8. Rencana sang pencipta

11.1K 692 5
                                    


Pukul 22.25

Lengang, sepi, tidak nampak satupun homo sapiens selain seorang gadis yang seharusnya tidak berada di tempat sesepi ini, beberapa kali sang gadis menatap jam tangan yang menempel di lengan kirinya.

"Aku bilang jam sepuluh teng! Ini sudah mau jam setengah sebelas lagi." keluh gadis itu. Bagi seorang gadis muda yang baru saja menginjak kepala dua, harusnya Friska was-was berada di gazebo kampus semalam ini. Apalagi gazebo tempat Friska membuat janji jarang sekali dipakai nongkrong oleh para musyafir pencari sinyal Wifi Gratisan. Alasan utamanya jelas karena disana tidak ada colokkan listrik, selain itu lampu gazebo itu cukup gelap untuk di pakai belajar. Ada sedikit kekhawatiran di dalam hati Friska kalau ternyata cowok yang membuat janji dengannya tadi tidak akan datang malam itu.

"Lima menit lagi." Friska bergumam sendiri untuk mengurangi rasa takut tapi semangatnya agar celana dalam merah muda itu kembali membuat semua perasaan khawatir akan keselamatannya berangsur hilang.

Tak... Tak... Tak...

Terdengar suara langkah kaki dengan tempo yang cepat. Friska yang dari tadi hanya mendengar keheningan malam mulai memasang kuda-kuda siaga, tangan kanannya memegang pisau lipat sedangkan yang tangan kirinya memegang hair spray kecil. Ia sudah cukup siap bila terjadi hal yang tidak dia inginkan.

Berapa kali Friska coba mencari arah suara kaki yang semakin lama semakin mendekat itu.

"Apa aku pulang aja ya?" Batinnya. Kini dia mulai merasa was-was. Friska mulai sadar aksi nekatnya ini tidak beralasan, kenapa dia harus bertemu dengan orang asing hanya untuk mengambil celana dalamnya yang hilang. Kenapa tidak menyuruhnya ke kost atau bisa saja dia menemuinya di kampus. Suara hati friska terus membuat dirinya tambah ragu dengan keputusan yang dia buat sendiri.

Dari kejauhan tampak seorang pemuda berlari mendekati Friska. Pemuda itu berhenti seperti sedang mencari sesuatu seketika dia tersenyum seolah menemukan apa yang dicarinya. Kini pemuda itu memandang kearah Friska yang dari tadi berdiri di dekat gazebo. Pria itu langsung berlari menghampiri Friska

"Maaf Maaf.." kata pemuda itu lelah. Kedua tangannya lurus memegang lutut untuk menopang tubuhnya yang kini lemas merunduk dengan nafas yang tersengal sengal. Wajahnya menghadap kebawah untuk memudahkan dia mengambil nafas.

"kKamu?" Kata Friska ragu. Ia mencoba memastikan bahwa pemuda itu adalah pemuda yang di telfon tadi.

"Ya aku yang di telfon tadi. Maaf aku tadi turun di gerbang depan dan ternyata taksi ngga boleh masuk jadi aku lari karena takut telat. Susah banget cari taksi jam segini di malang," Jawab pemuda itu. Wajahnya masih menghadap kebawah sambil mengatur nafas, Friska masih belum melihat tampang dari pemuda itu. 

"Mana ?" Kata Friska menanyakan barang yang akan dikembalikan pemuda itu, ada sedikit rasa bersalah karena telah memaksa pemuda itu untuk datang semalam ini dan menduga tempat tinggal pemuda itu cukup jauh.

"Ini" Jawab pemuda itu mengulurkan tangannya memberi kresek berisi celana dalam merah muda berenda. Friska dengan agak ragu mengambilnya.

"Sebelumnya aku minta maaf. Aku ngga apa-apain barang kamu kok. Semua masih  lengkap, aku hanya berniat mengembalikannya," lanjut pemuda itu.

"Eh anu oke Ya... Ya" Kata Friska merasa tidak enak karena menuduh pemuda itu macam macam.

Pemuda itu mengangkat wajahnya, staminanya perlahan mulai kembali. Friska menatap Wajah pemuda itu dengan seksama. Sepertinya sosok itu pernah dilihatnya di suatu tempat namun saat dia mengingat Rahma dia seperti tahu siapa pemuda itu.

"Kamu yang tadi siang sama Mbak Rahma kan"

"Apaaah ?" Kata Adi menatap Friska bingung.

***

Celana Dalam Merah MudaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang