Delapan Puluh Empat

8.2K 557 153
                                        

Pamungkas - To The Bone

Happy reading

****

Author POV

Di rumah sakit (Setelah Keana, Jeje dan Harumi meninggalkan rumah sakit.)

Vikar dan Shanin sudah membereskan semua berkas Keana untuk menjalani perawatan home care.

Saat ini mereka berdua masih di dalam kamar inap Keana, dengan beberapa koper yang di dalamnya sudah tersusun rapi baju-baju dan perintilan lain milik Keana.

"Udah beres semua nih." ucap Vikar meregangkan sedikit ototnya ke atas.

Shanin yang sedang duduk di sofa dan tampak sedikit kelelahan itu hanya mengangguk setuju, karena sekarang sedang menyeruput kopi dinginnya.

"Ini kita tinggal balik, tapi gue ke kamar Dipha bentar, ya?" pamit Vikar yang langsung mendapatkan acungan jempol oleh Shanin.

Seperginya Vikar, Shanin lalu menjangkau ponselnya yang tergeletak di meja, membalas chat Jeje yang belum sempat ia respon,

Shanindya Rajata: kak Sahar masih nangis?

Shanindya Rajata: aku udah selesai, terus Vikar juga nawarin buat anter balik, gpp kan?

Bagaikan fast respon, pesannya langsung dibaca dan sekarang sudah memunculkan tulisan typing...

Jessica Wardana: gak tau, tapi udah gak kedengeran lagi sih

Jessica Wardana: okeyy, aku langsung ke bengkel aja ya habis ini

Shanindya Rajata: .....

Sebelum berhasil membalas lagi pesan itu, perhatian Shanin lalu beralih pada seseorang yang baru saja masuk ke dalam kamar.

Shanin sebenarnya ingin langsung beranjak saat melihat sosok Joshua lah yang menunjukkan dirinya. Tapi apa daya, gadis itu masih merasa kelelahan, sehingga mau tidak mau ia hanya bisa duduk di sofa itu.

"Sorry ya, gue gak maksud ganggu lo.." ujar Joshua setelah menutup pintu masuk dan memilih tetap berdiri di sana,

"Gue gak enak, soalnya Vikar kayaknya cuma mau ngomong berdua sama Dipha." ucapnya lagi memperjelas.

Shanin yang masih sibuk dengan ponsel itu tidak merespon sama sekali, sengaja mengabaikan kehadiran Joshua alias saudara kandungnya.

Jangan lupakan sebuah trauma mendalam yang masih ditanggung oleh Shanin karena ulah bejat Joshua dulu, yang memang tidak bisa dipandang sebelah mata, karena sampai sekarang Shanin bahkan masih harus terus berhubungan dengan psikolognya.

"Lo udah putus ya sama Vino?" Joshua kembali memberanikan diri untuk berbasa-basi.

Ya, sepertinya Joshua juga tidak menyerah untuk ingin berbaikan dengan Shanin. Apalagi akhir-akhir ini mereka jadi sering bertemu di rumah sakit itu, yang tentu membuat Joshua seperti mendapatkan sedikit harapan.

"Dah."

Sudut bibir Joshua refleks terangkat saat Shanin merespon ucapannya.

Bagai naluri seorang kakak laki-laki, emosi Joshua sedikit tersulut saat mengingat sesuatu,

"Kenapa? Dia nyari gara-gara ya sama lo?"

Mendengar itu, Shanin yang masih menatap ponsel itu hanya tersenyum sinis.

Hanya satu gerakan sudut bibir, tapi bisa membuat Joshua langsung memahami arti cibiran itu, seolah-olah mengatakan jika tidak semua laki-laki busuk seperti dirinya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 05 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Heaven (gxg)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang