34. Zona Aman

5.9K 318 8
                                    

Adi menatap kosong dari kursi ruang kuliah paling belakang. Adi bersikap seolah sedang mencatat hal-hal penting yang telah ditulisakan dosen. Dery sejak tadi memandang Adi dari kejauhan, berapa saat setelah dosen keluar dari ruang kuliah, Dery langsung bergegas menuju kursi tampat Adi duduk.

"Ini pinjam catatanku aja," Dery memberikan buku catatannya kepada Adi. Adi tampak kaget lalu langsung bergegas melihat papan tulis yang ternyata sudah putih bersih. Dery tersenyum seraya menarik salah satu kursi lalu duduk di dekat Adi.

"Kaget ya papannya udah kosong," Dery menatap Adi sedikit khawatir. Ini bukan pertama kalinya Adi melamun sampai lupa keadaan sekitar. Berapa hari yang lalu Adi pernah membuat dosen marah karena hanya bergeming ketika ditanya.

Adi menghela nafas dengan berat, pemuda itu lalu merapikan bukunya kedalam ransel dengan cepat. "Di setelah ini kita masih ada kuliah di ruangan ini juga," kata Dery mengingatkan, lagi-lagi tingkah Adi membuat gadis ini khawatir. "Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Dery lembut.

"Aku lupa" jawab Adi singkat. "Kamu pasti khwatir?" tanya Adi sambil menatap Dery lembut. "Tenang aku tidak apa-apa," lanjut Adi lagi. Dery hanya bisa menatap Adi dengan tatapan sayu berharap apa yang dikatakan Adi memang benar bahwa pemuda itu memang tidak apa-apa.

"Di Adi," sapa Wendy yang duduk tidak jauh dari tempat Adi. Adi dan Dery langsung menoleh kearah pemuda yang mulai mencolok belakangan ini. Suara Wendy tentu memecah suasana Adi dan Dery yang tadi cukup serius.

"Website jualan kamu kok masih kosong aja Di?" tanya Wendi seraya duduk di depan Adi.

"Yah aku belum sempat menambah stock lagi Wen. Mungkin minggu depan." Jawab Adi seadanya. Sesekali Adi melirik Febri yang sedang bekumpul dengan kawan-kawannya yang lain. Tidak adanya Febri dalam bisnis pakaian dalam Adi membuat Adi kewalahan untuk mengurus semua itu.

"Udah samperin aja Di, kalau kamu diam aja hubungan kalian akan tetap seperti ini," kata Wendi dengan suara yang agak kemayu.

"Hah?" respon Adi pura-pura tidak mengerti.

"Semua orang sudah tahu Di kalau kamu dan Febri sedang ada masalah," lanjut Wendy. Adi hanya bergeming, entah kenapa dia tidak ingin membahas masalahnya dengan Febri dengan orang lain.

Wendi kini tampak lebih serius dari biasanya, dia menatap Adi penuh harap. "Sudah tiga bulan kalian seperti ini tapi aku masih belum terbiasa melihat kamu enggak sasa-sama Febri lagi Di. Apa masalah kalian sebegitu rumit?"

"Febri sekarang juga berubah, kelihatannya lebih laki. Walaupun aku lebih suka Febri yang dulu," keluh Wendi. Adi tampak kesal dengan opini Wendi tentang Febri.

"Setiap orang berhak berubah," ketus Adi. Wendy menangkap kekesalan Adi sehingga dia tidak ingin memperpanjang obrolan tentang Febri.

"Benar Di, semua orang berhak berubah seperti kamu yang berduaan terus sama Dery, cie cie" goda Wendi kekanak-kanakan. Wendi mengkedip-kedipkan matanya kearah kedua sejoli yang tampak sangat dekat tiga bulan belakangan ini.

Nyesss.... Sebuah cubitan keras mendarat di lengan Wendi. Tangan Dery menyerang Wendi dengan cubitan bertubi-tubi. "Duh Aduh... sakit Der, ih.."

"Kamu sih kayak anak kecil aja pake main cie cie segala,"

"Bodo, yang aku omongin fakta loh," kata Wendi dengan tingkah kemayunya.

"Udah pergi sana!" usir Dery yang kesal dengan tingkah Wendi, ucapan Wendi membuat Dery tidak nyaman di dekat Adi.

"Uhuy enggak mau diganggu pacaran ya? Iya kan?" lanjut Wendi menggoda, kini Wendi lebih waspada karena takut mendapat cubitan lagi oleh Dery.

"Siapa yang pacaran sih pergi sana," usir Dery. Wendi akhirnya pergi sambil sesekali menggoda Dery dangan membuat simbol hati dengan kedua tangannya.

Celana Dalam Merah MudaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang