangis lagi..." justru semakin ditenangi membuat Kiya semakin menangis.
"Mas Jeffrey... setelah dipikir lagi, Kiya memang berlebihan. Kuliah nggak selamanya begini kok, Mas, nanti pasti akan lebih senggang setelah semuanya selesai. Jangan ambil hati dengan keluhan Kiya ya, Mas." Ucap Kiya ditengah tangisnya, ia bahkan sampai merasa sesak ketika berkata demikian.
"Kiya, ngeluh itu gapapa, sayang. Kamu bisa ceritain apapun kesulitan kamu ke Mas, justru semakin dipendam itu akan buat perasaan kamu kurang baik, kayak sekarang ini."
"Maaf,"
Jeffrey langsung memeluk Kiya. "Maaf ya kalau Mas masih banyak kurangnya."
Bagi Jeffrey, sikap tak dewasa dan rendah diri yang dimiliki Kiya adalah bagian dari kekurangannya. Sebab Jeffrey tak bisa membawa Kiya pada sikap yang lebih baik, sementara Kiya adalah sebagian dari dirinya, maka kekurangan yang ada pada perempuan itu juga merupakan kekurangan yang Jeffrey miliki. Terlepas dari itu, banyak kekurangan lain yang dimiliki lelaki itu yang perlu Kiya rengkuh.
"Jangan bilang begitu..." ucap Kiya.
Mereka sepakat untuk tidak melanjutkan pembicaraan mereka tadi karena pastinya pembicaraan itu akan berlangsung panjang, sementara masing-masing dari mereka harus mengerjakan suatu hal.
"Laporan ini harus dikumpulin besok?" Kiya mengganguk menjawab pertanyaan Jeffrey.
"Mas temenin ya sambil urus kerjaan juga," kata Jeffrey lalu segera beranjak mengambil laptopnya.
Ia kembali ke hadapan Kiya sembari membawa laptop serta segelas air putih, ia menyodorkan gelas itu pada Kiya agar sesegukan Kiya segera mereda. "Maaf ya udah buat Kiya nangis begini," ucap Jeffrey ia menenangkan Kiya seraya mengelus bahunya.
"Gapapa, Mas. Lanjutin kerjaannya, jangan hirauin Kiya," Lelaki itu mengangguk pelan, kemudian mengecup kening Kiya sebelum akhirnya berkutat dengan pekerjaannya.
Selama lima belas menit berjalan, tangis Kiya belum juga reda. Ia masih sesegukan ditengah kegiatannya yang tengah mengerjakan laporan praktikum, seraya menghirup inhaler juga sebab hidungnya yang tersumbat karena menangis terlalu lama.
Jeffrey melepas pandangannya pada layar laptop, kemudian menatap Kiya yang berada disampingnya. "Sayang..." panggil Jeffrey.
Kiya mengelap air matanya, pasti tangisannya membuat Jeffrey kehilangan fokus, "Maaf, Mas..." ucapnya lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lecturer
RomantizmAjuan proposal ta'aruf dari Jeffrey Adhyaksa Gentama siang itu berhasil membuat Azkiya diam tak berkutik. Bagaimana tidak? gadis penghujung belasan tahun itu tak pernah menyangka bahwa sang dosen yang sama sekali tak pernah bersua padanya, mengingin...
