Pernahkah kalian mendengar detak jatungmu berdetak begitu keras sehingga terasa sampai gendang telinga, begitulah yang Adi rasakan kala ini. Optimisme untuk mengajak Rahma pergi menghabisi waktu bersama tetap kalah dengan hati Adi yang tidak bisa bohong kalau dia benar benar merasa ada yang beda dengan dirinya. Adi tak menyangka tangan gadis yang lebih tua darinya begitu lembut. Tangan Adi selalu bergetar karena merasa canggung namun setiap tangan Adi mulai bergetar lebih keras Rahma selalu menguatkan genggaman tangannya sehingga Adi merasa lenih nyaman.
"Kita mau kemana Di?" kata Rahma malu malu.
"Kesuatu tempat yang, hmmm ... entahlah Mbak, tapi aku selalu suka tempat ini dari dulu," kata Adi menjawab tidak terlalu spesifik. Rahma mencoba menebak nebak kemana Adi akan mengajaknya, namun dia agak susah karena belum menganal Adi terlalu jauh.
"Jauh?" tanya Rahma lagi.
"Tinggi" jawab Adi sambil tersenyum misterius. Rahma mengernyitkan dahinya bingung.
"Kita naik apa?" tanya Rahma Adi tidak menjawab, Rahma tampak tambah bingung. Mereka masih berjalan keluar dari Mall itu sambil bergandengan tangan.
"Taxi!" panggil adi setelah mereka sudah berada di depan Mall.
"Kita Naik taksi mbak" kata Adi, Adi membukakan pintu untuk Rahma, lalu Rahm tanpa bertanya masuk kedalam Taksi itu diikuti Adi.
"Brawijaya Pak" bisik Adi kepada sopir taksi itu agar Rahma tidak mendengar.
"Hi hi hi hi hu" sopir taksi itu tertawa cekikian.
"Kenapa Pak?" tanya Adi bingung.
"Geli mas Hi hi hi hi" kata Sopir taksi itu.
"Ya elah Pak, tapi bapak dengar kan tujuan aku tadi" tanya Adi.
"Dengar Kok mas, Brawaijaya kan?"kata Sopir itu tanpa rasa bersalah.
"Lah Pak kok diomongin keras keras? Percuma dong aku bisikin bapak, mbak disamping aki jadi dengar kan" protes Adi kesal.
"Maap Mas, bapak kira ga pake rahasia rahasiaan. Mas mau buat surpreesss ya mas buat pacarnya" kata supir taksi itu cengengesan.
"Terserah bapak deh" kata Adi males. Adi sudah cukup sering bertemu supir taksi aneh jadi dia tidak mau meladeni bapak satu ini.
"Mbak'e pernah dibisikan kayak tadi ga sama mas'nya. Wennak Loh mbak, geli geli gimana gitu" kata sopir itu malah terdengar seperti bapak bapak homo.
"Pak sudah Pak, kita bisa cepet ke brawijaya ga Pak, ini kami udah telat" kata Adi seolah olah sedang dikajar waktu.
"Siap Mas" kata sopir taksi itu.
"Kita beneran kekampus Di?" tanya Rahma yang dari tadi tampak bingung.
Adi agak takut menjawab pertanyaan Rahma karena bisa bisa si sopir taksi nyamber lagi dan ngomong yang enggak enggak.
Adi mendekatkan wajahnya ke telinga Rahma lalu dia berbisik pelan agar si sopir taksi tidak ikut ikutan lagi.
"Ya Mbak, tapi kita jangan ngomong lagi mbak takut si sopir taksi resek ini nyamber lagi kayak bensin ya mbak" kata Adi berbisik, Rahma tersenyum lalu mengangguk.
"Cieee mian bisik bisikan nih ye, gimana Mbak'e geli geli gimana ya, Mas'e ini emang ahli berbisik kan Mbak?" kata Sopir taksi itu langsung nyamber. Adi langsung geleng geleng kepala karena ternyata apa yang dia lakukan malah tambah membuat sopir taksi itu tak berhenti nimbrung.
"Ya pak geli geli gimana gitu" jawab Rahma tiba tiba, Adi yang mendengar Rahma merespon sopir taksi itu dengan kata kata itu langsung tak bisa berkata apa apa. Wajah Adi merah padam saking malunya. Adi tak menyangka saja Rahma malah ikut menggodanya.
"Becanda Adi" kata Rahma balas berbisik kepada Adi.
Semua tubuh Adi langsung merasa merinding aneh, ternyata benar dibisiki oleh lawan jenis ternyata rasanya berbeda, tapi anehnya kenapa sopir taksi itu malah bisa merasakan hal yang sama.
***
Taksi itu berhenti di dalam area kampus, tepatnya di depan sebuah gedung Fakultas Ilmu komputer yang masih dalam proses pengerjaan namun setahun belakangan proyek ini mangkrak. Adi dan Rahma keluar dari taksi tersebut, tangan Adi memegang bungkusan yang berisi makanan ringan yang cukup banyak yang mereka beli tadi di jalan. Adi mendongakkan kepalanyake ke atas gedung berlantai 11 itu, Rahma tampak bingung dengan tingkah Adi.
"Disini" tanya Rahma bingung.
"Bukan Mbak, Tapi disana" Kata Adi menunjuk ke atas gedung berlantai sebelas itu.
"Kamu ga sedang bercanda kan Adi ?" tanya Rahma tampak ragu.
"No, aku serius mbak, ini gedung tertinggi yang ada di daerah sekitar kampus, dan diatas sana kita bisa melihat semua tempat yang ada di sekitar area kampus" kata Adi bercerita dengan semangat.
"Memang pihak kampus ga melarang kita naik keatas Di ?" tanya Rahma khawatir.
"Selama ini pihak kampus ga melarang" jawab Adi.
"Bukannya mereka harusnya melarang karena naik kesana kan cukup bahaya" kata Rahma menceramahi.
"Mereka tidak melarang karena mereka tidak pernah tahu kalau ada mahasiswa yang sering ke atas sana" Kata adi sambil tersenyum.
"Pasti bahaya Di, bisa bisa kita jatuh" Rahma takut.
"Buktinya aku masih disini Mbak tanpa cacar sedikitpun, jadi cukup aman kan?" kata Adi meyakinkan Rahma.
"Aku ga mau kesana Di" kata Rahma takut.
"Hal paling nakal apa yang pernah Mbak Rahma lakukan apa ?" tanya Adi.
"Hmmmmmm" Rahma terlihat berikir keras.
"Oke tet tot waktu habis, jawabannya ?"
"mematahkan tangan teman cowokku waktu aku masih SD" jawab Rahma sambil terlihat berfikir mengingat ingat kenangan itu.
"Whaatt ? mematahkan tangan orang ?" kata Adi kaget mendengar pengakuan Rahma.
"Mbak ga bercanda kan ?" lanjut Adi yang masih takjub mendengar kata rahma.
"Aku melakukannya karena dia selalu memaksaku untuk berkenalan sambil bersalaman dengannya, tapi aku menolak dan dia terus memaksa aku wajar dong aku mematahkan tangannya" kata Rahma yang terlihat tidak bersalah.
"E e.. bukannya teman Mbak itu cuman mau berkenalan dengan Mbak aja kan, kenapa harus sampai tangannya di patahin ?" kata Adi sambil tertawa takut melihat Rahma.
"Entahlah mungkin karena aku merasa terganggu bila ada cowok yang mencoba sok akrab kepadaku" kata Rahma spontan,
"Berarti peluang tangannku patah juga masih ada ya Mbak ?" tanya Adi yang tersenyum kepada Rahma.
"Entahlah Adi, tapi sejak pertama bertemu kamu, aku tak pernah merasa terganggu dengan kehadirannmu" jawab Rahma dalam hati, kata kata itu hanya terlontar dalam benaknya saja tanpa berani di ucapkannya.
"Makanya kamu harus waspada ya?" Goda Rahma.
"Siap Mbak, aku rasa mematahkan tangan seseorang masih lebih ekstrem dari pada hanya naik ke gedung kosong itu mbak" kata Adi bertanya kepada Rahma.
"Entahlah Di" Rahma masih terlihar ragu.
"Aku yakin Mbak ga akan menyesal kalo sudah sampai di atas sana" Adi mencoba meyakinkan.
"Ok, tapi kalau ditengah jalan aku ragu kita turun ya" kata Rahma.
"Ya mbak, tapi setelah Mbak matahin tangan aku dulu" kata adi sambil tertawa.
"Berarti kita harus berjalan sampai puncak gedung itu, karena aku tidak mungkin tega melukaimu Di" begitulah kesimpulan Rahma yang dia ucuapkan dalam hati, yang hanya bisa dia tunjukan dengan senyum saja kepada Adi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Celana Dalam Merah Muda
HumorCelana Dalam? Sebuah penemuan manusia yang kini mungkin berubah menjadi salah satu pusaka keramat yang identik dengan hal-hal yang tabu. Bagaimana jadinya bila seorang mahasiswa baru menemukan segempok celana dalam dalam bungkusan plastik yang t...
