Part 60 " Raja & Rakyatnya "

1.1K 71 3
                                        

By : Ika Puspita

Part 60

*****

" Apa ada yang bisa aku bantu Tuan Umar??"

" Oh... tidak, sebenarnya saya datang kesini hendak memberikan kotak ini."

" Kotak apa itu tuan??? "

" Terimalah... " ucap raja Jalal sambil menyodorkan kotak tersebut ke hadapan wanita tua itu dan membukanya,

Saat kotak tersebut terbuka, keduanya sama - sama tercengang melihat isi yang terdapat dalam kotak tersebut.

" Tuan anda??? " ibu tua tersebut menatap syahdu ke arah raja dan tersenyum lembut kepada raja, yang masih terbengong mendapati isi kotak pemberian gadis Lotusnya.

" Terima kasih... " ucap ibu tua itu tulus sambil menyentuh tangan raja, seketika raja terkejut mendapati sesuatu pada telapak tangan ibu tua itu, dengan segera raja memegang tangan ibu tua itu dan perlahan membaliknya, dan alangkah semakin terkejutnya raja saat melihat telapak tangan ibu tua itu yang penuh luka.

" Ini kenapa nyonya?? " tanya raja sambil bergidik agak nyeri melihat luka di kedua pergelangan tangan ibu tua itu.

" Ini adalah tanda kehidupan tuan... " ucap ibu tua membuat raja mengernyitkan dahi tak memgerti.

" Maksud Nyonya??? "

" Saya memang sudah tua dan miskin namun saya pantang untuk menjadi pengemis, saya lebih memilih menjadi pekerja kasar dari pada harus meminta - minta kepada orang lain, dan luka ditangan tua ini adalah hasil dari bekerja di ladang, menanam sayur dan mencari kayu bakar." jelas sang ibu tua yang seketika seolah menghentikan detak jantung sang raja, dilihatnya kembali isi dalam kotak tersebut, kini ia tau apa maksud dari isi kotak tersebut, adalah semangkuk obat yang terbuat dari berbagai macam tumbuhan yang dihaluskan hingga menjadi seperti salep yang bermanfaat untuk mengobati luka yang diakibatkan oleh sayatan atau luka bakar, raja tak tau bagaimana bisa gadis Lotusnya menyiapkan ini semua dan menyuruhnya untuk memberikannya pada orang yang tepat, rajapun mengambil sedikit salep tersebut lalu dengan perlahan mengoleskannya pada luka ibu tua itu, seketika rasa sesak mengisi ruang di dadanya, dengan sekuat tenaga raja menahan agar air matanya tidak jatuh, sesekali ibu tua itu menarik nafas dalam merasakan perih saat luka - luka di telapak tangannya di olesi salep oleh raja, jika sedah begitu raja langsung meniup pelan untuk mengurangi rasa sakit yang dirasakan ibu tua itu.

" Terima kasih tuan Umar bin Kattab... rasanya seorang pemimpin besar tengah mengobatiku dengan begitu lembut, tak salah ibumu memberimu nama Umar bin Kattab, karena sifatmu seperti pemimpin yang mulia itu." puji ibu tua tulus, raja hanya bisa menahan nafas mendengar pujian itu, seandainya ia tau siapa yang duduk dihadapannya sekarang, mungkin ibu tua itu akan mencacinya habis - habisan.

" Mengapa luka ini tak diobati sejak kemarin nyonya??? "

" Saya sudah ke balai pengobatan untuk meminta obat, tetapi mereka mengatakan telah kehabisan bahan ramuan obat ini, mereka telah mencoba untuk membeli bahan - bahan obat - obat ini di pasar namun pedangangnya mengatakan bahwa bahan - bahan rempah - rempah dan obat - obatan ini telah dibeli semua oleh istana untuk dijadikan bahan untuk membuat makanan karena sedang merayakan pesta. "

" Deg ( pesta Pancasoka ) " mendengar penuturan ibu tua tersebut seolah membuat telinga raja tersambar petir, sudah pasti hal itu ada hubungannya dengan pesta perayaan Pancasoka, pihak dapur istana pasti membeli semua bahan makanan, sayuran dan rempah - rempah yang ada di pasar untuk hidangan pesta tersebut.

" Bahkan saat raja negeri ini sedang berpesta pora dengan para ratunya, ia tidak sedikitpun mengingat rakyatnya yang banyak kelaparan, seluruh dunia tau bahwa negeri ini memiliki seorang raja, namun sejatinya negeri ini tak memiliki seorang raja, seharusnya raja ada bersama dengan rakyatnya dalam keadaan apapun, namun raja ada bersama dengan rakyatnya saat ia akan pergi berperang untuk menguasai kerajaan lain, setelah ia berhasil memenangkan peperangan tersebut ia akan lupa dengan rakyatnya dan meninggalkan rakyatnya sendiri dalam kesedihan karena anggota keluarganya ada yang telah gugur dalam peperangan tersebut, ia akan tersenyum bangga akan kehebatannya karena berhasil menguasai kerajaan namun dia menulikan telingganya dari tangisan para janda dan anak yatim korban perang, dia pasti akan berpesta pora dengan para wanitanya menikmati tarian dan anggur namun ia membutakan mata dengan rakyatnya yang sedang berkabung dalam kesedihan, aku sudah tua jika aku mati aku hanya akan dikenang sebagai wanita tua yang malang kemudian dilupakan, namun dia seorang raja, aku hanya berdoa semoga kelak saat ia mati ia dikenang sebagai raja yang arif dan bijaksana bukan raja yang " TULI dan BUTA ". Ungkap kekecewaan sang ibu tua membuat raja hanya terdiam tak mampu berkata, bahkan untuk mengangkat wajahnya menatap ibu tua itupun seolah tak memiliki kekuatan.

The Hidden DiamondTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang