47

4.6K 365 46
                                        


lama tidak berjumpaa, apa kabar?

tinggalkan vote dan komentarnya untuk chapter yang cukup panjang ini yaaaa

selamat membaca ^^





Kiya tahu betul bahwa ia patut bersyukur memiliki suami bertanggung jawab dan bekerja keras seperti Jeffrey. Namun, selama hampir setahun mereka menikah, Kiya mulai kurang menyukai Jeffrey yang terlalu keras dalam bekerja, sikap penuh ambisi dan berdedikasi tinggi itu semakin terlihat seiring berjalannya waktu, prioritas utama Jeffrey juga kian bergeser condong pada pekerjaannya.

Jika ia menyuarakan hal itu, pasti Kiya akan di cap tidak dewasa, tidak pengertian dan lain sebagainya. Ditambah, fakta bahwa Jeffrey adalah satu-satunya sumber pemasukan dalam rumah tangga mereka membuat Kiya tak dapat berkata apa-apa soal Jeffrey dan pekerjaannya. Kiya pun tak tahu jelas apa yang membuat Jeffrey benar-benar sibuk.

Pekerjaan rumah juga cukup membebani Kiya, ia juga sangat sibuk dengan urusan perkuliahannya. Menjalani praktikum lima kali dalam seminggu dengan jurnal dan laporan praktikum yang memiliki tenggat pengerjaan yang terus bergulir setiap hari, dan tugas perkuliahan dari dosen yang tak kalah berat. Ia harus berangkat lalu kembali ke rumah pada sore hari, benar-benar melelahkan untuk membagi waktu mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang ia tanggung sendiri.

"Kiya, bisa cepet nggak geraknya?" tanya Jeffrey ketika sudah siap untuk bergegas.

Perempuan itu meletakkan kembali piring yang tengah ia cuci dengan cukup kuat, sebab merasa kesal pada Jeffrey yang tak sabar. Lalu segera mencuci tangannya dan menyusul Jeffrey yang tampak sudah menunggunya dengan tatapan jengkel.

Kiya terpaksa harus berangkat kuliah bersama Jeffrey sebab motornya ia tinggalkan dirumah Bapak. Oleh karena mereka sama-sama memiliki jadwal kelas pagi, maka mereka memutuskan untuk berangkat bersama.

Jeffrey menghela napas ketika Kiya melupakan satu barang saat mereka hendak bergegas, lelaki itu tak memikirkan apapun selain sikap Kiya yang begitu ceroboh, dan mereka yang sudah telat. "Maaf, Mas..." ucap Kiya ketika masuk ke dalam mobil dengan memegang jas laboratorium miliknya yang hampir tertinggal.

"Kenapa nggak disiapin dari malem sih, sayang? Kita hampir telat lho, ini, " ucap Jeffrey. Kiya tak menjawab apapun sebab mereka akan berdebat nantinya.

Masih pagi tetapi tubuh Kiya letih sekali. Bangun pagi, menyiapkan sarapan, menyiapkan keperluan Jeffrey, membereskan rumah, benar-benar melelahkan bahkan ketika hendak berangkat tadi pun Kiya menyempatkan untuk mencuci piring terlebih dahulu agar pekerjaannya tidak menumpuk selepas pulang kuliah nanti. Namun, ia tidak dapat menyelesaikannya karena Jeffrey ingin segera berangkat.

"Pulangnya jam berapa? Nanti biar Mas anter sekalian ambil motor," tanya Jeffrey.

"Sore, Mas. Nanti Kiya kabarin," jawab Kiya, lelaki itu mengangguk.

"Hari ini full berarti, ya?"

"Iya. Mas juga, 'kan?"

Jeffrey berdehem, meng-iyakan pertanyaan Kiya, "Mungkin selepas anter kamu sore nanti, Mas harus lanjut lagi sampe malem." tambahnya.

"Sampai kapan kaya begitu terus, Mas?" tanya Kiya.

"Maksudnya?"

"Sibuk kayak begitu terus,"

LecturerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang