48. Sayonara (Bagian 1)

4.1K 266 7
                                        

Kampus tampak sangat ramai. Pedagang yang biasanya diharamkan masuk kampus kini berjejer sepanjang trotoar. Pedagang bunga tak hanya mengelar lapaknya di jalan namun banyak juga yang berkeliling aktif mencari pelanggan. Mahasiswa bertoga tampak di mana-mana. Mahasiswi yang biasa tampak rapi dengan tas kuliahnya kini berubah cantik dengan kebaya berwarna warni. Make up mereka tampak membuat wajah mereka semakin indah untuk dipandang. Selain itu tampak orang tua wali dari berbagai kalangan. Dari pria dewasa dengan jas mahal sampai bapak tua berbatik sederhana. Walau mereka berada dalam strata ekonomi yang berbeda namun mereka tetap berhagia dengan satu hal. Yaitu kelulusan buah hati mereka yang kini sudah bergelar sarjana.

Acara seremonial sudah usai beberapa menit yang lalu. Kini para wisudawan tampak sibuk mengemas memori mereka melalui jepretan foto dari berbagai sudut. Ada yang menggunakan jasa fotografer berbayar, ada juga yang membawa kamera sendiri. Ikon kampus dengan pemandangan gedung rektorat yang menjulang tinggi menjadi background foto paling menarik.

Seoarang gadis manis nan ramah itu tampak sangat cantik. Dengan kebaya berwarna abu-abu berpadu dengan warna merah jambu membentuk lekuk tubuh gadis itu dengan indah. Tubuhnya terlihat ramping namun berisi. Tak ada yang bisa menggambarkan sosok gadis itu kecuali dengan kata cantik. Adi berjalan dari kejauhan mendekati gadis yang tampak bahagia itu. Gadis itu sedang berfoto bersama teman dan keluarganya. Tak tampak pria di sana kecuali juru foto yang mnenawarkan jasanya yang bahkan mulai menepi satu persatu karena melihat gadis itu tidak nyaman dengan keberadaan mereka.

"Kayak asrama perempuan ya?" kata Weni. Mama dari Rahma. Rahma hanya membalas pertanyaan ibunya dengan wajah kecut. "Fris? Rahma ini mahasiswa jurusan ibu-ibu PKK ya?" tanya Weni. Friska hanya bisa tersenyum mendengar guyonan Mamanya Rahma.

"Mbak," panggil Adi. Friska tampak kaget mendengar suara Adi yang datang dari belakangnya. Rahma tak tampak terkejut karena sudah melihat Adi dari kejauhan. Yang paling terlihat heboh adalah Weni. Walau ia terus menyindir anaknya karena tidak mempunyai teman cowok namun Weni paham sekali kenapa anaknya sampai seperti ini. Awalnya Ia tak berharap banyak, ia hanya yakin bahwa suatu saat nanti anaknya akan tebiasa dan bisa nyaman lagi dekat dengan lawan jenisnya, namun kini seolah semua terwujud begitu cepat.

"Selamat Mbak! Setelah lulus jangan lupain aku ya?" kata Adi seraya memberikan bunga yang cantik kepada Rahma.

"Makasih Di. Aku sepertinya lanjut S2 di sini. Kita pasti akan ketemu lagi." Jawab Rahma. Ia senang Adi bisa datang ke wisudanya. "Ayo Foto Di," ajak Rahma. Rahma mengambil ponselnya.

"Mas mas. Foto." Weny memanggil tukang foto yang sedang mencari pelanggan.

"Mah?" protes Rahma karena Mamanya tampak terlalu berlebihan.

"Tidak apa-apa ini momen sekali seumur hidup," jawab Weni. Rahma terlihat risih, awalnya ia hanya ingin berselfie ria bersama Adi dan Friska.

"Backgroundnya gedung rektorat ya Bu?" kata juru foto. Weni menangguk. "Siapa yang mau difoto dulu?" tanya juru Foto.

"Mereka berdua," Weni mendorong anaknya dan Adi ke depan juru foto.

"Mama!" Protes Rahma.

"Mbak ga mau foto berdua sama aku?" tanya Adi tiba-tiba. Ucapan Adi membuat jantung Rahma berdetak sangat keras. Friska hanya bisa menatap mereka dengan kecewa. Adi tidak bermaksud lebih, ia hanya ingin mengabadikan momen ini karena setelah pindah ke Aceh, ia tak mungkin mengalami momen seperti ini lagi.

"Tuh ditanya sama..."

"Adinata tante," Adi memperkenalkan diri.

"Sama Adinata. Kamu menolak foto sama dia?" kata Weni menggoda anaknya. Rahma akhirnya mengiyakan lalu mereka berfoto berdua.

Celana Dalam Merah MudaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang