Adi membuka pintu kelas yang tadinya tertutup. 15 menit sudah berlalu dari jadwal kuliah yang sudah ditetapkan. Pak Wijaya menatap Adi heran. Dosen ini bukan dosen yang killer namun beliau sangat ketat dalam aturan. Menurut peraturan Pak Wijaya, mahasiwa tak boleh terlambat lebih dari 15 menit. Bila mereka melanggar aturan itu maka mahasiswa tidak boleh mengikuti kuliah yang diajarkan Pak Wijaya pada jam itu. Walau Pak Wijaya tahu Adi termasuk mahasiswa yang nilainya cukup stabil namun dia tidak bisa pilih kasih.
"Sudah 15 menit lebih Adinata," kata Pak Wijaya sambil tersenyum. Adi mencoba mengatur nafasnya, keringat mengucur deras dari badan Adi, tampak sekali kalau Adi telah berlari sekuat tenaga hingga sampai kelantai empat gedung kuliah itu. Adi mengangguk. Ia mengerti maksud dari Pak Wijaya.
"Ya Pak, Maaf pak," kata Adi seraya kembali melangkah menuju pintu kelas dan menutup pintu itu dari luar. Dery tampak bingung melihat Adi dan Febri yang tidak datang bersama. Dery baru sadar bahwa Febri sudah dari tadi duduk dengan teman-temannya yang lain di kursi barisan belakang. Dery berdiri lalu meminta izin untuk kekamar mandi kepada Pak Wijaya.
Dery tidak melihat Adi disana. Dery turun dari satu lantai kelantai lain untuk menemukan Adi hingga sampailah Dery ke lantai 1, dia melihat Adi sedang duduk di tangga pintu masuk gedung Fisip sambil
mengipas-ngipas badannya dengan kertas Hvs yang dilipat.
"Adinata!" panggil Dery. Adi kaget mendengar suara Dery, dia menoleh dan mendapati Dery berdiri di belakangnya. Adi sedang duduk di tangga pintu masuk gedung di lantai satu. Pemuda itu sedang mengipas-ngipaskan kertas HVS yang dia lipat agar terasa leih tebal.
"Der? Kamu senang sekali membuatku kaget sampai aku harus menengok dan melihatmu berdiri di belakangku," kata Adi sambil mengingat bahwa kemarin Dery juga melakukan hal yang sama.
"Tak mudah untuk langsung menatap wajahmu lalu berbicara dengan biasa Adi," kata Dery dalam hati. "Maaf Di kalau aku membuatmu kaget," hanya itu yang bisa dery katakan.
"Kamu kok keluar kelas?" tanya Adi. Tak biasanya Dery keluar saat jam kuliah sedang berlangsung.
"Aku juga terlambat kok jadi aku enggak berani masuk kelas," kata Dery berbohong. Adi tersenyum melihat Dery, gadis ini sama sekali bukan orang yang pandai bebohong.
"Kamu punya kebiasaan baru kalau kuliah tidak membawa tas?" tanya Adi menggoda Dery. Dery celingak celinguk mencari tasnya, gadis itu panik mencari alasan. "Anu. Anu..." Dery bingung, akhirnya gadis itu hanya bisa tersenyum malu.
"Terima kasih" kata Adi seraya tersenyum kepada Dery. Dery terlihat bingung dengan sikap Adi.
"Terima kasih buat apa?"
"Terima kasih sudah susah payah berbohong hanya untuk menghiburku. Tentu gadis seperti kamu tidak mudah untuk melakukan kebohongan seperti tadi. Ya kan?" kata Adi tulus.
Dery bergumam dalam hati,"Kamu salah Di, aku ini sangat pandai berbohong. Membohongi perasaanku sendiri," Dery memaksa dirinya untuk tersenyum.
"Kamu ada masalah dengan Febri?" tanya Dery hati-hati. Ia takut petanyaan itu cukup sensitif buat Adi.
"Hmm... Entahlah Der. Sebenarnya hanya masalah sepele tapi bagi Febri mungkin tidak seperti itu," kata Adi mencoba menganalisis tentang apa yang terjadi dengan sahabatnya itu.
"Kamu harus segera baikan Di, aneh melihat kamu tidak bersama Febri lagi," kata Dery.
"Yah pasti kami akan bicara Der. Kami sudah sama-sama dewasa tapi aku merasa kami tidak akan seperti dulu lagi" kata Adi mengungkapkan kekhawatirannya. Adi bahkan tidak ingin dirinya befikir sejauh itu hanya gara-gara hal sepele. Dery terlihat khawatir, wajahnya ikut murung melihat Adi yang tak lagi tersenyum.

KAMU SEDANG MEMBACA
Celana Dalam Merah Muda
HumorCelana Dalam? Sebuah penemuan manusia yang kini mungkin berubah menjadi salah satu pusaka keramat yang identik dengan hal-hal yang tabu. Bagaimana jadinya bila seorang mahasiswa baru menemukan segempok celana dalam dalam bungkusan plastik yang t...