5. Rasi Bintang Celana Dalam Berenda

20.2K 867 44
                                    

Mentari telah menjalankan tugasnya sejak fajar, menghangatkan setiap mahluk yang sibuk dengan urusannya masing masing. Kini pelan-pelan dia mulai bersembunyi di ujung barat bumi lalu sang senja dengan langit merahnya menandai kepergian sang mentari yang nanti akan berganti dengan langit yang gelap namun dihiasi bintang bintang.

Namun di sudut sekolah, Adi sedang duduk disebuah taman sangat indah bila terapapar cahaya, namun kini taman itu tampak pucat karena gelap sudah mulai melanda.

"Bukannya itu tujuan kita dari dulu, sayang?" Adi menatap Rosa heran. Kedua muda-mudi ini adalah sepasang kekasih yang memutuskan saling mencintai sejak masih duduk di bangku kelas 1 SMA. Dua sejoli yang selalu membuat iri tapi tak ada alasan untuk dibenci. Adi anak yang pintar, begitupun Rosa. Angka sembilan selalu jadi nilai yang paling banyak hadir menghiasi buku rapor mereka. Rosa memang anak kepala sekolah, tapi nilai itu bukan karena pengaruh bapaknya, buktinya dia beberapa kali menjuarai lomba-lomba di bidang IPS dan meyumbangkan piala untuk sekolah. Penampilan fisiknya jangan ditanya, Wajahnya selalu menjadi pilihan pertama untuk sampul buku kenangan, baliho selamat datang atau sekedar sampul majalah sekolah yang bahkan tidak ada berita tentangnya.

Sedangkan Adi anak IPA dengan segudang prestasi, Fisika dan matematika adalah makanannya sehari-hari, menjuarai lomba bagai sebuah kewajaran bagi seorang Adi, sehingga sepasang kekasih ini sering sekali maju bersama saat penyerahan piala untuk sekolah dari hasil juara lomba yang mereka ikuti. Bisa di bilang mereka pasangan muda, ideal dan berprestasi, namun kini mereka sedang bertaruh dengan hubungan mereka yang dulunya seperti tanpa masalah.

"Kamu sendiri yang bilang kamu ga bisa LDR, aku berusaha memilih Jurusan yang kamu sukai, sekarang kita sama sama diterima di jurusan yang sama di kampus yang sama, tuhan kasih kita kemudahan agar kita terus bersama, karena mungkin kamu memang ditakdirkan untuk aku" kata Adi, dia berdiri memandang Rosa dengan wajah yang penuh beban.

"Itu yang aku takutkan, aku takut terlalu sayang sama kamu. Di malang kita akan terus bersama, aku takut aku akan ngekang kamu, kamu juga akan ngekang aku dan kita sama-sama terpetakkan di dalam lingkaran yang sama, berdua saja. Susah untuk mengenal yang lain, susah untuk berbaur dengan yang lain, karena kita menganggap dunia milik kita berdua saja." Rosa tak berani menatap mata adi, dia takut tangisnya akan keluar jikalau mata itu saling bertemu.

"Terus aku harus gimana? Ok aku akan cari kampus yang lain, aku akan ikut tes lagi." kata adi memelas.

"Bukan itu solusinya, bukannya kamu ingin sekali masuk ilmu politik" 

'Ya, itu semua gara gara kamu, aku memilih itu gara-gara kau ingin kesana." Adi menatap Rosa dalam.

"Kamu terapaksa ?" 

"Awalnya aku terpaksa tapi mungkin sekarang motivasiku lebih besar dari kamu." Adi mencoba memegang tangan Rosa, namun dengan pelan Rosa melepaskannya.

"Makanya aku bilang itu bukan solusi buat masalah ini Adi." kata Rosa pelan.

"Aku bisa mengambil jurusan yang sama tapi di kampus yang berbeda." Adi mencoba memberi solusi

"Dan kita LDR dan setelah itu akan timbul kesalahpahaman yang terjadi antara kita, komunikasi yang jarang dan masalah masalah lain." protes Rosa

"Kamu tidak ingin kita di kampus yang sama , kamu juga tidak mau kita LDR, terus kamu mau apa ?" Adi meninggikan suaranya, akalnya sudah sampai batasnya.

"Aku mau putus!" kata Rosa, kalimat itu seperti bergema dikehingan senja, kata itu langsung menusuk ke jantung Adi. Adi berharap itu hanya ilusi suara yang bergema akibat kegelisahannya 

"kamu bilang apa?"

"Aku mau putus Adi, maaf." Adi langsung terduduk lemas, khayalan-khayalan yang sudah terbentuk selama tiga tahun ini tentang masa depan mereka berdua seperti ditelan senja yang akan berganti gelap.

Celana Dalam Merah MudaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang