hola!
senang bertemu kembali, sayang.
selamat membaca! jangan lupa feedbacknya yaaaa! beri aku vote dan komentar lebih banyak, terima kasih! ♡✧˚ ༘ ⋆。♡˚
Sempat sakit hingga harus rawat inap selama beberapa hari di rumah sakit, membuat Kiya mulai memperhatikan kesehatannya. Orang-orang sekitar Kiya menjadi lebih perhatian sejak itu, Jeffrey tidak pernah lagi mengabaikan Kiya, Mama selalu mengantarkan lauk agar Kiya tidak lagi repot memasak. Sedangkan Ibu dan Bapak yang kala itu tidak Kiya beritahu saat ia rawat, akhirnya mengetahuinya juga dari Jeffrey.
Mereka tidak membatasi Kiya lagi untuk datang ke rumah, tidak lagi mengomeli Kiya saat mengeluh, sekarang Ibu seringkali berkunjung untuk memastikan keadaan anak perempuannya.
Dan sekarang perkuliahan Kiya berjalan lebih senggang, sebab beberapa praktikum telah menempuh semua percobaan, namun ada beberapa mata praktikum yang belum juga selesai. Namun dengan selesainya beberapa praktikum itu, cukup mengurangi beban Kiya.
Kiya tahu bahwa suatu masa akan segera berlalu, hanya saja kala itu kapasitasnya yang lemah hingga dirinya kelewat stress karena terlalu memikirkan suatu hal secara berlebihan. Sekarang, dirinya merasa jauh lebih baik.
Hal yang telah ia lalui kemarin juga menyadari suatu hikmah dari kegugurannnya kala itu yang sempat membuat dirinya terguncang. Ternyata ia belum mumpuni menjadi seorang istri, apalagi menjadi seorang Ibu. Tidak bisa Kiya bayangkan, memiliki anak diwaktu sekarang, ditengah masa pendidikannya, di umurnya yang cukup terbilang muda.
"Dek Kiya, nanti jadi kuliah jam setengah 8?" tanya Jeffrey yang kala itu baru saja meghampiri Kiya di kamar.
Lelaki itu baru saja pulang bekerja, ia meletakkan beberapa barang dari ranselnya, kemudian duduk di ranjang memperhatikan Kiya yang baru saja selesai mandi. Perempuan itu duduk di depan meja rias, dengan rambutnya yang basah, ia hendak mengeringkannya.
Perempuan itu terkekeh menatap cermin sebab Jeffrey tertangkap disana seraya memperhatikannya. "Jadi, Mas. Kamu nanti balik kerja lagi selepas maghrib?" Kiya balik bertanya.
"Nggak ada, nanti Mas anter aja ya," ucap Jeffrey, kini kakinya sudah melangkah menuju Kiya. Ia berdiri di belakang Kiya, lalu mengambil alih hair dryer dari tangan Kiya. Tangannya bergerak licah menyusuri helaian rambut Kiya dengan hair dryer di tangan kananya.
"Ngerepotin nggak?"
"Nggaklah. Tapi tumben banget ada kelas malem?"
"Mas tau kan ibu itu tinggalnya di luar kota? Jadi setiap beliau ke kota ini pasti akan penuhin semua jadwalnya untuk offline, jadi ya gitu..." jelas Kiya.
"Mas kayanya pernah denger itu dari mahasiswa, cuman baru kali ini tahu kalau beliau juga ngajar sampe malem."
"Kasian tau, Ibu itu. Kiya kesel juga denger temen-temen Kiya ngeluh soal jadwal ngajar beliau. Padahal Ibu juga pastinya lebih capek ngajar di banyak kelas dengan jadwal yang full, mana beliau udah berumur lagi."
"Jarang ada mahasiswa yang pengertian sama dosennya. Baik banget Kiya."
"Suami Kiya kan dosen juga, jadi Kiya jelas tahu gimana capeknya. Bukan hanya ngajar tapi banyak hal-hal lain juga." Jeffrey merasa gemas mendengar celotehan Kiya, dengan ekspresi wajah perempuan itu yang tampak sebal di depan cermin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lecturer
RomanceAjuan proposal ta'aruf dari Jeffrey Adhyaksa Gentama siang itu berhasil membuat Azkiya diam tak berkutik. Bagaimana tidak? gadis penghujung belasan tahun itu tak pernah menyangka bahwa sang dosen yang sama sekali tak pernah bersua padanya, mengingin...
