Malam itu suasana rumah Satya begitu tenang. Bu Rosa sedang ke toko kuenya, sementara Satya duduk di kamar mengerjakan rekap nilai muridnya. Reyna, yang sedang hamil, menikmati segelas susu sambil menonton film di ruang tengah.
“Enak banget nih kalau malam-malam makan martabak telur,” gumam Reyna sambil memakan donat.
Tak lama kemudian ia berteriak, “Abaaaang! Oooo abaaaang!”
“Iyaaa sayaaang, aku kesituuu,” balas Satya dari lantai atas.
Satya pun segera turun. “Kenapa sih harus teriak segala?” tanyanya.
“Aku pengen martabak telur,” rengek Reyna manja.
“Bisa kan manggil biasa aja?” kata Satya menahan senyum.
“Oh, jadi kamu marah ya? Udah gak sayang sama aku?” Reyna cemberut.
“Lho kok jadi ke situ?” Satya menggaruk kepala bingung.
“Kamu nyebelin!” protes Reyna sambil memelototinya.
“Udah deh, jangan marah. Kamu mau martabak, kan? Aku beliin,” kata Satya lembut.
Reyna tersenyum puas. “Mau yang telur, ya.”
“Baik, aku beli dulu,” kata Satya.
“Eh tunggu! Aku ikut. Masa ditinggal sendirian,” kata Reyna.
“Sayang, gak baik ibu hamil keluar malam-malam.”
“Gak mau, aku ikut!” ucap Reyna keras kepala.
“Huft, baiklah,” Satya menyerah.
Mereka pun berangkat naik mobil menuju pasar malam. Sepanjang jalan, Reyna tampak senang melihat lampu-lampu hias berwarna-warni.
“Indah banget, Bang,” katanya terpukau.
“Iya, secantik senyummu,” goda Satya.
“Idih, gombal,” jawab Reyna malu-malu.
Setelah sampai, Satya berkata, “Kamu boleh jajan apa aja, asal jangan yang pedas.”
Reyna mengangguk. Ia tertarik melihat permen kapas yang dijual di pinggir jalan. “Bang, aku mau itu!”
Mereka membeli dua permen kapas dan berjalan lagi sambil menikmati suasana malam. Dua jam berkeliling, Reyna akhirnya mendapatkan semua makanan yang ia inginkan. Mereka pun pulang karena sudah larut malam.
Pukul 22.00, Bu Rosa baru pulang dari toko. Ia duduk di sofa sambil menikmati teh manis hangat buatan Mbok Sumi.
“Terima kasih, Mbok. Tehnya enak,” kata Bu Rosa.
“Sama-sama, Nyonya.”
“Anak-anak ke mana, ya? Kok sepi?”
“Tuan dan Nona muda keluar, katanya Nona ingin martabak telur,” jawab Mbok Sumi.
“Oh, begitu. Ya sudah, aku tunggu mereka pulang.”
Beberapa saat kemudian, Satya dan Reyna tiba di rumah. Reyna tampak bahagia memegang permen kapas dan bungkusan martabak di tangannya.
“Makasih ya, Bang. Aku senang banget,” katanya.
“Sama-sama, Sayang. Selagi aku mampu, semua yang kamu mau akan aku turuti,” jawab Satya lembut.
Mereka masuk ke rumah. Bu Rosa tersenyum melihat keduanya.
“Wah, akhirnya pulang juga. Seru gak jalan-jalannya?” tanya Bu Rosa.
“Seru banget, Mah! Aku senang banget bisa keluar lagi,” kata Reyna.
“Syukurlah. Oh iya, toko hari ini ramai banget, makanya Mamah bantu di sana,” jelas Bu Rosa.
“Wah, semoga makin laris ya, Mah,” kata Reyna.
Tak lama kemudian, Mbok Sumi datang membawa teh hangat. “Silakan diminum, Tuan, Nona.”
“Terima kasih, Mbok,” kata Satya.
“Mbok, boleh Reyna request?” tanya Reyna.
“Tentu, mau apa, Non?”
“Pengen susu cokelat, Mbok.”
“Baik, saya buatkan dulu.”
“Maaf ya, Mbok, jadi repot terus,” kata Reyna.
“Tidak apa-apa, Nona. Sudah tugas saya,” jawab Mbok Sumi ramah.
Reyna pun menikmati susu cokelat hangat dan martabak telur.
“Heeem, enak banget, topping jamurnya banyak,” ujarnya bahagia.
“Habiskan ya, Sayang,” kata Satya.
“Gak mungkin aku habisin sendiri. Nih, Abang cobain juga,” ucap Reyna sambil menyodorkan martabak.
Satya tertawa dan ikut makan. “Enak juga ternyata.”
“Mah, Mamah juga coba ya,” pinta Reyna.
Bu Rosa ikut mencicipi. “Wah, memang enak banget.”
Namun tiba-tiba Reyna terdiam dan terlihat murung.
“Kamu kenapa, Sayang? Sakit?” tanya Satya khawatir.
“Enggak kok, Bang,” jawab Reyna pelan.
“Aku cuma mau kasih satu kotak martabak ini buat Mbok Sumi.”
“Oh, boleh. Baik banget kamu,” kata Satya tersenyum.
Reyna pun membawa martabak ke dapur.
Sambil menunggu Reyna kembali, Satya berkata lirih pada ibunya, “Mah, Reyna sekarang beda ya. Lebih dewasa dan pengertian, walau kadang suka marah gak jelas.”
Bu Rosa tersenyum lembut. “Wajar, Nak. Dia sedang hamil. Perubahan hormon bikin emosinya naik turun. Tapi dia perempuan baik.”
Satya mengangguk. “Aku bahagia bisa bikin dia tersenyum. Aku akan terus jaga Reyna, seperti amanah dari Papa Ronal.”
Air mata Satya menetes tanpa sadar.
Tak lama, Reyna muncul dan heran. “Bang, kamu nangis?”
“Nggak kok, ini cuma ngantuk,” jawab Satya cepat.
“Ngantuk sampai keluar air mata? Lucu banget,” kata Reyna sambil cekikikan.
Bu Rosa tersenyum melihat keduanya. “Sudah, istirahat ya. Ibu hamil jangan tidur malam-malam.”
“Iya, Mah, aku juga udah ngantuk,” jawab Reyna sambil menguap.
Satya dan Reyna pun membereskan meja, lalu berjalan ke kamar untuk beristirahat dengan perasaan bahagia.
---
KAMU SEDANG MEMBACA
My teacher my husband-Telah Terbit
Teen FictionKisah cinta Reyna Ananta Wijaya dan Satya Nadella yang terjebak dalam perjodohan yang dipaksakan oleh masing-masing orang tua mereka, dua jiwa yang terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. "Aku tidak bisa menolak perjodohan ini, ayahku sudah memutuska...
